
Indah mulai berpamitan untuk segera keluar dari kamar sang adik, ia menepuk bahu Anna beberapa kali dan berkata, " Kakak harap kamu memilih sesuai hati kamu."
Ana hanya menundukkan wajah setelah kepergian sang kakak meninggalkan kamarnya, kepergian sang kakak sudah tak terlihat lagi. membuat anak menutup pintu kamar. Ia kini kembali duduk di atas kasur, memijat kepalanya yang terasa sedikit berdenyut, merasakan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Ana menatap ke arah jendela, terlihat sekali bayangan Galih menebus cahaya di luar jendela kamarnya sendiri, kedua mata Anna membulat, tanganya terus mengusap kedua mata berharap itu hanya ilusi pikiranya sesaat.
Bayangan itu kini hilang dengan sekejap mata, Ana mulai bangkit dari kasur untuk melihat ke arah jendela. Iya perlahan membuka jendela kamarnya, hanya pemandangan malam yang terlihat oleh kedua mata, angin berhembus membuat dedaunan saling beriringan, bintang-bintang berkelip begitupun bulan yang terang bercahaya menerangi setiap isi bumi.
Benar apa yang dilihat Anna, itu hanyalah sebuah ilusi, sesaat yang datang seperti memberi saran untuk memilih.
"Apa ilusi itu menunjukkan aku harus menerima lamaran Pak Galih? "
Ana mulai berjalan kembali ke ranjang kasurnya untuk segera merebahkan tubuh, ya kini sudah matang dengan jawabannya.
Walau Sebenarnya ada hal yang masih diragukan pada hatinya, tapi seketika ia tepis begitu saja, karena dirinya yang butuh sosok pelindung, dan juga lelaki sebagai pengganti Ayah untuk anak-anaknya. Iya juga tahu jika Galih adalah sosok lelaki idaman, lelaki berparas tampan, dengan tubuh kekar. Dan juga baik hati. Wanita mana yang tidak akan tergoda dengannya dia lelaki kaya raya yang mempunyai segalanya.
Ana mulai menutup kedua matanya untuk segera tidur, Karena besok dia sudah sibuk harus secepatnya mengurus restoran dan juga kasus Daniel.
******
Saat Ana membuka kedua matanya di pagi hari, saat itulah Indah datang membangunkan sang adik yang ternyata masih terbaring di atas kasur.
"Anna, kamu ngapain masih di tempat tidur? Pak Galih sudah ada di bawah, dia sepertinya menjemput kamu. "
Anna kini bangun dengan kedua mata yang masih tertumpuk dengan mutiara, ia kaget saat sang kakak mengatakan jika Galih sudah menunggunya di pagi hari.
Dengan terburu buru melepaskan selimut, bangkit menuju kamar mandi.
Dengan gesitnya ia mandi, handuk yang melingkar pada badan Anna seperti tiada arti, karena tubuh Anna yang basah dengan percikan air.
Segera mungkin memilih baju, Anna mulai duduk dan mengeringkan rambut.
di pagi hari ia benar-benar disibukkan dengan kedatangan Galih, membuat iya seperti kewalahan untuk merias wajah dengan make up.
Penampilan Anna pun kini sudah selesai, saatnya ia turun ke bawah melihat Galih yang mungkin sudah lama menunggunya dari tadi.
__ADS_1
Seketika ruang tamu hening seperti tidak ada siapa-siapa, Anna tak melihat keberadaan Galih yang menunggunya.
Menengok ke sana ke mari, Anna tetap saja tak melihat keberadaan Galih," kemana Pak Galih? Bukanya kata kak Indah dia menungguku dari tadi pagi.
sosok seorang kakak kini datang menghampiri sang adik, Indah melipatkan kedua tanganya dengan raut wajah bahagia.
"Ngapai kakak senyum senyum gitu, oh ya. Dimana Pak Galih? "
Pertanyaan Anna membuat Indah tertawa terbahak-bahak, mana yang melihat tawa sang kakak kini mengerutkan dahinya.
"Kakak ini aneh, aku tanya malah tertawa. Memangnya ada yang lucu apa? "
Anna mulai melewati sang kakak dengan sengaja menyenggolnya, perlahan ia mulai bertanya pada Bu Nun, pembantu di rumah.
"Bi, tadi bibi liat Pak Galih di sini nunggui saya? "
Pertanyaan Anna membuat wanita tua itu menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal," Pak Galih? dari tadi pagi , di sini nggak ada orang, Nyonya."
Ana terdiam sejenak setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut pembantunya itu, dia melibatkan kedua tangan menatap ke arah kursi.
Ana mulai melirik ke arah belakang, di mana ia melihat sang kakak sudah tak ada lagi di belakangnya." Kak Indah kemana? Ini tidak beres, sepertinya kak Indah mengerjai adiknya sendiri."
Mbok Nun, yang melihat sang Nyonya diam memikirkan hal yang tidak ia tahu, kini berpamitan untuk segera pergi ke dapur, menyiapkan sarapan untuk keluarga Anna.
"Nyonya saya mau pamit ke dapur dulu."
Anna menganggukkan kepala mempersilahkan pembantunya untuk mengerjakan tugasnya di rumah.
Saat itulah Ana mulai mencari keberadaan sang kakak. Di mana kini Anna menarik tangan kakaknya yang tengah bermain dengan anak ketiganya, yaitu Lulu. " Kak Indah."
Baru saja Ana mulai meluapkan kekesalannya di depan sang kakak, tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi. Di mana seseorang datang ke rumah Anna, Mbok Nun, seorang pembantu yang baru saja memulai untuk memasak. Kini bergegas berlari untuk melihat keluar rumah siapa tamu yang datang dipagi hari.
"Annanya ada enggak Mbok? " tanya lelaki berhidung mancung dengan menampillan senyumanya yang lebar.
"Ada pak! Silahkan masuk biar saya panggilkan dulu Nyonya! " jawab siMbok dengan mempersilahkan tamu duduk di kursi.
__ADS_1
Dengan berlari tergopoh gopoh, pada akhinya si Mbok memanggil Anna majikkannya.
Tok, tok.
Ketukan pintu dilayangkan Mbok Nun, Anna yang memulai memarahi Indah sang kakak karna berani membohonginya, kini dikejutkan dengan teriakan Mbok Nun, dimana ia berkata ada tamu lelaki datang ke rumah.
"Tamu, siapa? "
Indah mulai menjawab perkataan adiknya," Ya siapa lagi kalau bukan, Galih!"
Deg ....
Mendengar nama Galih, hati Anna terasa tak karuan, ia kini mengurungkan niatnya untuk memarahi sang kakak, membalikan badan, mulai berjalan untuk melihat tamu yang datang.
Sedangkan Indah yang memang terkesan jahil, kini berteriak, "semoga sukses adikku. "
Perkataan kakaknya itu membuat kedua pipi Ana memerah, "apa sih Kak ,nggak jelas banget. "
Indah yang mendengar balasan dari adiknya, tertawa terbahak-bahak, perlahan saat Ana mulai turun dari anak tangga. Di saat itulah tatapan kedua Insan beradu, apa yang dikatakan Indah memang benar ternyata Galih datang.
Galih berdiri menyambut Anna yang kini turun dari anak tangga, "Anna."
Anna yang masih dengan kedua pipinya memerah, tersenyum dan terlihat canggung.
"Pak Galih. "
"Kamu cantik, An. "
Tidak biasanya lelaki yang berada dihadapan Anna memujinya berulang kali, apakah ini yang dinamakan cinta. Tapi untuk Anna yang sudah mempunyai anak tiga berasa tak pantas mengatakan cinta.
"Terima kasih pujianya, pak. "
Pak Galih mulai mengajak Anna untuk menaiki mobilnya, dimana itu suatu kesempatan Galih mendengar jawaban Anna yang sesungguhnya.
Hanya saja entah kenapa Anna ingin melirik ke arah belakang, dimana ternyata sang kakak tersenyum sembari menujukkan jempolnya, dimana sebuah isarat, " Semoga berhasil. "
__ADS_1