
Setelah kejadian kemarin, aku duduk melamun di kursi memikirkan nasib Radit, apa aku harus menemui anakku dan melaporkan semuanya pada polisi, jelas aku melihat tangan Radit seperti bekas penganiayaan kemarin.
"Kamu kenapa, Anna?"
"Kak Indah!"
Aku menatap ke arah wanita dengan baju tidurnya, kini mendekat ke arahku," Dari tadi kamu melamun terus, apa yang kamu pikirkan?"
"Tadi aku melihat Mas Raka dengan Radit!" balasku dengan tatapan sayu, masih tersirat dari lubuk hati ini yang sangat dalam. Bahwa aku benar benar menghuatirkan Radit saat ini, tak tenang dengan keadaan anak keduaku.
"Terus, keadana Radit bagaimana sekarang?" tanya Kak Indah kepadaku, aku tak mau membuat kakaku bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Radit baik baik saja, besok aku akan ke sana, Sembari mengawali usahaku!" balasku pada Kak Indah.
"Sebenarnya kakak takut jika Raka, malah menyiksa Radit, seperti kejadian kemarin." ucap kak Indah. Ketakutan kak Indah memang tengah aku pikirkan sekarang.
"Kakak tak usah kuatir, Ya." balasku pada Kak Indah.
"Ya sudah, kamu cepat istirahat, besokkan kamu mulai mengawali bisnismu, kakak enggak nyangka. Bisnismu bisa terbantu dengan Pak Galih, kamu ini wanita yang paling beruntung loh An, bisa mengawali bisnis tanpa harus cape cape berjuang."
Apa yang dikatakan Kak Indah memang benar, hidupku begitu mudah. Tanpa harus lelah mengawali usaha sendiri. Hanya dengan sekejap mata, lelaki bernama Pak Galih begitu banyak membantuku, lelaki itu tak pernah mengeluh sedikitpun. Ia rela membangi waktu pekerjaanya dan menolongku.
Walau pun begitu banyak orang orang yang menggap kami seperti tak tahu malu, karna sering berjalan duaan. Padahal kami berdua, hanya rekan bisnis dan tak lebih.
"Apa yang dikatakan Kak Indah memang benar, aku bergitu beruntung bisa menyelesaikan masalah dengan bantuan Pak Galih," balasku pada kak Indah. Senyumanya kini mengembang ia menunjukkan sesuatu kepadaku.
"Apa ini?"
"Kamu lihat!"
Kedua mataku membulat setelah melihat video dimana Siren berdebat dengan Mas Danu.
"Dari mana kakak dapat Video itu?"
Aku bertanya dengan harapan Kak Indah menceritakan semuanya. Karna dalam video itu perdebatan sungguh lucu.
@@@@
"Sebenarnya Kakak itu iseng mengirim video ini pada Mas Danu, sampai dimana Mas Danu mengatakan jika Kakak berbohong. Hanya saja kakak bilang, kalau memang tak percaya silahkan cari tahu sendiri."
Aku tertawa terbahak bahak, dimana Kak Indah menceritakan kejailanya." Terus, kak."
"Diwaktu yang sama, kak Indah memergoki Mas Danu memarahi Siren dengan lelaki yang kita lihat di penjara. Ya sudah saat itulah kakak rekam, jujur saja ada rasa kasihan."
"Mmz alah tak usah kasihan kasihan, kak. Biarkan saja wanita muda berbau pelakor itu menerima ganjarannya, terkadang kita juga harus lebih pintar dari wanita seperti dia."
"Apa yang dikatakan kamu memang benar, An. Tapi kakak keterlaluan enggak sih."
__ADS_1
"Kakak itu sudah hebat, level dewa, Kakak bisa membuat si Siren menerima ganjaranya. Kalau kita menunggu datangnya karma yang ada kita bulukan kak. Mau kakak terus di injak injak harga dirinya oleh mereka."
"Ya enggak juga sih."
"Ya sudah, makanya kakak sekarang pikirkan kedepanya mau gimana lagi?"
Aku menghelap napas, berusaha menasehati kakaku.
"Oh, ya An. Tumben kamu pinter."
Menatap ke arah wajah kakaku," ya memang kak, dulu kan aku bodo. Sekarang aku enggak mau menjadi bahan olokan, aku ingin membuktikan diriku bahwa aku bisa berubah, dimana dulu aku diperlarat oleh Mas Raka. Di permainkan di saat aku hilang ingatan."
"Oh ya, kasus Daniel gimana?"
"Membahas Daniel, aku bingung kak. Adiknya tidak bisa di bawa ngobrol dengan tenang, ia seakan salah paham kepadaku!"
"Maksud kamu?"
"Dia bilang aku harus mati, karna aku yang sudah membuat kecelakaan itu terjadi! Aku juga tak paham, sebenarnya Daniel itu masih hidup apa sudah mati. Jika sudah mati, kenapa tidak ada berita tentang kecelakaan itu terjadi, kemana beritanya. Siapa sebenarnya dalang dari semua ini."
"Kakak curiga dengan Raka dan ibu mertuanya. Jangan jangan mereka. kamu laporkan saja merek, An."
"Tapi kak, aku tidak punya bukti yang kuat, jika Raka pelakunya, kemungkinan besar dia orang kaya. Punya mobil rumah besar, yang sedangkan aku lihat kenyataanya, dia lelaki desa sederhana, dan kedua orang tuanya hanya sebagai pertani."
"Benar apa yang kamu katakan, seharunya dia itu kaya raya?"
" Lulu, sayang kamu kenapa?"
Anakku menangis sembari menunjuk nunjuk jendela kamar, ia seperti ketakutan.
"Ada apa, An? Tidak biasanya ia menangis?"
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu terdengar keras. Membuat kakak Indah berlari. Untuk membuka pintu depan rumah.
Aku yang berusaha menenangkan Lulu, penasaran siapa tengah malam begini mengetuk pintu.
Tatap tenang. Brukkk, apa lagi itu? Saat menyusui anakku hati ini, benar benar tak tenang. Membuat aku memeluk erat Lulu, takut jika Lulu menangis kembali.
Setelah Lulu tenang, aku mulai menghampiri Kak Indah.
"Kak."
"Kak Indah."
Tak ada jawaban, pada akhirnya anakku Lulu menangis kembali.
__ADS_1
"Lulu, kenapa lagi dia?"
Aku berlari kembali, kenapa malam ini sungguh menyeramkan, membuat aku mengingat kata kata Deni, aku akan membunuhmu.
Aku takut, kupeluk anakku erat erat, hingga dimana.
Brukk ....
Tangan bergetar, kak Indah belum juga kembali, membuat aku meraih ponsel menelepon seseorang yang selalu membantuku disaat aku mempunyai masalah.
"Angkat, ayolah Pak. Aku sangat membutuhkan anda saat ini."
Beberapa kali menelepon, Pak Galih. Lelaki berkumis tipis itu tak mengangkat panggilan teleponku.
Dengan keberanian, aku mulai berjalan, sembari membopong tubuh mungil anakku.
"Kak Indah."
"Anna."
Tangan memengang bahuku, hingga aku menjerit.
"Ahkkkkk."
"Anna, sadar. Kamu ini kenapa?"
Aku melihat tubuh kakaku memastikan tidak ada yang luka sedikit pun.
Membolak balikkan tubuh kak Indah membuat ia berkata," Anna, kamu ini kenapa?"
"Kakak tidak kenapa kenapakan, Anna takut jika ada orang yang mencelakai kakak."
Kak Indah memegang kedua bahuku dan berkata," tenang Anna."
"Tapi kak."
"Kamu ini terlalu memikirkan ancaman Deni, lelaki yang menjadi adik Daniel. Lupakan ancaman itu agar kamu ini tidak berpikir kemana mana."
"Sepertinya ia kak, aku terlalu memikirkan ancaman Deni, sampai sedikit stres."
"Ya sudah, kamu tenangin dulu hati kamu, sini Lulu biar Kakak yang pegang."
Aku langsung memberikan Lulu kepada Kak Indah, " Ya sudah kak, aku tidur di kamar Farhan saja."
Aku mulai berjalan dengan tubuh terasa lemas, mungkin ia aku ini terlalu kelelahan, karena terus menerus memikirkan kenapa orang orang begitu banyak membenciku.
Dreet .... Ponsel berbunyi.
__ADS_1