
"Tante, kita mau ke mana? Bukanya kita akan tinggal di sini saja, " rengek Lulu seperti tak nyaman, saat Marimar memegang tangan anak itu begitu erat.
Marimar mencoba bersikap tegas." Kamu diam jangan banyak merengek, kalau kamu terus merengek aku buat kamu seperti gelandangan."
Lulu terdiam, kedua matanya berkaca-kaca. Setelah mendengar apa yang dikatakan Marimar, seperti sebuah ancaman untuk dirinya, agar Lulu tetap menurut dan tidak cengeng.
Samsul memberhentikan mobilnya di depan sang nyonya, dengan terburu-buru wanita bertubuh ramping itu naik dengan memegang erat tangan mungil anak berumur 3 tahun.
"Kita ke mana, nyonya?"
Terlihat dari kaca depan mobil, sang nyonya tengah sibuk memainkan ponselnya. Ternyata iya tengah sibuk mengirim pesan dengan orang luar negeri yang akan membeli Lulu, mayoritas pembeli adalah seorang bule.
Mereka senang dengan anak-anak yang selalu dibawa oleh Marimar, Marimar selalu membawakan anak-anak yang begitu bersih dan cantik.
Pertanyaan, Samsul belum dijawab juga oleh Marimar, sampai di mana. Marimar menaruh ponselnya ke dalam tas.
"Antarkan saya ke hotel."
"Baik Nyonya."
Samsul tak tega melihat raut wajah anak berumur 3 tahun itu, ia ingin sekali membawa kabur Lulu.
Tapi apa daya iya hanya seorang sopir, dan masih membutuhkan pekerjaan. Jika ia menolong Lulu, bagaimana nasib keluarganya yang masih bergantung padanya, adik adik Samsul butuh uang sekolah, karena sang ayah yang sudah meninggal dunia.
Mereka sampai di Hotel ternama, di mana Marimar memegang tangan mungil Lulu, Samsul hanya seorang, iya tak bisa mengikuti mereka berdua. Karena rasa takut, dan rasa tak percaya diri.
"Kasihan neng, Lulu. Ya harus bagaimana lagi."
Samsul menarik napas, mengeluarkan secara perlahan, ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Menunggu Sang Nyonya datang kembali.
__ADS_1
"Ini di hotel," ucap Lulu menatap ke arah ruangan yang ia masuki, entah maksud apa Marimar membawa anak berumur 3 tahun itu ke tempat yang terlihat begitu mewah.
"Ya, Lulu. Nanti kamu akan bertemu dengan sosok seorang ayah dan ibu yang nantinya akan mengurus kamu, berikan kasih sayang yang begitu lebih terhadap kamu," balas Marimar, iya langsung mempertemukan lulu dengan orang bule yang akan mengadopsinya.
"Loh, bukannya kata Kak Intan, Lulu akan ikut dengan Tante Marimar. Tapi sekarang kenapa Lulu dioper ke sana kemari sih, Lulu kan bukan barang Lulu ini manusia," ucap Lulu, membuat Marimar tersenyum lebar.
"Wah, kamu kecil-kecil sudah pintar berbicara ya, pasti kedua orang tua asuhmu akan suka dengan mulutmu ini yang pandai bicara," balas Marimar, memuji anak yang baru saja ia beli. Dari gadis bernama Intan.
Marimar berharap, jika bayaran Lulu sangatlah besar, karena Intan sudah menerima uang yang cukup lumayan besar dari Marimar.
Dan sekarang waktunya Marimar menerima uang yang ia sudah bayangkan, yang di mana uang itu bernilai sangat besar.
Marimar tak memikirkan perasaan-perasaan anak kecil yang ia jual kepada orang-orang kaya raya. Yang ia pikirkan hanyalah uang dan uang. Karena rasa sakit akibat kemiskinan membuat ia lupa diri.
Wanita bertubuh ramping itu merogoh tas, mengambil ponsel untuk segera menghubungi kedua orang yang akan mengadopsi Lulu.
Lulu tanpa gelisah, ia ketakutan ingin segera pulang, menatap ke arah Marimar membuat Lulu semakin ketakutan, karena kedua mata itu tak pernah lengah terus mengawasi Lulu.
Sampai tak ada kesempatan sedikitpun untuk Lulu kabur dari restoran itu, ia hanya bisa pasrah dan melihat Siapa orang yang akan mengadopsi dirinya.
Lulu berharap jika orang itu menyayangi dirinya, tanpa menyakiti fisiknya sedikitpun.
Kedua orang yang akan membeli Lulu akhirnya datang juga, kedua orang itu menampilkan wajah ramahnya, mereka tersenyum.
"Halo."
Marimar menyapa mereka dengan begitu ramah, mempersilahkan keduanya untuk duduk. Memperkenalkan Lulu pada orang bule yang akan mengadopsinya.
Terlihat sekali kedua orang tua itu sangat menyukai Lulu, apalagi penampilan dan juga fisiknya yang begitu menggemaskan.
__ADS_1
Untuk saja kedua orang itu bisa berbahasa Indonesia, hingga tidak menyulitkan Marimar yang memang kurang pandai berbicara dalam bahasa Inggris.
"Wah, kamu cantik? Siapa namamu?" pertanyaan sosok wanita yang begitu cantik di hadapan Lulu, membuat ia cemberut.
Namun. Marimar malah mencubit pinggang anak itu hingga meringis kesakitan, kedua mata Marimar melototi Lulu agar menjawab perkataan wanita cantik dengan paras bule itu.
Lulu mulai menampilkan senyumannya, yakini menjawab perkataan sosok wanita cantik berwajah bule itu," nama saya Lulu."
Mereka saling menatap satu sama lain, kedua sepasang suami istri yang memang belum mempunyai seorang anak. Hingga mereka berani mengadopsi seseorang anak yang tidak mempunyai orang tua, Kebetulan sekali mereka menyukai orang Indonesia yang terkenal ramah cantik dan juga sopan. Hingga tertarik ingin mengadopsi satu anak perempuan.
"Waw, nama kamu lucu juga."
ketika pujian itu terlontar kembali, Lulu hanya bisa tersenyum menuruti instruksi yang diberikan oleh Marimar ketika di dalam mobil.
Apalagi Lulu harus pandai berbohong jika kedua orang tuanya sudah tiada, dia tak boleh membicarakan kedua orang tuanya walau dalam sengaja ataupun tidak sengaja, Karena semua itu akan membuat petaka untuk Marimar.
Dengan ancaman menakutkan, akhirnya Lulu menuruti semua perkataan Marimar, dari dulu dia selalu pintar dalam usaha jual beli anak maka dari itu hartanya begitu berlimpah.
Tak ada yang bisa menandingi kekayaannya, sampai semua orang menuduh. Jika dia mengikuti pesugihan, untuk bisa menjadi kaya raya, karena memang awal masuk ke Desa Nita Marimar hanya bisa membeli sebuah rumah sederhana hasil dirinya menjual anak kandung sendiri. Perlahan demi perlahan Marimar berjuang keras mencari anak-anak pemulung ataupun anak-anak yang memang tidak mempunyai orang tua, terkadang anak yang sudah mempunyai orang tua juga Marimar jual, asal ada kesepakatan.
Marimar selalu mendandani anak-anak yang iya temui, sampai semua orang yang membelinya atau mengadopsi sangatlah tertarik.
"Gimana, sesuai permintaan Kalian kan, kalian menginginkan anak perempuan untuk kalian adopsi."
Mereka berdua menganggukkan kepala, mengeluarkan koper, tanpa Marimar meminta uang sepeserpun mereka semua sudah mengerti, " ini uang untuk membeli anak ini."
Marimar menerima 2 koper sekaligus, ia sudah menyangka jika bayaran dulu begitu mahal. Karena anak berumur 3 tahun itu mempunyai Kharisma yang sangat berbeda dari anak-anak sebelumnya yang ia jual.
Marimar menerima uang begitu saja, tanpa ada surat perjanjian ataupun ketidakbolehan apa saja, saat mengadopsi anak yang ia berikan pada orang bule itu.
__ADS_1