
Anna kini terbangun kembali, karena efek obat yang ia konsumsi, membuat rasa lapar menganggu jam tidurnya.
"Kenapa ya, perutku ini lapar terus dari tadi."
Gerutu Anna, masih duduk di ranjang tempat tidur.
Ia mencari Galih, ke sana kamari hanya untuk menyuruhnya membawakan makanan.
Karena di jam malam, Anna tak berani jika harus membangunkan para pembantu di rumah,
ia selalu merasa kasihan dengan para pembantu, jika mengganggu pembantu di jam larut malam. "ke mana ya, Mas Galih."
Anna berusaha beranjak berdiri dari tempat tidurnya, mencari keberadaan sang suami.
"Mas Galih."
Memanggil, keluar kamar, tetap saja tak ada sang suami. " Kemana ya dia."
Anna mencoba mengambil ponselnya, untuk segera menelepon Galih.
********
Galih berada di rumah sakit, masih mendengarkan obrolannya dengan Andi dan juga Ainun, ia tampak murka setelah tahu penyebabnya adalah Intan.
Tak usah susah payah, menyelidiki orang yang sudah ditangkap oleh polisi, karena penyebabnya sudah terungkap.
Andi merasa bersalah, setelah tahu rencana Intan, ia tak bisa menyelamatkan sang sahabat. " Maafkan aku Ainun, tidak bisa menolong kamu."
"Tidak apa-apa Andi, semua sudah terlambat, aku merasa senang jika kamu masih mau membantuku, kita tak usah cape cape mencari biang keladi dari masalah kita ini." ucap Ainun, terlihat ada rasa sedih membekas dalam wajahnya.
Galih tak menyangka jika Intan sampai sekejam itu, membuat suatu masalah yang sangat patal.
"Aku tak akan membiarkan Intan bebas dari jeratan penjara."
Ainun berusaha menahan amarah Galih, dengan berkata." Kamu jangan terlalu kasar sama di Galih, kemungkinan dia dendam karena ulahku."
"Ini tidak bisa dibiarkan, walau dendam padamu. Intan tak pantas berbuat hal semacam itu."
Andi menimpal pekataan Galih," apa yang dikatakan Galih memang benar, Intan tak harus melakukan hal sekeji ini, dia memang pantas di hukum seberat beratnya."
Ainun hanya bisa diam, setelah kedua lelaki dihadapanya ingin memberi pelajaran pada Intan.
__ADS_1
"Sepertinya rekaman ini, akan menjadi bukti kuat untuk Intan masuk ke dalam penjara," ucap Andi. Galih sangatlah setuju.
Dreet ....
Ponsel Galih kini bersuara, merogoh saku celana. Melihat siapa yang menelepon.
"Anna, apa dia mencariku."
Galih nampak panik, karena pergi tak meminta izin pada istrinya.
Ia membiarkan ponselnya berdering, membuat Ainun merasa heran dan berkata." Kenapa teleponnya tak diangkat?" tanya Ainun, Galih hanya diam, tak berani berucap satu patah katapun.
"Tidak kenapa-kenapa!" jawab Galih, ia sebenarnya bingung harus mengatakan hal apa, jika semisalnya Anna menanyakan keberadaannya..
Anna masih terus menghubungi Galih, tapi tetap saja Galih tidak mengangkat panggilan teleponnya.
"Kemana Mas Galih, kenapa dari tadi tak mengangkat panggilan teleponku sama sekali."
Anna merasan kuatir dengan keadaan suaminya, yang tak pamit pergi kepada dirinya.
"Tidak biasanya, Galih seperti ini." Gumam hati Anna.
*********
Farhan terkejut, melihat sosok seorang lelaki tak ia kenal ada di dalam ruangan.
"Siapa dia?"
Ainun melihat anaknya menunjukk Andi kini menjawab!" dia sahabat ibu, yang mau mengungkapkan penyebab masalah ibu saat ini."
Gara gara tertidur karena rasa lelah, ia tak menyadari akan datangnya sosok seorang lelaki masuk ke dalam ruangan sang ibu.
"Ya sudah, papah pulang dulu ya. Farhan, kamu jaga baik ibu kamu," pamit Galih. Pada semua orang yang berada di ruangan Ainun.
Farhan hanya menganggukkan kepala, itu yang diharapkan dia, jika papahnya cepat cepat pulang. Tak harus menunggu sang ibu di rumah sakit.
Karena Farhan tahu, jika mamahnya sangat membutuhkan Galih.
Sedangkan dengan Ainun, ada rasa kecewa. Sorot matanya memperlihatkan kesedihan. Melihat kepulangan Galih, padahal ia begitu ingin ditemani Galih, agar pikiranya tenang, tapi Ainun tak punya hak lebih. Galih bukan siapa siapa dirinya.
Galih melangkahkan kaki, keluar ruangan. Ainun kini memanggil mantan suaminya itu." Galih."
__ADS_1
Lelaki berparas tampan dengan badan kekarnya membalikkan badan menatap ke arah mantan istrinya, " ya kenapa?"
"Hati-hati, ini sudah malam sekali. Apa tidak besok pagi saja pulangnya!" jawab Ainun. Terlihat ada keinginan pada dan hadapan pada Galih.
Ainun berusaha melepaskan, dan melupakan Galih , tapi hatinya tetap saja tak bisa dibohongi. Ia begitu cinta pada Galih.
Farhan mendengar ibunya berkata seperti itu, kini menimpa perkataan Ainun," Maaf Bu kalau misalkan Papa pulang pagi, apa nanti kata mamah Anna di rumah, Kasihan Mama di rumah pasti khawatir dengan papa yang tidak meminta izin untuk datang ke sini."
Farhan adalah anak Ainun, tapi ia begitu mewakili perasaan Anna. Farhan sangat menyayangi perasaan mamahnya, ia tak mau melihat Ana terluka.
"Apa yang di katakan Farhan benar, sebaiknya kamu cepat pulang."
Ainun merasa malu dengan perkataan anaknya.
"Ya sudah, aku pamit pulang dulu ya. Kasihan Anna menungguku di rumah." ucap Galih.
"Ya papah cepat pulang, kasihan mama pasti nuguin papah." balas Farhan.
Dengan terburu-buru pada akhirnya Galih keluar dari ruangan, walau terlihat sekali Ainun begitu menyesali kepergian mantan suami.
Ainun hanya bisa menutupi kesedihannya, jika dirinya tak mau melihat Galih pergi.
Farhan, melihat sang Ibu begitu berharap dengan mantan suami, sampai di mana anak remaja itu memegang tangan sang Ibu dan berkata." Bu, jangan pernah berharap pada papah Galih ya, kasihan mamah Anna, kalau sampai Ibu berharap lagi."
Mendengar Farhan berkata seperti itu, tentu saja membuat Ainun kini sadar dan merasa malu.
Ia hanya tersenyum dan mengusap pelan rambut anaknya.
"Kamu tak usah kuatir Farhan, Ibu juga tidak akan berharap lagi kepada papa kamu, ibu akan berusaha melupakan apa kamu, Ibu tidak ingin merusak kebahagiaan Mamah Anna dan juga papah kamu."
"Syukurlah kalau begitu, Farhan sedikit tenang. Jika ibu tak ada harapan lagi sama papah."
Ainun kembali menyembunyikan luka hatinya, dia memeluk erat tubuh Farhan. Berusaha memegang omongannya, agar tidak berharap kembali kepada mantan suaminya.
Diperjalanan menuju pulang, Galih merasa tenang, melihat Ainun tidak depresi seperti dulu, ia bernapas lega, tak perlu terlalu peduli pada Ainun.
Setelah sampai di rumah.
Anna terlihat gelisah, ia melihat kedatangan suaminya dan bertanya." Kamu habis dari mana sih mas, pergi kenapa tidak ngabarin aku."
Galih berusaha mengatakan semuanya dengan hati merasa tak yakin, " maaf Anna, aku pergi sebentar ke rumah sakit, karena penasaran melihat keadaan Ainun."
__ADS_1
Mengerutkan dahi, setelah mendengar nama Ainun. Anna kini terdiam." kamu tidak marah kan?"
Pertanyaan Galih tentu saja membuat Anna kesal, kenapa sampai bela belaan tengah malam datang ke rumah sakit, hanya ingin menemui mantan istrinya.