Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 257 Enak.


__ADS_3

"Apa jika aku mengaku setan itu akan pergi." Gumam hati Bu Suci. Terlihat raut wajah sudah basah dengan keringat dingin karena menahan rasa takut.


"Aku pura pura jujur saja lah," Gerutu hati Bu Suci dalam situasi apapun Ia tetap ingin membohongi setan yang berpura-pura menghantuinya.


"Kak Suciii. "


Suara Bu Nira kini dilayangkan kembali, wanita yang meniru suara Siti itu, berusaha keras untuk bisa membuat Bu Suci mengakui kesalahannya sendiri.


"Baik baik, Siti. Besok aku akan mengakui semuanya, sebaiknya kamu pergi dari sini jangan ganggu aku lagi tenanglah kamu di alam sana." Teriak Bu Suci berharap jika setan itu pergi dan tak mengganggunya lagi.


Hening ....


Bu Nira menyuruh suruh hanya untuk segera pergi dari rumah Bu suci, Karena pekerjaannya sudah selesai.


Bu Nira ingin lihat hari esok, apa Bu Suci mengakui semuanya kepada orang-orang di kampung, dan membalikkan nama baik Adiknya sendiri.


Saiful yang ternyata sudah pulang, mencari keberadaan ibunya yang ternyata tidak ada di rumah," loh tumben pintu rumah tidak dikunci, kemana ibu?"


"Saiful."


Bu Nira tiba-tiba berdiri di belakang anaknya, Bersama sang suruhan yang masih memakai make up tebal seperti hantu wanita, Saiful yang melihat pemandangan itu tentulah terkejut.


"Juriggg .... "


Saiful berlari ke dalam rumah, membuat Bu Nira dan suruh hanya tertawa terbahak-bahak. Wanita tua itu mencoba tak menceritakan kejahilannya terhadap Bu suci, sebaiknya ia diam saja dan menutupi semuanya.


Jika Bu Nira tak melakukan semua ini, pastinya hidup sang anak akan menderita. Apalagi Saiful sudah mantap dan siap menikahi Nita, Bu Nira tak mau kebahagian anaknya terusik oleh berita kedua orang tua Nita.


Maka dari itu, Bu Nira ingin mengembalikan nama baik Bu Siti dan suaminya, karena dengan cara seperti itulah semua pasti akan teratasi.


Menghampiri sang anak dan bertanya." Bagaimana acara lamarannya, berhasil?"


Bu Nira mengusap pelan punggung anaknya, Saiful ternyata ketakutan sekali dia sok berat melihat wajah tebal bermake up seperti hantu," ada di sam-p-in-g i-bu. "


"Sudahlah di samping ibu tidak ada apa apa kok. Kamu hanya berhalusinasi saja, jangan seperti anak kecil yang cemen hanya karena melihat, sosok hantu."


Mendengar perkataan sang Ibu membuat anaknya bangkit dan kini menatap ke arah wajah wanita tua yang sudah melahirkannya, Saiful melirik ke sana kemari, mencari bahwa di samping ibunya tidak ada apa-apa.

__ADS_1


"Kenapa?"


Menggelangkan kepala dan menjawab." Tidak ada apa apa kok bu!"


"Ya sudah kamu cepat tidur."


Sang ibunda tak lagi bertanya kepada anaknya, ia malah menyuruh Saiful untuk bergegas beristirahat, agar besok Saiful mengajar dengan penuh semangat.


"Ya terima kasih ya, bu."


Bu Nira mulai mematikan kamar sang anak, hinggal di mana Saiful berpesan untuk tidak mematikannya aku di malam hari ini.


Bu Nira sudah mendebak jika anaknya ketakutan, melihat suruhan Nira yang berwajah putih bermata hitam.


"Oke."


********


Pagi hari, saat dimana Bu Suci bangun. Ia melihat rumahnya berantakan dan tak beraturan, dia juga melihat darah bercucuran di atas lantai.


Ada hal yang tak bisa di duga oleh Bu Suci sendiri, ia kira semalam itu hanya mimpi, tapi nyatanya semua itu benar-benar terjadi secara nyata.


"Ternyata semalam itu bukan mimpi, Aku harus bisa melupakan kejadian semalam yang amat mengerikan."


Bu Suci mulai membersihkan lantai dan beberapa genangan air comberan.


Di hari kemarin, hidupnya disulitkan oleh Polisi, ia gagal menjebak Nita. Karena berhadapan dengan Polisi bukanlah hal yang sepele. Maka dari itu, Bu Suci harus mencoba berhati hati, karena kesalahan kemarin itu jangan sampai terulang kembali dalam sejarah hidupnya.


Setelah rapi membereskan semuanya, Bu Suci kini berjalan menuju ke kamar mandi, ia terkejut kembali, melihat sebuah tulisan tangan dengan menggunakan darah." kamu harus mengakui semuanya." itulah sebuah peringatan untuk Bu Suci agar mengakui kesalahannya sendiri.


Bu Suci mencoba tetap tegar, agar tidak terkecoh dengan tulisan dicermin kaca kamar mandinya. Saat mengambil sabun dan juga lap.


Membuat wanita itu menggerutu kesal, karena ternyata stok sabun untuk mencuci sudah habis, dengan keterpaksaan, tubuh yang terasa begitu lemas, membuat Bu Suci memaksakan diri untuk membeli sabun cuci yang akan ia kenakan untuk baju-baju dirinya yang sudah 3 hari tidak di cuci.


Baru saja memasukkan pakaian ke mesin cuci, Bu Suci lupa mengecek dalaman Mesin cucinya.


Dimana darah keluar dari aliran air yang akan Bu Suci gunakan untuk mencuci pakaiannya.

__ADS_1


"Darah. Kenapa bisa?" Bu Suci mengusap- ngusap kedua matanya, agar apa yang ia lihat bukanlah sesuatu yang nyata, beberapa kali mengusap kedua matanya.


Apa yang ia lihat hanyalah sebuah khayalan, kemungkinan karena Bu suci yang kurang beristirahat dari semalam, ia sampai tak tidur hingga di pagi hari.


Padahal badannya masih merasakan rasa lelah yang amat membuat tulang-tulang terasa remuk, Bu Suci terpaksa memaksakan diri, karena rumahnya yang berantakan dan penuh air comberan, entah dari mana itu asalnya.


Kejadian semalam ternyata bukan ilusi, melainkan kenyataan yang begitu akurat. Bagaimana bisa melupakan kejadian semalam.


"Kenapa penampakan semalam, masih terbayang-bayang dalam otakku." Kedua telinga seakan mendengar suara teriakan dan juga tangisan sang adik. Padahal kejadian semalam Bu Suci berusaha berteriak-teriak, tapi tidak ada satupun orang yang menolongnya di malam itu.


Bu Suci melakukan aktivitasnya kembali, sekarang rumahnya bersih dan terlihat nyaman.


Tok .... Tok ....


Suara ketukan pintu terdengar jelas, Bu Suci akhirnya membukakan pintu rumahnya, ternyata ada kiriman paket untuk dirinya.


"Siapa ya?"


Bu Suci melihat anak muda itu membawa sebuah kota kecil, dan diberikan secara langsung kepada bu suci.


"Ada kiriman paket untuk anda."


"Loh, kan aku tidak belanja apa-apa, Kenapa harus menerima paket segala."


"Maaf, bu, saya hanya seorang kurir pengantar kiriman barang orang lain."


"Silahkan Anda terima paket ini, kalau saya ada urusan penting jadi cepat pergi dari sini."


Ternyata Bu Suci selama ini tidak ingin diganggu oleh siapapun, apalagi orang-orang sempat tidak sopan masuk ke dalam rumahnya yang sudah bersih dan tertata rapi'


"Ada kiriman untuk aku."


Terkejut bukan main, setelah mendapatkan uang satu juta.


Perlahan wanita tua itu dengan terpaksa menerima paket dari sang kurir, walau sebenarnya tak jelas Kenapa kurir itu sampai mengirimkan pesanan jauh-jauh ke rumahnya.


"Apa isi kotak ini ya?

__ADS_1


******


__ADS_2