Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 200 Nasib Ainun


__ADS_3

Farhan melihat adik kecilnya menangis di pojok kamar, tangan mungil memeluk lutut. Membuat hati merasa tak tega. Anak remaja berumur sebilan belas tahun itu kini mendekat ke arah Lulu. Perlahan, terdengar suara isak tangis keluar dari mulut mungil Lulu.


Ia melihat adik bungsunya, terlihat seperti tertekan. " Lulu."


Anak kecil berumur tiga tahun, menatap ke arah panggilan sang kakak, ia dengan terburu buru. Mengusap air mata mengalir terus menerus dari ujung matanya. Ada rasa malu dan tak mau orang lain melihat tangisanya saat itu. Tangan Farhan mendekat, memegang pipi cambby Lulu, " anak baik, kenapa menangis?"


Pertanyaan Farhan membuat Lulu menatap tajam ke arah kakak pertamanya, seperti tak ingin diberi sebuah pertanyaan.


"Lulu, kenapa? Coba cerita sama kakak?" tanya kembali Farhan, Lulu terasa terusik, sampai ia menjawab," tak usah pergi sana."


Farhan terkejut dengan sikap adik bungsunya yang berubah, menjadi seorang anak pemarah.


"Kamu kenapa? Kok malah usir kakak. Memangnya kakak punya salah sama Lulu."


Anak kecil itu, menggelangkan kepala. Tak mau menjawab perkataan kakak pertamanya.


Farhan mencoba memberi perhatian pada sang adik, agar anak bungsu Anna mau mengungkapkan isi hatinya.


"Ayo cerita pada kakak, kenapa?"


Pada akhinya mulut mungil itu mengeluarkan suara khasnya.


"Lulu nggak mau diganggu kak, sebaiknya kakak cepat pergi dari sini."


Lulu tetap saja mengusir Farhan, ia tak mau diganggu saat itu, Anak remaja berusia sembilan belas tahun merasa heran dengan perubahan adiknya. Tidak biasanya Lulu sang adik seperti itu, berubah tanpa sebab yang pasti.


Setiap kali di tanya Lulu malah marah, ia tak mau diganggu dan ingin sendiri. Menatap sekilas ke arah sang adik, Farhan dengan terpaksa pergi meninggalkan anak kecil yang menjadi adik bungsunya itu.


Memberi ruang agar bisa berpikir jerni, tapi jika nanti keadaan sudah sedikit tenang dan Lulu bisa diajak bercanda lagi. Farhan akan datang melihat ke adaan adik bungsunya.


"Ya sudah, kalau Lulu nggak bisa jawab pertanyaan kakak, Kakak pergi dulu ya." Megusap pelan kepala rambut sang adik, pada akhirnya Farhan pergi meninggalkan kamar adik bungsunya.


Farhan menatap layar ponsel, dimana satu pesan dari Ainun datang, sang ibu mengirim pesan yang membuat Farhan syok.


"Ibu masuk ke rumah sakit, loh kok bisa. Bukanya kemarin ibu baik baik saja." Gumam hati Farhan.

__ADS_1


Anak muda itu bergegas pergi menaiki mobil, hingga seseorang meneriakinya.


Farhan yang sudah dikuasai kepanikan, tak mempedulikan teriakan orang yang memanggilnya, ia fokus pada sang ibu yang kini berada di rumah sakit.


"Ibu kenapa ya, kok bisa mendadak begini."


Farhan mengendari mobil dengan kecepatan tinggi, ia lupa meminta izin pada kedua orang tuanya karena rasa panik.


"Lupa lagi, minta izin ibu dan bapak. Sudahlah, biar nanti saja Farhan telepon."


*******


Setelah sampai di rumah sakit, Farhan dengan terburu buru, mencari ruangan ibunya. Ia tak sabar ingin melihat ke adaan ibu Ainun.


"Suster, ruangan Ibu Ainun ada dimana ya?" tanya Farhan, kepada sang suster.


Suster itu kini menunjukkan ruangan Ainun di rawat, " ruangan Ibu Ainun ada di nomor 49 ruangan rawat inap,"


"Terima kasih, sus."


"Mudah mudahan, ibu Ainun tidak kenapa kenapa." gumam hati Farhan.


Setelah menemukan ruangan nomor empat sembilan, Farhan melihat sang ibu tengah terbaring di ranjang tempat tidur, terlihat sekali raut wajah pucat Ainun. Membuat Farhan tampak merasa sedih.


Anak muda berumur sembilan belas tahun itu, kini mengusap pelan tangan sang ibunda dan berkata." Sebanarnya ada apa dengan ibu?"


Wanita berhijab putih, kini bangun dari tidurnya. Ia melihat sosok anak lelaki yang tersenyum dihadapannya.


"Farhan, kamu. Nak. Ada di sini." Ainun merasa senang dengan kedatangan anak semata wayangnya, ia melirik ke sana ke mari. Mencari kedatangan Galih.


"Ibu cari siapa?" tanya Farhan, mengerutkan dahi. Melihat sang ibu terlihat kehilangan sesuatu.


Wanita berhijab yang menjadi ibunda Farhan, kini memegang tangan Farhan dan bertanya?" kemana Ayah, kenapa dia tidak datang bersama kamu, Farhan."


Tiba tiba saja Ainun, menanyakan keberadaan Galih. Padahal dihadapanya sudah ada Farhan, entah karena rasa trauma ingin diperhatikan Galih, atau Ainun ingin mengatakan sesuatu saat kejadian tadi malam.

__ADS_1


"Papah sibuk mah, ngurusin Mamah Anna!" jawab Farhan. Ainun menundukkan padangan, terlihat raut wajah kecewa pada dirinya.


"Apa mamah Anna baik baik saja Farhan?" tanya Ainun.


Farhan tersenyum dan menganggukkan kepala menjawab pertanyaan ibunya." Mamah Anna baik baik saja, hanya saja tadi pagi Mamah Anna tiba tiba mual mual, dan Papah mencarikan dokter untuk mamah Anna."


Ainun malah menundukkan pandangan, seperti ada perasaan yang mengaggu hatinya setelah mendengar Farhan menceritakan Ainun.


Dimana Galih begitu perhatian terhadap istrinya, seakan ada rasa iri dalam hati Ainun.


Namun Ainun yang hanya seorang mantan berusaha menepis perasaannya dalam dalam, ia harus ingat pada kebaikan Anna, jika bukan karena dia siapa lagi.


"Ibu, kok. Malah melamun, apa ada yang ibu pikirkan?" tanya Farhan, begitu perhatiannya anak remaja berusia sebilan belas tahun pada ibunya sendiri.


Farhan mendekat, hingga tangan Ainun mengusap pelan kepala rambut anaknya." ibu tidak melamun kok, nak. Ibu hanya merasa tak enak hati saja."


Farhan kini bertanya dengan raut wajah kuatir," kenapa, kok tak enak hati."


"Entahlah."


Ainun kembali menundukkan wajah, memegang dada menahan rasa sesak, pikirannya entah kemana, dari tadi memikirkan Galin terus menerus.


Bibir Ainun sudah tak sabar ingin mencurahkan kejadian tadi malam pada Galih, agar kasusnya segera terungkap, apalagi Ainun sudah diperkosa tentu saja membuat ia ketakutan.


"Ibu, kok melamun lagi?" tanya Farhan, lamunan Ainun membuyar, saat Farhan memegang punggung tangan sang ibunda.


"Farhan, ibu sedikit sakit kepala, apa kamu mau menemani ibu seharian di sini, ibu takut sendirian." Mendengar jawaban dari Ainun, tentu saja membuat Farhan dengan senang hati mau menuruti permintaan ibunya.


"Baiklah, Farhan akan temani ibu di sini, ibu jangan kuatir," ucap Farhan, membuat hati Ainun tenang.


Ainun tersenyum bahagia, mengusap pelan rambut anaknya beberapa kali, ia beruntung bisa mempunyai seorang anak yang memaafkan kesalahannya dan kini menjaga ibunya dengan baik.


"Kamu memang anak baik, Farhan. Ibu beruntung melahirkan kamu di dunia ini. Kalau saja tidak ada kamu bagaimana ibu bisa hidup dan menjalani hari hari sekarang, terima kasih ya nak, ibu sayang sekali Farhan," ucap Ainun, kini memeluk anak remaja satu satunya, ia mencium kening Farhan dengan penuh kasih sayang.


"Farhan juga senang mempunyai ibu secantik, Ibu Ainun," gombal Farhan pada sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2