Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 176 Menyesal.


__ADS_3

Entah apa yang ada di pikiran Bu Sari, ia memikirkan keselamatan anaknya dan tak tahu nanti resiko yang akan dihadapi Ajeng kedepannya bagaimana.


Bu Ayu, hanya bisa menuruti keinginan anaknya. Ia melihat seperti ada tanda kesembuhan jika Ajeng bertemu dengan Raka.


Namun, apakah benar Raka akan menerima Ajeng sepenuhnya tanpa maksud yang lain, hanya itulah yang kini ada di pikiran Bu Ayu.


Pak Aryanto mendekat ke arah sang istri, ia mulai membisikan perkataan yang membuat istrinya menohok." Aku tak nyakin jika kita ketemukan Ajeng dengan Raka, anak kita akan baik saja."


Bu Sari tersenyum lebar, mendekat kearah Ajeng. Mengusap pelan rambut lurus menantunya itu.Tatapan Bu Ayu tak henti menatap kearah Bu Sari, wanita tua yang ternyata pintar dalam drama.


"Apa yang dikatakan bapak, sama dengan pikiran ibu." Bisikan kini dilayangkan oleh Bu Sari.


"Terus apa yang harus kita lakukan," ucap Pak Aryanto, menyimpan rasa ragu yang amat besar.


"Ibu juga bingung, pak, " balas Bu Ayu. Menggenggam erat kedua tangan saling bercengkraman.


Bu Sari mendekat ke arah Bu Ayu dan Pak Aryanto, ia menampilkan senyuman yang menyakinkan, agar kedua orang tua Ajeng percaya dan nyakin dengan apa yang dikatakan Bu Sari.


"Ya sudah bagaimana kalau kita mempertemukan Ajeng dan juga Raka sekarang," ucap Bu Sari. Dengan wajah cerianya.


Ia tak peduli setelah drama, mempertemukan Raka akan seperti apa, yang terpenting Bu Sari sudah berusaha.


Di harapkan Bu Sari sekarang, Raka baik baik terhadap Ajeng, setelah anak semata wayangnya keluar dari dalam penjara dan setelahnya, Bu Sari tak peduli. Karena ia sudah ingin pergi dari kota dan menemui suaminya.


"Ya sudah," jawab Bu Ayu terlihat lesu dan tak bersemangat.


Pak Aryanto kini menimpal perkataan Bu Sari, " saya kurang nyakin, apakah Raka benar benar menerima Ajeng?"


Ada rasa kesal pada hati Bu Sari, ketika Pak Aryanto bertanya kembali, wanita tua itu hanya menarik napas. Terasa sesak, " Bapak tidak percaya dengan saya!"


"Bukan begitu, sudah jelas Raka itu orangnya .... "


Belum perkataan Pak Aryanto terlontar semuanya, Bu Sari memotong pembicaraan lelaki tua itu.

__ADS_1


"Raka sudah berubah pak, dia menyadari kesalahannya semenjak di dalam penjara."


Bu Ayu tak nyakin dengan perkataan Bu Sari, karena wanita paruh baya itu terkenal pembohong.


Mengerutkan dahi dengan berkata lagi." Saya juga awalnya tak percaya perubahan Raka, tapi saat saya sering datang ke penjara, Raka bayak berubah. Jadi pertemukan Ajeng dengan Raka ya, bu."


Bu Ayu menatap ke arah suaminya, wanita paruh baya itu kini menganggukkan kepala. Memang terlihat sekali ucapan Bu Sari begitu meyakinkan, sampai dimana ibunda Ajeng itu, kini menyetujui ucapan Bu Sari.


"Baiklah, kalau memang itu yang terbaik untuk Ajeng anak saya. Asal jangan pernah mengecewakan anak perempuan saya satu satunya."


Bu Sari semakin senang, ia memegang erat kedua tangan Bu Ayu, " ya, baiklah. Ibu dan bapak nyakinkan saja pada saya."


"Ya sudah, saya mau meminta izin pada dokter. "


"Baik."


Pak Aryanto berjalan keluar dari ruangan Ajeng, untuk meminta izin kepada dokter di rumah sakit itu. Agar anaknya bisa keluar sebentar menemui Raka.


Dalam setiap langkah Pak Aryanto, banyak keraguan yang ia pendam. Walau ia tepis, tapi keraguan itu terkalahkan dengan senyuman Yang terukir dari wajah Ajeng.


Di dalam ruangan Ajeng.


Bu Sari terlihat begitu memperhatikan dan perduli pada Ajeng yang duduk di ranjang tempat tidur, wanita tua itu terlihat begitu menyayangi menantunya.


"Ajeng, mau ketemu dengan Raka ya?"


Ajeng menganggukkan kepala ia seperti orang yang kegirangan saat Bu Sari menyebut nama Raka.


Bu Ayu, sedikit menghilangkan rasa ragunya. Karena melihat sang anak sudah terlihat ceria.


"Mungkin Ajeng gila karena kehilangan Raka, ia seperti orang yang tak bersemangat ketika kehilangan lelaki yang sangat ia cintai. "


Menarik napas, ada perasaan lega jika benar Raka berubah. Karena itu yang diharapkan Bu Ayu, melihat kesembuhan anaknya.

__ADS_1


Tidak ada ibu yang mau melihat anaknya sakit, "Semoga kamu sehat Ajeng, setelah bertemu dengan Raka."


Bu Sari yang mendengar perkataan Bu Ayu tentunya menjawab dengan semangat," Bu Ayu, jangan kuartir, Ajeng pasti sembuh setelah melihat Raka. "


Senyuman tergambar dari kedua ujung bibir regu Ayu, mereka tinggal menunggu kedatangan Pak Aryanto. Membawakan surat izin dari dokter, tersimpan harapan yang sangat besar.


Beberapa menit menunggu, akhirnya pak Aryanto kembali lagi ke ruangan Ajeng, dia membawa berkas putih tanda tangan dari sang dokter yang mengizinkan Ajeng keluar sementara waktu ke rumah sakit.


"Bagaimana, pak? "


Pertanyaan Bu Sari membuat Pak Aryanto menjawab dengan terlihat bersemangat Demi kesembuhan anaknya," dokter sudah mengizinkan Ajeng keluar sementara waktu dari rumah sakit dengan diawasi oleh beberapa suster di rumah sakit ini, karena dikhawatirkan penyakit Ajeng tiba-tiba kambuh kembali. "


Eemakin bahagianya Bu Sari setelah mendengar pernyataan dari ayah Ajeng, mungkin ini saatnya Raka keluar dari dari dalam penjara terbebas dari hukuman yang begitu lama. Besar harapan Bu Sari jika Ajeng mampu merayu Anna agar bisa membebaskan anaknya dari dalam penjara.


" Ya sudah Pak, kalau begitu nunggu apa lagi. Ayo kita cepat pergi sekarang, mumpung waktu masih lama. Biar Ajeng bisa berlama-lama saat bertemu dengan Raka, begitupun Raka, pastinya akan senang setelah melihat Ajeng menemuinya lagi."


"Ya sudah, ayo bu. Bapak mau cari taksi dulu."


Bu Sari tampak kaget, setelah mendengar Pak Aryanto mencari taksi, bukanya dia mempunyai mobil.


"Loh, pak. Mobil yang biasa bapak bawa ke mana?" Tanya Bu Sari dengan lancangnya.


Pak Aryanto dan juga Bu Ayu menundukkan wajah dengan menjawab." mobil kami, sudah habis terjual untuk menebus Pak Aryanto agar tidak masuk ke dalam penjara. Kami sudah tidak punya kendaran lagi selain rumah yang sekarang menjadi kecil."


Deg ....


Bu Sari yang mendengar keluhan Bu Ayu tentulah membuat ia sedikit ilfil apalagi dengan kemiskinan yang kini dialami mereka berdua. Apa jadinya nanti jika Ajeng dan juga Raka kembali bersama, kemungkinan besar Ajeng akan hidup menyusahkan Raka seumur hidup.


Hidup Raka akan menderita karena dalam hari-harinya mengurus wanita cacat, membayangkan hal itu, membuat Bu Ayu mendelik Kesal ya melipatkan kedua tangannya, lupa mengatakan apa mereka masih kaya raya seperti dulu.


"Ayo Bu Sari. "


Lamunan wanita tua itu membuyar, di saat Bu Ayu mengajaknya untuk segera pergi ke dalam penjara menjenguk Raka.

__ADS_1


"Ayo, bu." Senyum keterpaksaan diperlihatkan oleh Bu Sari di hadapan kedua orang tua Ajeng.


Ajeng dialihkan pada kursi roda.


__ADS_2