
*******Hai hai, masih Pov Raka ya. Silahkan membaca. ******
Aku tak menyangka jika sosok wanita bernama Ajeng itu begitu bucin kepadaku.
Entah dari segi apa dia mencintaiku? Padahal aku hanyalah lelaki biasa, setelah lulus sarjana. Aku tidak mempunyai pekerjaan sama sekali, aku hanya mengandalkan harta orang tua, sampai sekarang pun aku mengandalkan uang Ajeng.
Bodoh, itulah yang selalu aku sebut dalam hati. Ajeng dan Anna tak berbeda jauh, mereka mengandalkan perasaan daripada logika. Benar kata ibu, aku mempunyai paras tampan dan juga tutur kata lembut yang mampu mengoda
semua wanita.
Begitupun Ajeng dan juga Anna.
Apa yang harus aku lakukan saat ini? Pak Aryanto sudah tak berguna, apalagi dengan anaknya Ajeng. Tidak ada yang bisa aku andalkan.
Di situasi Pak Aryanto yang tak berdaya itu, Ajeng malah menarik tanganku untuk menjauh dari kedua orang tuanya.
"Kita mau ke mana, Ajeng. "
Setelah sampai di mobil, Ajeng tampak terlihat gelisa. Ia memegang kedua tangan ini dengan berkata. " Sepertinya video kamu sudah ada di tangan polisi. Aku bingung, Mas. Ayah sudah angkat tangan masalah ini. Aku juga bingung sekarang. "
Aku mengusap kasar wajahku, Ajeng memang tak berguna. Sudah aku titipkan Radit untuk jaga jaga, agar dia urus dengan baik. Tapi buktinya apa dia malah membiarkan Radit pergi begitu saja. Memang Ajeng wanita tak becus.
Sekarang salah satu cara untuk mengancam Anna agar tidak memasukkan aku ke penjara yaitu mengambil Radit. Mengancam dia, tapi Ahkkkk ....
Semua benar benar tak bisa di andalkan, berkacak pingang dan Ajeng yang berada dihadapanku hanya bisa mundar mandir ke sana ke mari mencari solusi.
Dreet .... Suara ponsel berbunyi dimana, Ajeng membawa ponsel satunya lagi yang berada di dalam mobil.
"Halo, Yem. "
Aku mendengar Ajeng menyebut nama Iyem, bukanya itu pembantu di rumah, "ada apa? "
Terlihat wajah panik, dari raut wajah Ajeng. Seperti ada sesuatu informasi yang mengagetkan.
"Ya sudah, terima kasih kamu sudah memberitahu saya. "
Aku mendekat pada Ajeng, menanyakan siapa yang menelepon, hingga di mana Ajeng memberitahuku bahwa pembantunya menelepon.
"Iyem menelepon."
"Ada apa dia menelepon?"
Aku bertanya dengan perasaan tak menentu, karna pastinya akan ada berita tak menyenangkan.
__ADS_1
"Di rumah banyak polisi yang menanyakan keberadaanmu, mas. Untung saja Iyem ngasih tahu kita terlebih dahulu. Jadi kita bisa kabur dari kejaran polisi! "
Ajeng mulai dengan ide gilanya, padahal dia anak polisi dengan beraninya menyembunyikan kejahatanku.
"Ayo mas. Kamu jangan malah melamun. "
Lamunanku membuyar di saat Ajeng menyuruku untuk pergi dari rumah sakit segera mungkin, menaiki mobil.
Saat druh mobil dinyalakan beberapa polisi datang, apa mereka sengaja datang untuk menegok Pak Aryanto atau sengaja mencari keberadaanku.
Sekarang aku menjadi buronan polisi, kemana pun aku pergi rasanya tak akan aman. Karena kesalahan bodohku aku harus menanggung resiko lebih berat lagi.
Mengacak rambut merasa prustasi.
"Kamu mau bawa aku ke mana, Ajeng. "
"Kamu tenang saja, mas. Aku akan bawa kamu ke tempat aman. "
"Kemana? kita itu sudah dikepung polisi. Aku sudah menjadi buronan. "
Kasihan sekali nasibku saat ini, benar benar menyedihkan.
Ponsel kembali berbunyi, ternyata yang menelepon adalah bapak. Tumben sekali bapak menelepon, ada apa? Apa karna aku memegangan ponsel ibu?
"Halo, bu. "
"Raka, kamu ada di mana, nak? "
"Aku masih bersama Ajeng lagi di jalan, bu. Memangnya kenapa!? "
"Ibu hanya mengigatkan kamu, Raka. Jangan pulang ke rumah! "
"Memangnya kenapa, bu? "
"Polisi datang ke sini! "
Deg .... Di rumah Ajeng ada polisi, di rumah ibu juga ada polisi begitupun di rumah sakit. Hidupku kini dikelilingi polisi yang akan menangkapku. Bagaimana ini?
"Mas, kamu kenapa? "
"Ajeng, di rumah ibu dikelilingi polisi. Aku nggak tahu harus berbuat apa sekarang! "
"Kamu tenang saja, mas. Masih ada aku, aku akan menyelamatkan kamu dari kejaran polisi. "
__ADS_1
Tring ....
Satu pesan datang kembali, aku mengira pesan datang dari ibu nyatanya. Anna lagi.
(Mas, mau lari kemana kamu. Aku sudah memberitahu polisi, dan memberikan bukti. Dan ibu kamu akan menjadi tersangka jika kamu tidak menyerahkan diri, apa kamu tega melihat wanita tua yang sudah rentan masuk ke dalam penjara.)
"Siapa, mas? "
Ajeng bertanya dengan mengendarai mobil, membuat aku membacakan isi pesan yang datang dari Anna.
"Aku tak menyangka jika wanita yang aku anggap bodoh itu, bisa memainkan cara cerdik dengan begitu licik. " Gerutu Ajeng, bukan dia saja yang berpikir sedemikian, Anna begitu cepat menjadi wanita hebat saat aku tinggalkan.
2Tak ada tanda tanda keterpurukan, dia semakin pintar dan sukses.
(Mas, apa kamu mau bermain petak umpet denganku?)
Anna mengirim pesan lagi, ini sangat menyebalkan tapi membuat aku ketakutan.
(Ayolah mas, seragkan diri kamu. Sebelum hukuman semakin berat, apa kamu tidak kasihan dengan ayah Ajeng yang kini terpuruk dan jatuh sakit. Jangan egois, )
Rasanya ingin sekali kulempar ponsel ini keluar jendela mobil, tapi hanya ini satu satunya barang berharga yang aku punya saat ini. Aku sebagai laki laki tentulah geram dengan pesan yang datang dari Anna, membuat tangan ini membalas. (Cukup, Anna. Aku tak takut dengan ancaman murahanmu itu.)
Mematikan ponsel berharap hidupku tenang, tanpa teror pesan dari Anna. Aku tak tahu jika bercerai dengan dia malah menjadi mala petaka untukku.
"Mas, kamu harus tenang. Jangan mengandalkan emosi. "
"Ahk, tenang, tenang. Hanya itu yang kamu tanyakan dari tadi, tidak ada yang lain lagi apa? "
"Mas, sebagai istri hanya itu kemampuanku. Membuat kamu tenang! "
"Basi, andai saja dulu aku tidak menikahi kamu. Mungkin hidupku tidak akan ribet seperti ini. "
Entah ada angin apa yang datang, tanpa sadar aku langsung menyalahkan Ajeng yang mengendarai mobil, " Apa maksud kamu, mas. Jadi kamu salahin aku, atas semua kasus ini. "
Emosiku yang memang sudah tak terkendali, membuat aku kini membalas kata katanya. " Iya. Kamu yang salah, seharusnya aku tak menuruti keinginan kamu. Andai saja aku masih menikah dengan Anna dan tak menduakan dia karna keinginan kamu yang bodoh. Hidupku akan damai aman sentosa. "
"Mas, kamu gila. Kamu nggak nyadar diri apa? Saat kecelakaan itu siapa yang nolongin kamu kalau bukan aku."
"Iya aku tahu. Tapi aku menyesal. "
"Kamu bilang menyesal, mas. Kamu ini bisa hidup enak itu berkat siapa? Aku mas, saat aku pulang dari luar negeri permintaanku hanya satu. Kamu nikahin aku segera dan ceraikan Anna. Siapa suruh kamu menikah dengan korban yang kamu tabrak itu. Aku masih memberi kamu kebaikan mas, saat kamu menikahi Anna. Aku hanya bilang kamu tunggu aku pulang dari luar negeri bukan malah dengan Anna. Nyesel aku nolongin kamu mas. "
Tiba tiba mobil berhenti begitu saja oleh Ajeng, entah apa yang akan ia lakukan?
__ADS_1