
Perjalanan semobil dengan Pak Galih, memang terasa menegangkan. Apalagi saat lelaki di sampingku memulai obrolan dengan membahas Farhan.
"Pak Galih, coba katakan. Siapa ibu dan ayah Farhan, apa mereka ada di daerah sini, atau mereka ....?"
Belum perkataan Pak Galih terlontar semuanya, lelaki itu kini berucap." kamu harus tenang Anna, saya tidak bisa fokus mengedarai mobil."
Lelaki dingin seperti Pak Galih ini benar benar, misterius. Bisa bisanya dia menyuruh aku tenang, padahal dia sendiri yang memulai percakapan yang membuat aku penasaran.
"Saya akan katakan setelah kamu siap, oke."
Apa apaan lelaki di sampingku ini, menunda nunda rasa penasaran pada hati ini, geram rasanya.
"Bapak, kalau tidak niat mengatakan siapa orang tua Farhan, tak usahlah membuat perkataan yang mampu membuat orang penasaran."
Aku mengerutu kesal di depan lelaki berkumis tipis, menyebalkan itu.
"Saya bukan tidak mau mengatakan semuanya, saya takut jika kamu belum siap kehilangan Farhan!"
Maksud perkataan lelaki ini semakin membuat aku jengkel." Maksud, bapak?"
"Kamu akan paham nanti, setelah waktunya tiba!"
Hanya perkataan dingin lelaki ini, membuat perasaanku kesal, bagaimana bisa dia menunda nunda rasa perasaan orang lain.
Sial, harusnya tadi aku tak usah mendengar perkataan lelaki di sampingku ini, jika ujungnya hanya membuat aku jengkel.
"Rumah suamimu hampir sampai."
Aku berusaha mengatur nafas, jika sewaktu waktu bertemu dengan Mas Raka, tegangan jantungku berubah seketika. Bisa bisa aku mati mendadak.
"Kamu persiapkan diri."
Kuat, tegas. Pasti kamu bisa Anna, lawan rasa kasihan dari diri kamu terhadap keluarga tak berguna seperti Mas Raka.
Aku terus menyakinkan diri, saat mobil Pak Galih sudah hampir sampai di depan rumah ibu mertua, "tegang pak."
"Mm, apa yang tegang."
Aku merengutkan dahi, serasa ucapanku salah.
"Maksudnya gugup, karna akan menghadapi para manusia tak tahu diri."
"Coba kamu duduk, tenangkan diri kamu. Sebisa mungkin buat hatimu yakin, kalau kamu bisa melawan mereka."
Pak Galih menyuruhku untuk membalikkan badan.
"Coba balikan badanmu."
"Untuk apa, pak?"
__ADS_1
"Sudah balikan dulu badanmu!"
Karna Pak Galih yang memaksa, aku mulai membalikkan badan, tiba tiba saja lelaki itu memegang rambut panjangku yang terurai, dia mengikat perlahan, hingga ikatan itu begitu kuat.
"Cantik, elegan. Berani."
Pak Galih memberikan sebuah cermin sedang kepadaku," coba kamu ngaca?"
Aku tersenyum di kala rambutku yang biasanya terurai panjang kini terikat, seperti wanita tangguh.
"Gimana. Terlihat percaya diri."
"Ya."
Apa yang dilakukan lelaki dingin itu, membuat keberanian yang selama ini aku tutupi, terbuka.
"Sekarang kita hadapi para manusia itu."
"Baik, pak."
Aku berusaha turun dengan rasa yakin, akan diriku bisa menghadapi Mas Raka dan keluarganya.
Dengan berjalan, sembari memengan lebar kertas yang tertutup map berwarna biru.
Kini aku tersenyum dan melangkah berani.
"Ayo Anna, kamu pasti bisa, mengalahkan para singa singa tidak tahu diri itu, " gumam hatiku
kenapa dengan ibu mertuaku? Apa dia sakit?
Aku mencoba tak peduli dengan keadaanya saat ini, yang aku perdulikan saat ini adalah. Tanda tangan Mas Raka.
Aku harus mendapatkan kebahagian, di saat tanda tangan Mas Raka, berada pada lembar kertas yang aku bawa kehadapanya saat ini juga.
Wanita tua itu membulatkan kedua matanya, melihat aku yang datang. Ia kini menghapiriku dan tiba tiba memeluk tubuhku dengan erat.
"Anna, akhirnya kamu kembali, ibu sekarang butuh bantuan kamu. Ibu sakit nak, belum nyuci baju, belum makan apa apa. Ajeng sibuk dengan ponselnya, tolong bantuin ibu di dapur."
Tiba tiba saja, rasa sedihnya ia curahkan di hadapanku, ibu mertua menangis memegang tanganku.
Sadarlah Anna, ini hanya sebuah tipuan sesaat. Aku harus kendalikan kebaikanku saat ini, aku harus buang rasa kasihan terhadap ibu mertua.
"Ayo Anna, naikan rasa egomu, ingat anak anakmu terluka karna ulah mereka." Terus saja pikiran di kepalaku berperang, antara rasa kasihan dan tak peduli.
Ibu mertua, memegang tanganku dengan begitu lembut," ibu sakit apa? Kenapa enggak beli obat warung saja?"
Wanita tua itu, perlahan melepaskan tanganya yang memegang erat tanganku, sepertinya ia tersindir dengan ucapanku.
"Kenapa bu, bukanya dulu ibu bilang begitu padaku?"
__ADS_1
"Anna. Ibu mint ...."
Belum perkataan ibu terlontar, kini Ajeng datang dengan menyenderkan bahu pada pintu depan rumah.
"Great, there's a crazy woman coming. Mau apa kamu datang ke sini?"
Pertanyaan Ajeng membuat aku tertawa pelan," kamu nanya sama aku ya, Uups."
Ajeng mendelik kesal, ia mengigit bibir bawahnya." Aku nanya sama kamulah, masa sama setan."
Sekarang aku tidak punya waktu untuk berdebat, yang aku butuhlan adalah tanda tangan Mas Raka.
"Kemana Mas Raka?" Tanyaku pada ibu dan juga Ajeng.
Ajeng kini berjalan mendekat ke arahku," Ngapain, nanya nanya Mas Raka, kamu rindu sama suamiku?"
Aku tertawa di kala Ajeng mengatakan kata rindu.
"Helo, siapa yang rindu sama laki laki seperti Mas Raka. Laki laki kere dan suka main perempuan peot seperti kamu."
"Hey, bisa tidak kata kata peot itu kamu hilangkan dari mulut busukmu itu, Anna. Kamu ini tidak lihat, aku masih cantik, seksi dan juga bohay. Tidak seperti kamu dekil, cungkring. Dan juga bulukss."
Aku hanya diam saat hinaan itu terlontar kembali," Ajeng, aku tidak punya banyak waktu mendengarkan pujian untuk diri kamu sendiri, jadi ke mana Mas Raka?"
"Hey, aku memuji diriku pada dasarnya memang aku pantas di puji."
Rasanya inginku tonjok bibirnya yang tebal itu, kubuat bibir merah merona jadi stik pangang merah langka sedunia.
"Bu, sekarang aku tanya. Kemana Mas Raka?"
Wanita tua itu terlihat lugu, ibu biasanya selalu melawan apa perkataanku, terkadang dia menghina. Tapi sekarang wanita tua itu banyak diam.
"Raka ...."
Belum perkataan Ibu terlontar.
"Aku di sini, Anna."
Mas Raka, akhirnya dia menampakan dirinya, membuat aku senang dan tak sabar menyerahkan lebar kertas berisi gugatan cerai kepadanya.
"Anna, aku tahu kamu pasti tidak bisa hidup tanpaku, jadi kamu datang kembali, agar kamu bisa bersamaku dan menjadi pembantu di rumah ini lagi. Bukan begitu sayang?"
Berdecak kesal, apa perkataannya, tak bisa hidup tanpa dia? Rasanya geli mendengar apa yang ia katakan.
"Maaf ya, mas. Aku hanya ingin memberikan ini padamu."
Kusodorkan kertas berwarna map biru itu, pada Mas Raka, ia malah terdiam seakan jijik memegang apa yang aku sodorkan.
Dengan rasa kesal, kulemparkan map biru dari tanganku ke wajah dia.
__ADS_1
"Tanda tangan ini?"