Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 162 Anak baik


__ADS_3

kebahagiaan yang kini terpancar dari diri Ainun, membuat wanita berhijab merah muda itu menanyakan keadaan Anna," Galih. Bagaimana keadaan istrimu, katanya Ana menjalani operasi, karena ingatannya yang kini sudah pulih kembali?"


Galih menganggukan kepala dan menjawab perkataan Ainun," ya, untuk operasi Anna Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Begitu pun dengan ingatannya di masa lalu. Oh ya


Kok kamu tahu segalanya."


Ainun tersenyum tipis tidak hadapan mantan suaminya itu," saat aku datang ke rumah ini, Intan sudah mengatakan semua tentang Anna dan juga kamu."


"Sialan si Intan itu, padahal aku sudah berusaha menutupi aib keluargaku, tapi dia tahu akan semua itu. Entah kenapa aku bisa percaya dengan gadis yang ternyata sudah menghianati tanggung jawab yang aku berikan kepada dirinya."


Ainun bersama menenangkan mantan suaminya itu dengan berkata," namanya juga manusia, sepintarnya dia menyimpan rahasia seseorang. Jika ia tergoda dengan satu keinginannya, pastinya ia akan membeberkan semua rahasia yang membuat dirinya itu merasa untung."


" Apa yang kamu katakan memang benar, Ainun. Aku terlalu percaya dengan seorang manusia, hingga aku lupa jika manusia juga mempunyai kelemahan untuk menyimpan semua rahasia kita. Yang ternyata mereka adalah sosok seorang manusia yang munafik."


Terlihat raut penyesalan pada wajah Galih.


" Makanya kita jangan terlalu berharap dengan seorang manusia, karena bisa saja manusia yang kita percayai itu malah menghianati dan juga mengadu domba diri kita dengan orang lain. Bukannya kamu sudah tahu banyak kasus orang yang bertengkar hanya karena menyimpan rahasia, dan ternyata rahasia itu tidak disimpan baik-baik oleh orang yang dipercaya, hingga di mana permusuhan terjadi di antara mereka."


Ainun mulai memperlihatkan kebijakannya dalam berbicara, Galih melihat sosok Ainun yang dulu kini terlihat kembali.


Sosok wanita yang tak pernah marah dan juga membuat semua orang sakit hati.


Farhan yang masih berada di dekat Ainun kini mengajak wanita berhijab muda itu untuk menemui Anna." Bagaimana kalau setelah ini kita menemui Mama Anna?"


Galih tersenyum tipis ia menjawab perkataan anaknya, " bener juga apa kata kamu Farhan. Bagaimana menurut kamu Ainun?"


"Baiklah."


Farhan senang dengan jawaban Ainun yang mau diajak bertemu dengan Anna, anak remaja itu berharap tidak ada kebencian dan juga permusuhan antara ibu kandung dan juga Ibu angkatnya.


Farhan sangat menyukai perdamaian dan juga ketenangan. " Ya sudah ayo."


Ainun meminta izin kepada Galih terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya saat ingin bertemu dengan Anna, " tunggu, aku mau ganti pakaianku dan untuk bersiap siap ke rumah sakit. "

__ADS_1


Galih mengizinkan Ainun, di mana ayah dan anak itu menunggu di luar rumah Ainun.


Galih menatap kebaikan hati anaknya dengan berkata," Terima kasih ya Farhan, kamu sudah menjadi anak baik yang mau menerima keadaan keluargamu yang sekarang, juga tidak marah kepada papa dan juga Ibu Ainun yang sudah mencampakkan kamu di waktu kamu masih kecil."


Bibir lelaki remaja itu tersenyum merekah menatap ke arah Ayah kandungnya," Iya Pah bagaimanapun kita sebagai manusia harus bisa saling memaafkan."


Galih mengusap pelan kepala rambut anaknya dengan bangganya ia tersenyum lebar, begitu hebatnya Anna yang menjadi istrinya, mendidik anak lelaki seperti Galih yang mempunyai hati lembut dan mudah memaafkan seseorang yang sudah membuat hatinya terluka.


***********


Indah merasa heran sudah dua jam lebih Farhan dan juga Galih tidak datang kembali ke rumah, tentulah membuat wanita bermata sipit itu bertanya kembali kepada adiknya," kenapa Galih dan Farhan belum juga kembali? Kata kamu mereka sedang mencari makanan. Tapi ini sudah lewat dua jam lebih. Apa ada yang kamu sembunyikan sama kakak."


Anna menarik napasnya, pelan. Ia tak mungkin memberitahu kakaknya bahwa Galih dan juga Farhan tengah menemui Ainun, bisa-bisa Indah salah paham dengan pengertian Anna.


"Mungkin mereka masih ada urusan, biarkan saja lah Kak, toh Mas Galih dengan Farhan ini perginya," ucap Anna berusaha membuat sang kakak tak curiga.


Indah menjawab dengan rasa heran." Iya juga sih, tapi ...."


Ana berusaha berpura-pura di depan kakaknya, merasakan rasa sakit kepala, agar wanita bermata sipit itu tidak menanyakan keberadaan suami dan juga anaknya.


"Kenapa, An?" tanya sang kakak dengan wajah paniknya.


" Nggak tahu Kak kepala Anna sakit!" jawab Anna dengan meringis kesakitan.


"Ya sudah biar Kakak, panggilkan dulu dokter, ya," ucap Indah. Anna hanya menganggukan kepala Ketika sang kakak mulai beranjak berdiri untuk mencari keberadaan dokter.


Indah dengan sikapnya keluar dari ruangan begitupun dengan Deni, Mereka yang sudah pergi dari ruangan Anna, saat itulah Anna mulai beraksi


mengambil ponselnya yang berada di saku baju, menghubungi sang suami agar cepat kembali ke rumah sakit. Supaya tidak ada keraguan pada sang kakak yang terus menanyakan keberadaan Galih dan juga Farhan.


Hanya saja beberapa kali Ana menghubungi nomor ponsel suaminya, tidak ada satu kali pun panggilan diangkat oleh Galih.


"Ck, kenapa tidak tidak diangkat."

__ADS_1


Ada rasa tak enak hati pada diri Anna, ketika panggilan telepon yang terhubung tak diangkat-angkat oleh sang suami.


Saat itulah Anna mulai mengirim pesan kepada Galih,( Mas, kamu dimana. Cepat pulang, Kak Indah menanyakan kamu terus menerus.)


Pesan pun terkirim namun tak kunjung dibuka, Indah datang dengan membawa dokter untuk memeriksa keadaan Anna.


"Ini dok."


Mendengar suara sang kakak, pada akhirnya Anna dengan terburu-buru memasukkan ponselnya kembali pada saku bajunya.


Anna kini kembali memegang kepalanya yang tidak merasakan rasa sakit sekalipun.


Dokter mulai memeriksa keadaan Anna, di mana dokter tidak menemukan gejala serius yang terjadi pada pasien.


Wanita bermata sipit itu dengan paniknya mulai bertanya tentang keadaan sang adik," jadi kenapa dengan adik saya?"


"Adik anda sepertinya membutuhkan istirahat yang cukup, jadi biarkan dia tidur. Jangan banyak pertanyaan yang harus ia jawab, karena itu akan merusak sistem kerja otaknya. Biarkan pasien rileks terlebih dahulu, dari pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan otaknya berpikir."


Perkataan sang dokter membuat Indah mengerti, lelaki yang memakai baju putih itu kini berpamitan untuk keluar dari ruangan Anna.


"Saya permisi dulu."


Kepergian dokter membuat indah kini kembali duduk menghadap ke arah adiknya sendiri.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu."


Ana tersenyum kecil dan mulai menutup kedua matanya, segera tidur dan beristirahat.


Namun ada perasaan yang mengganjal hatinya, karena Galih dan juga paham yang tak kunjung datang, membuat perasaannya gelisah.


ketakutan dan rasa cemburu Kian dirasakan oleh Anna.


Dengan sekuat yang ia bisa, Anna berusaha membuang pikiran jelek yang terus merasuki dirinya membuat ia tak tenang.

__ADS_1


__ADS_2