Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 241 Nita Ragu.


__ADS_3

Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Bu Nira, tentu semakin membuat hati Nita kuatir dengan Lulu. Nita takut jika apa yang dikatakan Bu Nira itu benar, jika Lulu dibeli oleh Marimar.


Ada ketakutan dalam hati Nita, ya sangat kuatir dengan keadaan. Apalagi pada isu yang beredar, Marimar selalu menjual beli seorang anak yang ia temui ataupun orang yang datang kepadanya.


Tak tanggung-tanggung Marimar menjual anak itu kepada orang luar, dengan nominal yang sangat besar. Tapi Nita tak boleh asal menuduh, karena itu semua hanyalah isu belakang dari orang-orang kampung di sekitarnya.


"Ya sudah, ibu. Pamit dulu ya," ucap Bu Nira sembari menengok ke kanan dan ke kiri, takut ada orang yang mengikutinya atau melihat dirinya tengah mengobrol dengan Nita. Jika semua itu terjadi, Bu Nira akan kena imbasnya, mana ia dimusuhi para ibu-ibu di kampung halamannya.


"Hati-hati, bu," balas Nita, sembari mengucapkan kata terima kasih kepada Bu Nira yang sudah baik memberitahunya.


Setelah mendengar kabar dari Bu Nira, dengan terburu-burunya Nita pergi ke pangkalan ojek, untuk menanyakan apa yang dikatakan Bu Nira itu benar. Kepada Pak Kosim yang sudah mengantarkan intan dan juga Lulu ke rumah. Marimar.


Namun langkah kakinya terhenti, saat suara ponsel berbunyi. Nita merogoh saku celana melihat siapa yang menelpon.


Saat layar ponsel itu berkedip, Nita melihat jika kedua orang tua Lulu menelpon dirinya. Gadis itu kebingungan apa yang harus ia jelaskan, bukti belum sepenuhnya menunjuk ke pada Marimar.


Dengan terpaksa Nita mengabaikan panggilan telepon dari kedua orang tua Lulu, ia bergegas menaiki motor untuk segera menemui tukang ojek yang mengantarkan Intan bersama dengan Lulu.


Saat Nita mulai menyalakan mesin mobilnya, betapa kesalnya, motor yang dinyalakan tiba-tiba mogok. Nita kebingungan sendiri, karena tak ada ojek satu pun yang melintas di depan rumahnya.


Nita berlari menuju pangkalan ojek, ya berharap jika Mang kosim ada di pangkalan itu.


Rasa lelah sehabis pulang bekerja, tak mematahkan semangat Nita untuk mencari keberadaan Lulu. Semua dilakukan sesuai tanggung jawab.


Setelah sampai di pangkalan ojek, semua tanpa sepi, tak ada tukang ojek yang menangkring di pangkalan itu. " Apalagi ini. Kenapa banyak halangan sekali sih, padahal aku sedang buru-buru untuk menemui Lulu, aku takut jika perjual beli anak itu sah dan Intan menerima uang ya kabur."

__ADS_1


Beruntung.


Ada salah satu tukang ojeg datang, saat Nita mulai melangkah pergi dari pangkalan itu


" akhirnya ada tukang ojek juga."


Betapa senangnya Nita melihat salah satu tukang ojek bertanya kepada dirinya, saat ia membalikkan badan. Lelaki yang menjadi tukang ojek itu adalah Saiful, orang yang pernah ia tolak ketika datang ke rumah.


Nita terpaksa menolak Saiful karena dia adalah anak Bu Nira, kalau saja Saiful bukan anak kampung di daerahnya. Kemungkinan besar Nita bisa menjalin hubungan dengannya.


Namun apa daya, Nita tak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah lelah akan hinaan ibu ibu di kampung, membuat ia minder dan tak berani berdekatan dengan lawan jenis. Apalagi sekedar bertanya, ketakutannya sudah lama Nita rasakan, setelah melihat kedua orang tuanya dibakar hidup hidup.


Hanya karena tudingan palsu, bahwa kedua orang tua Nita adalah seorang penipu. Nita kesal dengan para ibu ibu yang sudah membuat dirinya yatim piatu, tapi ia tak mau membalas akan kekejian mereka. Nita lebih baik diam, dan menjalani hidup tanpa merasa mempunyai tentangga.


Ketampan Saiful membuat Nita tak berani menatapnya, Saiful adalah lelaki pekerja keras, selain menjadi guru, dan kini sudah bergelar PNS. Saiful tak malu menjadi tukang ojeg, untuk pekerjaan sampinganya.


Kebetulan di kampung Nita, banyak ibu ibu yang tak bisa mengendari roda dua. Maka Saiful memanfaatkan semua itu, menjadi ladang bisnisnya.


Dari hasil jerih payahnya itu, Bu Nira menjadi orang kaya di kampungnya. Ia di juluki wanita hebat yang sudah membuat anaknya sukses.


"Nita, kamu mau ke mana?" pertanyaan Saiful membuat kedua pipi Nita merah merona, jantung wanita itu tak karuan, saat Saiful melayangkan pertanyaan.


"Ini a, saya lagi cari bang kosim. Kebetulan menyakan sahabat saya yang menaiki motornya!" jawab Nita, saiful tak tega melihat Nita berjalan kaki, apalagi melihat kedua kakinya tak memakai sandal.


"Ya sudah gimana kalau aa antar neng ke rumah Pak Kosim, kebetulan Pak Kosim pulang ke rumahnya," ucap Saiful. Begitu baiknya Saiful, walau ia pernah ditolak mentah-mentah oleh Nita, dia menawarkan diri untuk mengantarkan kita ke rumah Pak Kosim.

__ADS_1


Sebenarnya Nita juga buru-buru ia harus segera menemui Lulu dan juga Intan, tapi karena rasa takutnya membuat ia tak berani, " nggak usah lah, Nita takut nanti ibu-ibu di kampung malah menyalahkan Nita, kalau Aa nganterin Nita ke Pak Kosim. Nita bisa cari ojek yang lain atau Nita jalan kaki saja."


"Rumah Pak Kosim itu jauh Nit, sudah cepat kamu naik motor Aa. Biar Aa antar saja ke sana," Saiful tak tega melihat wanita yang ia cintai berjalan kaki tanpa sendal.


Ada keraguan pada hati Nita, ia memainkan jari tangannya menundukkan pandangan karena malu, membuat Saiful menarik tangan Nita untuk segera duduk di jok motornya.


"Tapi, Aa. Nit ...."


Belum perkataan Nita terlontar semuanya, "Ayo cepat duduk. Sudahlah kamu jangan khawatirkan ibu-ibu di sini, memang mereka mulutnya ember suka menghina."


Nita tak menyangka jika Saiful berkata seperti itu, seakan mempunyai pelindung untuk Nita, walau semua hanya mimpi belakang.


Saiful pun sudah tahu, semua dalang penolakan Nita kepadanya adalah ibunya sendiri, dan para ibu-ibu di kampung yang membenci kedua orang tua Nita.


"Ayo naik yang benar." tegas Saiful menyuruh Nita, dimana gadis penuh. Keraguan itu perlahan naik.


karena mengingat keadaan Lulu dan juga Intan. Dimana sebentar lagi kedua orang tua Lulu akan datang ke kampung Nita, terpaksa ia menaiki motor Saiful. Saiful tersenyum senang, ia kini bisa menaiki motor berduaan dengan wanita pujaan hatinya.


Mereka kini pergi menuju ke rumah Pak Kosim.


Di dalam perjalanan menuju ke rumah Pak Kosim, Saiful sedikit mengencangkan motornya, membuat Nita ketakutan dan tiba di mana tangannya sepontan memeluk pinggang Saiful.


Kemesraan mereka terlihat oleh ibu-ibu di kampung, membuat kegeraman satu kampung saat Nita bersama Saiful berduaan menaiki motor, apalagi saat posisi Nita memeluk Saiful.


Dengan hebohnya ibu-ibu itu langsung mencari Bu Nira untuk memberitahu anaknya yang mendekati Nita wanita pembawa sial.

__ADS_1


__ADS_2