Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 68 Bercermin


__ADS_3

Aku kini duduk di depan cermin rias, melihat penampilan dan wajahku benar benar berubah 100℅ dari sebelumnya, saat bersama Mas Raka, aku terlihat kumuh dan dekil, baju yang aku pakai pun sudah usang.


Wajahku kini putih mulus, semenjak Kak Indah merokomendasikan produk kecantikan yang ternyata cocok dengan wajahku sampai saat ini.


Apa yang aku inginkan sudah terbeli dengan hasil kerja kerasku, anak anak terlihat bahagia tanpa hadirnya Mas Raka.


Aku mulai menyisir rambut panjang yang biasa aku gulung seperti ibu ibu pada umumnya, tapi tidak dengan sekarang. Rambutku sering terurai panjang dengan penampilan yang mungkin terlihat elegan dan sedikit berkelas.


Sampai tidak ada hinaan yang keluar dari mulut orang orang seperti saat aku bersama Mas Raka.


Bau tubuh yang biasa tercium dengan wangi khas dapur, kini berubah menjadi bau farpum khas seorang wanita pada umumnya. Aku bahagia dengan penampilan dan semua yang aku punya, akan tetapi terkadang ada rasa sepi menghantui, dimana seorang wanita juga membutuhkan sosok kehagatan.


Akan tetapi demi masa depan anak anak, aku harus mencoba melupakan semua kehagatan yang dibutuhkan oleh seorang wanita. Karna aku tak ingin terjerumus pada rasa sakit seperti kemarin.


Menaruh sisir di atas meja rias, kedua mata mulai menatap ke arah jam tangan yang jatuh dari saku celana Radit.


"Aku penasaran dengan jam tangan ini, dari mana Radit mendapatkan jam tangan mahal ini? "


Memang jam ini sudah terkesan jadul, tapi jika dilihat dari harganya dan merknya ini tentulah jam mahal. Karna aku sering melihat Pak Galih memakai jam mahal, secara bergantian. Makanya aku tahu semua itu.


Tok ... Tok ....


Aku mendengar suara ketukan pintu pada pintu kamarku


"Iya, siapa? "


"Anuu nyonya. Ini saya Mbok Nun! "


Ternyata Mbok Nun. Saat itu juga aku mulai menyuruhnya untuk langsung masuk saja ke dalam kamar, karna kebetulan pintu kamarku tidak dikunci.


"Masuk saja, Mbok. "


Mbok Nun masuk dengan wajah penuh ragu, ia seakan ingin mengatakan sesuatu yang aku tak mengerti. "Ada apa, Mbok? "


"Anu Nyonya, saya hanya ingin memberitahu ini, "


Mbok Nun memperlihatkan kalung dengan huruf berinisial A/D, begitu sama dengan jam yang jatuh dari saku celana Radit.


Aku mulai berdiri, mengambil kalung mas itu dari tangan Mbok Nun, " dari mana. Mbok dapat ini? "

__ADS_1


"Maaf sebelumnya Nyonya, saya menemukan kalung emas itu dari celana Den Radit. Tanpa sengaja saat saya membantu Den Radit, kalung itu jatuh begitu saja."


Deg ....


Perkataan Mbok Nun membuat aku ingin bertanya segera pada anak keduaku, dari mana ia mendapatkan semua ini. Apa dia mencuri?


"Maaf. Nyonya saya permisi keluar mau menyiapkan makan malam. "


Aku mempersilahkan Mbok Nun pergi, ada tatapan heran dengan Radit yang sekarang. Aku hampir menduga jika ia mencuri. Tapi dari mana ia bisa mencuri kalung ini? Ini kalung sudah di desain dengan sempurna, jika pun ia mencuri punya Ajeng nama belakangnya pun tak sama, jika bersamaan dengan Mas Raka tidak nyambung.


Banyak kejanggalan akhir akhir ini, membuat aku ingin mencari tahu dan bertanya pada anak keduaku malam ini.


Aku mulai menaruh kalung yang di temukan Mbok Nun, pembantuku ini memang istimewa dia selalu jujur jika menemukan suatu barang dan langsung memberikannya kepadaku.


Kini aku mulai berjalan menghampiri ketiga anak anakku yang tengah menonton televisi, mereka bercanda bergurau seakan menemukan kebahagian yang sudah lama hilang. Farhan kini kembali ceria saat kehadiran Radit kembali lagi.


Inilah kebahagian sesungguhnya?


Melangkahkan kaki mendekat kearah mereka bertiga, memeluk dan ikut bercanda adalah sesuatu yang menyenangkan bagitu.


Sinta baby sister di rumahku begitu telaten dalam menjaga Lulu, membuat aku merasa menganggap Sinta sebagai saudaraku. Apa ini balasan dari derita yang aku rasakan dari dulu.


Di atas meja kini selalu tersedia ayam goreng sayur dan yang lainnya, "Wah, enak ya mah. Makannanya. "


Mbok Nun kini mecolekan nasi untuk Radit dan juga Farhan.


Kedua anak anakku begitu lahap makan dengan hidangan yang menggugah selera, dulu waktu bersama Mas Raka aku dan anak anak hanya makan seadaanya tanpa lauk pauk, jika pun ada itu semua uang tabungan dari ibuku.


"Loh, Mbok mau kemana sama Sinta? "


Bertanya pada kedua pekerja di rumahku, mereka kini menjawab! " kami mau makan ke dapur. "


Aku kini menyuruh mereka untuk duduk di meja makan, padahal setiap kali aku selalu menyuruh mereka, makan bersama.


"Sudah kalian duduk di sini, kita makan bersama. "


"Tapi, Nyonya. "


"Tak ada tapi tapian, di depan mataku kalian seperti saundaraku. Jadi jangan anggap aku ini orang lain. Oke. "

__ADS_1


Mereka terlihat ragu, membuat aku terus menyuruh mereka makan di dekatku, " Ayo makan."


Mereka berdua akhirnya makan dengan lahap bersamaku, sekaya apapun saat ini. Aku tak boleh merendahkan orang lain, mereka tetap berjasa bagiku, karna sudah mengurus anak anakku dengan baik, begitu pun dengan mengurus rumah.


Yang selalu terlihat rapi dan bersih saat aku pulang.


"Mbok Nun, Sinta. Ayo dong makanya yang lahap, daging sama ikannya masih banyak. "


Aku menyuruh mereka mengambil ikan dan juga daging . Akan tetapi mereka seperti malu malu. Mereka makan seadaanya dengan tempe dan tahu, aku berdiri mengambil ikan dan daging ke piring mereka masing masing.


.


"Makan yang banyak. "


"Nyonya. Ini. "


"Sudah makan saja, kalau kalian tak makan bergiji, bagaimana kalian bisa mengurus anak anakku. "


Mereka terlihat bersemangat untuk makan, " Nah, gitu dong makannya yang lahap. "


Setelah selesai makan, ketiga anak anakku berlari ke tempat bermain kembali Kini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dimana aku mulai memanggil Radit anakku, mempertanyakan soal jam dan juga kalung mas, yang ditemukan aku dan juga Mbok Nun pada saku celananya.


"Radit, sini sayang. "


Aku memanggil Radit dimana ia mendekat dan memeluk tubuhku..


"Sayang, mamah ingin mengobrol dengan kamu sebentar, ya. "


Radit menganggukkan kepala, terlihat wajah polosnya membuat aku merasa gemas. "Ayo ikut mamah. "


Aku menuntun Radit menuju ruang santai, menyuruh Mbok Nun dan Sinta menjaga Farhan dan Lulu sebentar, agar tidak menggangguku saat mengobrol serius dengan Radit.


"Radit, sayang . Mamah ingin bertanya kepada kamu, tolong jawab yang jujur ya. "


Radit menganggukan kepala, setelah aku mengatakan perkataan yang lembut dan tak lupa memperlihatkan senyuman padanya.


Agar anakku ini tidak ketakutan dan merasa tertekan.


Saat itulah aku menunjukkan jam tangan dan juga kalung mas di hadapan Radit.

__ADS_1


Membuat anak keduaku membulatkan kedua matanya.


__ADS_2