
Tangan bergetar, melihat pemadangan yang tak lazim dan tak pantas. Pintu sedikit terbuka, membuat pembantu di rumah Galih melihat pemandangan yang tak seharusnya terjadi.
Wanita bernama Ainun itu terlihat tersenyum dalam posisi berbaring, sesekali ia mengusap pelan pipi Galih, dengan rayuan dan perkataan lembutnya.
"Ini tidak seharusnya terjadi, saya harus bertindak. Sebelum Tuan Galih tergoda dengan Nyonya Ainun yang bukan lagi istrinya. "
Wanita tua yang sudah lama bekerja di rumah Galih, dengan sengaja membuka pintu kamar Ainun, dengan begitu keras. Sampai dimana mereka kaget, sedangkan Galih beberapa kali mengusap wajahnya, seraya beristigfar.
"Maaf tuan, saya melihat Nyonya Ainun pingsan, jadi khuatir ingin melihat ke adaanya. "
Ainun benar benar kesal dengan pembantu Galih yang tak sopan, menganggu semua rencana yang ia susun, saat Anna tidak ada di rumah. Menggerutu kesal dalam hati dengan kedua mata menatap tajam penuh kebencian.
Sang pembantu paruh baya itu menundukkan pandangan ke atas lantai, berusaha memalingkan tatapan Ainun yang begitu mengerikan.
Ainun seperti marah besar, membuat wanita berhijab biru itu memarahi sang pembantu di rumah Galih. " Eh, Mbok kalau mau masuk ke kamar orang itu, ketuk pintu dulu ke, panggil dulu ke. Jangan asal nyerobot gitu. "
Galih mengacak kasar rambutnya, merasakan rasa frustasi yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata kata. Lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang mancung pergi dari hadapan pembantu dan juga Ainun.
Kini tinggal mereka berdua, dengan penuh rasa kesal dan amarah, Ainun bangkit, menghampiri pembantu itu. " Ngapain kamu ikut campur urusanku. Hah, kerjaan kamu itu tinggal masak, cuci piring, cuci baju. "
"Maaf, saya hanya menyelamatkan keluarga ini dari marabahaya seperti anda Nyonya, seharusnya Anda itu berterimakasih terhadap Nyonya Anna, yang sudi menampung anda di rumah Tuan Galih. Bukan malah memanfaatkan kesempatan yang ada. "
Plakkk ....
Ainun menampar pipi pembantu di rumah, ia menunjuk dan berkata. " Jangan sok nasehati saya, kamu tahu sendirikan siapa yang pertama kali di bawa ke rumah ini. Itu saya, yang merusak rumah tangga itu ialah Anna bukan saya. KAMU PAHAM? "
"Tapi anda sudah di talak oleh tuan, jadi tak sepantasnya anda melakukan semua ini. Saya akan melaporkan semuanya. "
Ainun menarik tangan wanita paruh baya dan mengancam dengan berkata. " Jika kamu melakukan semua itu, saya yakinkan hidupmu di rumah ini tak akan lama lagi. "
"Saya tak akan takut, dengan wanita gila dan stres seperti anda. Bagaimana pun saya akan memberi tahu Nyonya Anna, agar sampah seperti kamu tidak di pungut lagi di rumah ini. "
Wanita paruh baya itu pergi, meninggalkan Ainun, dengan wajah penuh keyakinan. Ia tak takut dengan acaman apapun dari sosok wanita bernama Ainun itu.
Setelah kepergian sang pembantu rumah, Ainun mengobrak abrik kamarnya dengan rasa kesal yang masih mendera.
__ADS_1
"Padahal aku hanya ingin bersama Galih. " Ainun menangis, kegilaanya masih melekat pada diri wanita berhijab biru itu.
Ia tertawa dan berkata kembali. " Aku akan menyingkirkan wanita paruh baya itu. "
*******
Galih yang sudah berada si dalam kamar, kini duduk dengan kedua tangan menahan jidat. " Ada apa dengan Ainun. Dulu saat aku berdekatan dengannya di tak mau, di sentuh. Di urus olehku. Tapi sekarang dia malah mendekatiku dengan cara kotor. Ada apa sebenarnya? "
Galih mencoba . menghubungi istrinya, dia ingin tahu keberadaan Anna sekarang ada dimana?
"Halo, mas ada apa? "
"Kamu sudah sampai mana?! "
"Aku masih di jalan mas, baru juga pergi, ada apa? "
"Aku susul kesana ya. "
"Ya sudah kalau kamu memang memaksa. "
"Ya."
Galih dengan terburu-buru memakai baju, untuk segera menyusul Anna di rumah sakit, ia tak mau jika sewaktu waktu, Ainun menggodanya lagi.
Saat keluar dari kamar, Ainun teryata sudah menunggunya di pintu. Membuat Galih sontak kaget, karena tiba tiba saja Ainun berdiri dengan menatap Galih.
"Ngapain kamu ada di sini, Ainun. Bukanya kamu tadi di kamar. Sedang beristirahat. "
Tangan putih Ainun, mulai meraba pada dada bidang Galih, membuat lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang mancung menyingkir. " Galih, kenapa kamu malah menghindar? "
"Cukup Ainun, jangan bodoh kamu. Aku ini bukan siapa siapa kamu lagi, jangan karena aku. Membantumu kamu bisa seenaknya. Tolong semua ini ada batasanya. "
Ainun malah tertawa dengan Galih yang mencoba menghindar, membuat Ainun malah memeluk tubuh mantan suaminya dan berkata. " Aku. Mencintai kamu, Galih. "
Mecoba melepaskan pelukan Ainun," Cukup, Ainun. Aku tidak mau melakukan hal yang kotor, semua ini tidak benar. "
__ADS_1
"Sudahlah, tak usah munafik Galih, aku juga tahu kamu mengiginkanya kan, jangan sok menolak, di hati kamu ini masih ada aku. Ainun. "
Telunjuk tangan Ainun, menunjuk pada dada bidang Galih, membuat getaran di dalam jiwa Galih hampir tak terkontrol. Ainun membisikan sesuatu pada telinga Galih." Ayo lakukan sebelum istrimu kembali pulang. "
Dreet ....
Ponsel berdering kembali, membuat Galih merogoh saku celanan, melihat siapa yang menelepon. Akan tetapi Ainun terus saja mengodanya, memegang perlahan tangan kekar yang memegang ponsel itu dan menjatuhkan pada atas lantai.
"Sudah, hanya ada aku dan kamu. "
"Halo, mas."
Mendengar suara Anna, membuat Galih sadar. Ponsel yang terjadi itu kini dengan sepontan mengangkat panggilan telepon dari Anna.
"Halo, mas. "
Galih mulai mengambil ponsel yang berada di atas lantai untuk segera mengangkatnya. " Halo, sayang. "
Ainun yang berada dihadapan Galih, menggerutu kesal dengan bernada pelan. " kenapa si Anna ini pake acara menelepon segala. "
"Aku tunggu kamu mas, di sini. Kalau bisa kamu naik taksi saja. Biar nanti kalau pulang bareng sama aku pake mobil. "
"Iya sayang. "
Panggilan teleponpun dimatikan sebelah pihak, hanya begitu saja. Dan tak ada obrolan lain lagi. Galih mulai berangkat pergi, meninggalkan Ainun dengan wajah tak puas menggoda mantan suaminya itu.
"Galih, kamu mau kemana, kita belum selesai melakukannya. "
Galih menatap tajam, membalikkan badan dan berkata. " jangan bicara hal seperti itu lagi, aku ingatkan kamu lagi. Jika kamu berani, tak segan segan akan aku masukan kamu ke rumah sakit jiwa sekarang juga. "
Ketegasan Galih membuat Ainun terdiam, seakan ia menjadi wanita murahan di depan Galih karena tak bisa membuat mantan suaminya bertekluk lutut dan ia miliki lagi.
Menggengan erat kedua tangan, Ainun mejawab. " Galih. Aku .... "
"Sudah cukup, jangan jadikan alasan sakitmu itu bisa seenaknya denganku. Aku ini bukan seorang lelaki berengsek, yang bisa tergoda. Aku punya batasan dan mempunyai harga diri sebagai lelaki. Ingat itu. "
__ADS_1
Ketajaman nada bicara Galih, membuat Ainun diam dan tak bisa menjawab.