Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 196


__ADS_3

Intan yang sudah keluar dari rumah Ainun, kini merasakan rasa sakit pada hatinya dengan penghinaan saat dirinya dipecat oleh Galih dan juga ditipu oleh majikannya sendiri yaitu Ainun.


Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Benci dan kesal menggerogoti pikirannya. Ingin rasanya Intan membalaskan dendam terhadap Ainun dan keluarga Galih, agar dirinya merasa puas dan tidak memendam semua perasaan kesal untuk sosok wanita yang dulu menjadi majikannya.


Intan meremas ujung baju yang ia pakai, di dalam perjalanan untuk mencari sebuah kontrakan kecil. ya tak mau tinggal diam, harus membalaskan semua kesalahan yang dilakukan Ainun kepada dirinya.


Walau rasanya begitu sulit, tapi Intan akan berusaha membuat Ainun menderita dan kini menghancurkan rumah tangga Galih dan Anna.


"Lihat saja apa yang akan nanti aku lakukan, kalian bisa bahagia, tapi tidak dengan nanti."


Intan masih memegang uang gaji yang diberikan Galih untuk dirinya, masa iya bekerja di rumah Ainun. Uang gaji yang diberikan Galih lumayan cukup besar.


Tentu saja bisa membuat Ainun hancur, sejadi jadinya.


Intan bukan sembarang orang yang bisa menyadari kesalahannya begitu saja, ia seperti Raka yang gampang sakit hati dan membalaskan semuanya pada orang yang dibencinya.


Intan tak percaya dengan karma, ia bisa melakukan apa saja demi dirinya merasa cukup puas, melihat orang yang ia benci hancur.


"Siap-siap saja, Ainun. Kamu akan merasakan hidup penuh tekanan olehku, jadi aku pastikan kamu akan menderita dan hidupmu penuh dengan tangisan."


Pada akhirnya, Intan menemukan sebuah kontrakan kecil untuk ia tempati. Wanita dengan rambutnya yang panjang dan terikat rapi, mulai membayar kontrakan yang akan ditempati.


Intan berjalan melihat ruangan kecil membuat dirinya merasa tak nyaman. Namun bagaimanapun Intan harus bisa melawan rasa tak nyamannya saat tinggal di kontrakan yang baru saja ia sewa.


"Aku harus bisa menjalankan misiku, bagaimana pun itu terjadi, demi menghancurkan orang yang sudah semenah menah padaku."

__ADS_1


Intan tertawa terbahak-bahak, Iya tak memperdulikan orang-orang di sekitarnya, merasa terganggu dengan tawanya. Sampai suara ketukan pintu terdengar jelas mengetuk pintu kamar Intan.


Wanita dengan rambutnya yang panjang terikat, membuka pintu kontrakan. Melihat Siapa orang yang sudah datang dan mengetuk pintu dengan begitu keras.


Ternyata orang yang mengetuk pintu dengan begitu keras, adalah tetangganya sendiri. Wanita tua itu memarahi Intan habis-habisan karena begitu berisik ketika tertawa.


"Heh, kamu kalau tertawa bisa dikecilin nadanya tidak. Orang orang yang mengontrak di sini itu merasa terganggu dengan tertawamu begitu nyaring terdengar keluar."


Intan anak baru. Hanya bisa pasrah saat dimarahi oleh nenek tua yang menjadi tetangga kontrakannya itu.


Nenek tua itu memperlihatkan wajah kesannya di hadapan Intan, seperti memberi kode agar dia tidak berisi kembali." aku sudah peringatkan kamu kali ini, kalau kamu sampai berisik lagi. Aku pastikan kamu terusir dari kontrakan ini."


Mendengar sang nenek tua tentulah membuat Intan hanya bisa mendelik kesal dan bergumam dalam hati," dasar nenek tua tukang ngatur-ngatur, mau mati juga bikin kesel orang saja. Nggak tahu apa, orang lagi bahagia tetap saja diganggu."


Intan yang begitu kesal dengan tatapan wanita tua itu, menutup pintu dengan begitu keras. Mengerutu kesal di dalam kontrakan, "dasar nenek tua tidak tahu diri."


Ketukan pintu terdengar kembali, membuat Intan semakin kesal dan murka," apa lagi si nenek tua itu, benar benar bikin aku kesal saja."


Rasa kesal yang semakin menggebu, pada akhinya Intan, membuka pintu kamar kosannya.


Ia dengan beraninya memarahi orang yang datang mengetuk pintu," Apalagi sih nek sudah aku katakan aku tidak akan berisik lagi."


Intan benar-benar tak menyadari bahwa orang yang datang mengetuk pintu ke kedua kalinya adalah sahabat yang ia perintahkan untuk datang ke kontrakan baru.


"Intan, Kamu ini kenapa sih sebenarnya, Aku ini bukan nenek-nenek aku ini Justin. Ngapain coba kamu marah-marah tak jelas seperti ini."

__ADS_1


Intan tak menyangka jika sahabatnya itu langsung datang setelah ia hubungi untuk memberikannya pekerjaan," Ya ampun Justin Aku kira kamu itu nenek tua tetangga baruku, yang tadi marah-marah, karena aku berteriak dan tertawa terbahak-bahak. "


"Ya sudah, ayo cepat masuk Justin, kamu pasti kelelahan setelah perjalanan yang cukup lumayan lama."


Intan mempersilahkan tamunya untuk segera masuk ke dalam kontrakan kecilnya, Justin yang baru saja melangkahkan kaki merasa tak nyaman dengan kontrakan baru yang ditempati Intan.


Iya begitu tak yakin jika Intan sanggup membayarnya hanya demi mengganggu wanita yang sudah menghancurkan karirnya saat itu.


"Intan kamu itu tidak salah milih tempat, masa iya kamu tinggal di kontrakan kecil seperti ini, rasanya itu tak mungkin lah, memangnya tidak ada tempat lain selain kontrakan kecil ini." ucap Justin berusaha meminta pengertian pada Intan, agar tidak tinggal di tempat kecil dan kumuh.


Mendengar apa yang dikatakan Justin, tentulah membuat Intan ingin sekali tinggal di tempat yang lebih nyaman daripada kontrakan kecil kumuh, dan mempunyai tetangga yang begitu rese seperti tadi.


Kenapa Intan tinggal di kontrakan, karena melihat situasi keuangan yang takut kurang untuk biaya hidup kedepannya. Intan Harus berpikir dengan jernih terlebih dahulu, ia takut saat dirinya menyewa kontrakan yang lebih besar dan keuangannya menipis, tentu saja akan membuat dia merasa kesulitan.


Demi merencanakan rencananya dengan begitu mulus, terpaksa Intan harus tinggal di kontrakan kecil.


Tapi setelah Intan berhasil, membuat musuhnya menyerah dan juga menderita, saat itulah Intan akan pergi jauh.


Justin yang tak mau berlama-lama tinggal di kontrakan kecil milik Intan, membuat ia terburu-buru berpamitan pergi kepada sahabat-sahabatnya," Intan cepat katakan apa keinginan kamu, aku akan mengerjakan semuanya asalkan kamu sanggup membayarku saat ini juga. kamu tidak sanggup membayarku. kemungkinan besar aku akan cepat pulang dari kontrakan ku mau yang tidak aku sukai."


saat itulah Intan mulai menjelaskan semuanya pada sang sahabat. apa saja yang harus dilakukan sahabat ya itu. Agar ia bisa mendapatkan bayaran dari intan.


" Apa yang kamu kerjakan itu sangatlah mudah, tapi .... "


Belum perkataan Intan terlontar semuanya, Justin dengan lancarnya bertanya," jadi cepat katakan. Apa pekerjaannya kalau memang itu begitu mudah, cepat katakan aku sudah tidak sanggup lagi tinggal di kontrakan kecil ini. rasanya sesak dan tak nyaman." Ucap Justin dengan keringat dingin bercucuran, ya merasakan hawa panas dari kontrakan kecil Intan..

__ADS_1


__ADS_2