
Perawat perlahan melepaskan semua infusan dan juga alat lainya pada tubuh Danu, dokter yang belum pergi dari hadapan Bu Dela, mempersilahkan masuk untuk melihat sebentar, karena mayat akan segera diurus.
Tubuh yang terduduk di atas lantai, mulai bangkit. Dengan isak tangis yang masih terdengar, dibantu berdiri oleh Indah," ayo, bu. Indah bantu."
Bu Dela bangkit sembari menghepaskan tangan Indah begitu saja. Masuk dengan berlari tergopoh gopoh menuju ruangan anak semata wayangnya.
"Danu."
"Danu, bangun nak, ini ibu. Kenapa kamu tingglin ibu sendirian."
Wanita tua itu, mengoyang-goyangkan kedua pipi anaknya agar bangun, tapi Danu yang sudah tak bernyawa hanya tediam dan terbujur kaku.
Indah berusaha tetap tenang, berpikir positif saat tanganya terhempas Bu Dela, menghampiri dengan memegang bahu mantan mertuanya.
"Bu?"
Isak tangis itu tiba tiba terhenti, dikala Indah memanggil Bu Dela, wanita tua itu membalikkan badan menatap ke arah Indah dengan tatapan penuh kebecian. Kedua mata membulat menyimpan kekesalan, jari tangan mulai menunjuk pada wajah Indah dengan berucap. " kamu, semua ini gara gara kamu."
Deg ....
Bu Dela melayangkan kematian Danu, gara gara Indah yang memang tak tahu letak permasalahanya bagaimana.
Indah hanya menatap dengan sayu menjawab perkataan Bu Dela, yang terus menyalahkan semua kematian Danu akibat ulahnya.
"Bu, kenapa menyalahkan saya?"
"Kenapa? Jelas kamu salah, kamu sudah membuat anak saya mati!"
Indah bingung, ia kini membantah tudingan wanita tua yang berada dihadapanya." Bu, kematian Danu itu sudah takdir. "
Plakkk ....
Tamparan keras melayang pada pipi kiri Indah dari tangan Bu Dela yang terus menyalahkan atas kematian anaknya.
"Kenapa ibu tampar Indah." Memegang pipi, merasakan rasa sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata.
__ADS_1
"Coba saja kemarin kamu mau menuruti kata ibu, mungkin Danu tidak akan mati seperti ini, kamu tahu, sebelum kematiannya. Dia terus menyebut nama kamu Indah, mencari kamu, menunggu kamu. Tapi kamu malah mengabaikannya, kenapa? Ibu hanya minta kamu menemani Danu sehari saja, kenapa kamu begitu susah mengerti?"
Deni melihat perdebatan antara Indah dan Bu Dela, membuat ia langsung masuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Indah."
Bu Dela menatap ke arah Deni, yang langsung memperhatikan istrinya." Akhinya kamu datang juga, cepat bawa perempuan ini keluar dari sini."
Deni merasa heran kenapa Bu Della berubah menjadi marah kepada Indah, padahal dalam sambungan telepon wanita tua itu menangis membutuhkan kehadiran Indah di rumah sakit.
"Kenapa Ibu memarahi Indah? Bukannya Indah sudah menuruti kemauan ibu, dan sekarang kenapa ibu malah memarahi istriku?"
"Kenapa aku sampai marah seperti ini, kamu lihat."
Bu Dela menunjuk tubuh Danu yang sudah terbujur kaku, sontak membuat Deni terkejut jika Danu sudah meninggal dunia.
"Sudah jelas apa yang kamu lihat, Deni. Anakku mati gara gara dia."
Telunjuk tangan wanita tua itu terus menunjuk menunjuk ke arah Wajah Indah, akan tetapi Deni sebagai seorang suami tak tinggal diam.
Bu Dela yang tetap saja menyalahkan Indah sebagai pembunuh anaknya," untuk apa bukti, sudah jelas anak saya sekarang sudah mati. Kalian pasti senang dengan semua ini."
Deni tak habis pikir dengan wanita tua yang berada di hadapannya saat ini, Bu Dela terus menekan istrinya untuk mengakui kesalahannya, padahal jelas-jelas Danu mati karena penyakitnya sendiri.
Deni yang tak mau meladeni wanita tua itu, kini menarik tangan istrinya untuk segera pergi dari ruangan Danu. Akan tetapi Indah tetap saja tidak mau pergi dari hadapan mantan mertuanya, ia malah berdiri dan ingin menghampiri mayat Danu.
Terlihat mata Bu Dela tak suka dengan Indah yang berjalan, semakin mendekat ke arah mayat anaknya. Membuat tangan wanita tua itu, menghentikan tubuh Indah.
"Aku sudah peringatkan kamu jangan mendekatti anakku, kamu adalah penjahat Indah. "
Mendorong tubuh Indah, hingga wanita bermata sipit itu terkulai jatuh di atas lantai," Bu. Aku hanya ingin ...."
Belum perkataan Indah terlontar semuanya, Bu Dela membentak mantan menantunya. " Cukup, cepat kamu pergi dari hadapanku, tak sudi jika mayat anakku disentuh oleh wanita yang tak punya hati nurani sepertimu, Indah."
Deni berusaha membantu istrinya untuk berdiri, " Indah, sudahlah sebaiknya kita pulang dari sini."
__ADS_1
"Tapi, Den."
Dada Bu Dela turun naik turun, memperlihatkan kekesalan dan juga amarah yang menumpuk pada kepalanya.
"CEPAT PERGI DARI SINI."
Nada bicara Bu Della semakin tinggi saat mengusir kedua insan yang berada di hadapannya.
"Ayo Indah kita pergi dari sini."
Deni membantu istrinya untuk cepat berdiri dan pergi dari ruangan Danu.
Mereka berdua yang sudah tak tahan dengan amarah dan juga kata-kata yang tak menyenangkan keluar dari mulut Bu Della, pada akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu. Indah menangis di saat ia pergi menatap sekilas ke arah mayat mantan suaminya.
Membuat Deni mengerti apa yang dirasakan istrinya, tapi dia juga khawatir dengan mental Bu Della yang begitu kejam menyalahkan dan juga hampir membuat Indah terluka.
Dengan terburu-buru Deni membawa Indah masuk ke dalam mobil, terlihat wajah istrinya yang begitu sedih.
"Ayo, Indah."
Saat menyuruh Indah untuk masuk ke dalam mobil, terlihat sekali kedua mata Indah masih berat meninggalkan rumah sakit yang di mana terdapat mayat mantan suaminya itu.
Deni melaksoni istrinya yang tak kunjung masuk ke dalam mobil, hingga ia keluar dari dalam mobil dan berkata." Apa kamu mau berdiam diri di luar menunggu mayat Danu keluar dari rumah sakit, Ayolah Indah kita pergi dari sini. "
Ajakan sang suami tak digubris oleh istrinya sendiri, Indah tetap saja dia menatap rumah sakit," Indah, ayolah. Apa kamu tidak kasihan dengan adik kamu sendiri."
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Deni membuat Indah kini bertanya." maksud kamu."
" Adik kamu Ana masuk ke rumah sakit. Jadi sekarang dia butuh kamu. Apa kamu akan terus memperdulikan mantan suamimu itu? Daripada adik kamu sendiri yang jelas-jelas keluarga kamu satu-satunya, Indah. Sudahlah jangan memperdulikan lagi perkataan Bu Della dia memang seperti itu. Tak mau mengakui takdir."
Indah menatap dalam dalam suaminya, ada raut wajah menyesal, " kenapa lagi? kamu merasa menyesal atau merasa semua ulahmu. Dari pada memikirkan hal seperti itu sebaiknya kita doakan Danu tenang dialam sana, aku yakin dia mati dalam keadaan tanpa beban."
Menasehati Indah, hingga dimana Galih menelepon Deni saat itu juga.
"Ada apa?"
__ADS_1