
Intan tak segan-segan menjewer telinga Lulu untuk membersihkan suatu perkataan," kamu ini tahu sendiri kan kalau aku itu tidak suka anak yang cengeng, Jadi kalau kamu terus-menerus menangis, aku tidak akan memberikan kamu makanan, biarkan kamu kelaparan di sini sampai mati."
Lulu semakin ketakutan, ia menundukkan pandangan tak berani menatap ke arah Intan,
"Maafkan Lulu. Kak Lina, jangan buat Lulu kelaparan."
Dengan lantangnya Intan menjewer dengan begitu keras telinga Lulu, ia melepaskan tangannya setelah puas melukai anak itu.
"Makanya jangan berisik, kalau hidupmu tidak mau jika aku buat menderita."
Lulu menganggukkan kepala lagi, ia kini terdiam hingga Intan menyuruhnya untuk segera tidur, " cepat tidur, perjalanannya sangat jauh."
Mereka mulai tertidur di dalam bus.
*******
Sedangkan Galih yang baru saja sampai di terminal bus, berusaha mencari keberadaan Lulu. Ia melihat jika bu sudah pergi dari terminal.
"Sial, aku terlambat."
Galih mengacak rambutnya, seakan frustasi dengan Lulu yang dibawa pergi oleh Intan. Sudah jelas Intan membuat Ainun kini kritis.
Dan sekarang Intan begitu nekat membuat Ana menangis.
"Sialan, apa sih kemauan si Intan ini. Kenapa dia dengan nekadnya. Membawa Lulu."
Galih, mulai mempertanyakan kepada sopir yang masih menangkring di terminal. Ia ingin tahu bus itu akan membawa para penumpang ke mana.
"Maaf sebelumnya Pak, saya mengganggu waktunya. Mau tanya bus ini membawa penumpang ke mana saja ya?"
"Tentunya kedaerah jawa pak, hanya saja kadang penumpang turun lagi dari bus ini! Untuk naik ke bus yang mengarah ke daerah lain!"
"Ke daerah lain masud bapak."
Sopir bus itu mulai menjelaskan semua penumpang akan turun sesuai yang mereka minta, tidak turun ke Terminal selanjutnya, mengarah ke daerah yang sangat jauh. Sesuai nama lokasi tercantum dalam bus.
"Terima kasih pak."
Galih mulai pergi untuk menemui istrinya kembali, memberitahu bahwa Lulu tidak ditemukan di terminal bus, di mana Intan sudah membawanya pergi.
Anna mengirim pesan pada sang suami, jika dia ikut pada mobil ambulans. Untuk mengantarkan pengasuh Lulu ke rumah sakit.
(Mas, aku ikut mobil ambulan untuk mengantarkan Lina.)
Galih di landa kebingungan, karena ia harus mencari Intan kemana lagi. Jika mencari ke kampung halaman rasanya tak mungkin. Karena bisa saja Intan tak ada di sana.
__ADS_1
"Intan kamu kabur kemana."
Galih pulang dengan kekecewaan tak membawa Lulu sama sekali.
Setelah sampai di rumah sakit, Galih melihat Anna begitu panik, tengah menunggu di ruangan Lina.
Galih mendekat ke arah sang istri, dan bertanya." Bagaimana keadaan Lina?"
"Lina, sedang ditangani dokter, mas!"
Anna melirik kearah belakang suaminya, berharap jika Galih membawa Lulu.
"Lulu, mana Mas?" tanya Anna, kedua air matanya terus mengalir membasahi kedua pipi.
"Maafkan aku An, juga tidak ditemukan di terminal bus, sepertinya Intan sudah membawanya pergi!" jawab Galih, Anna menangis, meraung terduduk di atas lantai.
Ia ingin bertemu dengan Lulu sekarang juga, tapi apa daya, Intan sudah berhasil membawa Lulu pergi jauh.
Galih mencoba memegang kedua bahu Anna, agar sang istri duduk di atas kursi." Ayo sayang, kamu duduk di sini."
Anna tak bisa mengendalikan kesedihannya, ketika mendengar dulu tidak ditemukan oleh Galih.
Farhan keluar dari ruangan untuk mencari keberadaan Galih dan juga Anna, Kebetulan sekali Lina dibawa ke rumah sakit di mana Ainun dirawat.
"Pah, mamah."
Galih mencoba memberikan kode pada anaknya, agar tidak bertanya sejenak di saat Ibunya tengah menangis, menempelkan jari tangan pada bibir.
Farhan memeluk erat Anna, berusaha menghilangkan kesedihan wanita yang sangat ia sayangi.
"Farhan, Lulu. Di culik."
Mendengar penjelasan dari sang mama, membuat Farhan merasa tak percaya. Bagaimana bisa adiknya itu sampai diculik.
"Apa Kak Intan berulah lagi, pah?" tanya Farhan pada sang papah.
Galih mulai menceritakan semuanya, bahwa memang yang menculik Lulu adalah Intan. Sepertinya Intan nekat melakukan semua itu, agar dirinya tidak terjerat dalam penjara.
"Kak Intan benar benar keterlaluan." Farhan terlihat murka setelah mendengar penjelasan dari sang papa.
********
Bus kini berhenti di persimpangan jalan, di mana Intan langsung membangunkan Lulu yang masih terlelap tidur," bangun Lulu."
Anak kecil itu terbangun dari tidurnya dengan mengusap-usap kedua mata.
__ADS_1
"Sudah sampai ya, kak Intan."
"Iya, ayo kamu lapar nggak."
Lulu menganggukan kepala sembari memegang perutnya. Intan mulai memegang tangan Lulu untuk segera turun dari dalam bus.
Langkah Lulu begitu lambat, membuat Intan kesal. Dengan kejamnya ia menyered tubuh mungil itu. Intan tak sadar jika orang-orang tengah menatap kelakuannya yang begitu tega kepada anak kecil.
"Kalau jalan itu bisa lebih cepat tidak," bentak Intan pada Lulu, anak itu mulai menangis. Hanya saja Lulu ingat dengan ancaman Intan jika dirinya menangis dia tidak akan memberi jatah makan untuk Lulu.
Sesakit apa pun dilakukan Intan, Lulu berusaha dengan keras menahan tangisannya.
Intan mulai membawa Lulu ke suatu tempat makan, yang lumayan sedikit menggoda lidah.
"Ayo masuk."
Intan memesan beberapa menu makanan terlihat mewah di hadapannya. Lulu yang melihat hidangan sudah tersedia di atas meja, dengan terburu-buru menyantap makanan.
Intan melihat Lulu lancang memakan masakan yang ia pesan, membuat darahnya seketika mendidih. Ia langsung menegur Lulu saat itu juga.
"Heh, siapa suruh kamu makan itu."
Lulu menghentikan kunyahannya dan menjawab," Lulu lapar Kak Intan."
"Taroh sendoknya." Tegas Intan, anak kecil berusia tiga tahun itu kini menaruh sendok makan yang ia pegang, Intan mengambil makanan yang baru saja dimakan oleh Lulu.
"Ini makanan kakak, kalau mau makan ini."
Intan memberikan satu piring nasi putih kepada Lulu, tampak lauk pauk sedikitpun.
"Kenapa?"
Lulu ingin sekali mengelak jika nasi yang diberikan Intan bagi Lulu terasa tak cukup bagi perutnya.
"Nggak kak!"
"Ya sudah, cepat habiskan makanannya, setelah ini kita naik angkutan umum."
Lulu dengan terpaksa hanya memakan nasi saja, sedangkan Intan begitu mewah dengan memakan segala jenis lauk pauk.
Lulu yang melihat lauk pauk di depan Intan sangatlah tergoda, ia ingin mencicipi sedikit saja hanya untuk menemani nasi putihnya.
Namun sayangnya Lulu tak berani karena bentakan intan dan juga pukulan menyakitkan, membuat ia ketakutan dan hanya bisa diam menerima perlakuan diberikan Intan untuknya.
Lulu sudah menghabiskan nasi yang dipesan oleh Intan, sebenarnya perutnya masih terasa lapar. Sampai ia berucap pada Intan." Kak, Lulu masih lapar, apa boleh Lulu memesan lagi nasi?"
__ADS_1
Intan mencubit tangan Lulu dan berkata," tidak boleh, jatah kamu hanya satu piring nasi putih saja."