
Dua hari acara pernikahan di gelar.
Apa yang dikatakan Galih terwujud menikah dengan repsepsi bersama sama, hal yang jarang dilakukan orang lain.
Pernikahan sudah terjalin oleh kedua insan Galih dan Anna, begitupun Indah dan Deni hanya bebeda hari. Sedangkan acara repsesi bersamaan.
Galih menyediakan kemewahaan dihari repsesi pernikahnya, ia tak menyangka semua berjalan dengan sangat baik, tidak ada halangan apapun. Rasanya sang maha kuasa begitu adil kepada dirinya.
"Anna, aku tidak menyangka bisa bersama kamu saat ini. Memakai baju pernikahan dengan tamu yang melihat kita seperti putri raja, hatiku benar benar bahagia Anna. " Ucapan dilayangkan Galih begitu saja, Anna yang mendengar tentu saja senang dan bahagia. Hatinya merasakan apa yang dirasakan Galih saat ini.
Mereka berdua menikmati hari respesi pernikahan, yang baru saja gelar.
"Apa kamu menyukainya, Anna? "
Anna menganggukan kepala saat pertanyaan dilayangkan Galih. " Saya sangat menyukainya, pak! "
Saat duduk di kursi pelaminan, Anna menatap ke arah Galih. Dimana ia sedikit murung. " Apa saya salah berucap, pak? "
"Maaf Anna, sebelumnya. Apa bisa kata Pak itu, diganti dengan kata kata mesra! " jawaban Galih membuat, Anna tentu saja gugup dan berpura pura tak mengerti. " maksud bapak. "
"Kitakan sudah menikah, apa bisa sebutan pak itu diganti jadi sayang? "
"Mm. Saya usahakan, pak eh salah sa-ya-ng. "
Galih tersenyum kecil, dengan menjawab. " pelan pelan saja nanti juga terbiasa kok. "
Ada rasa malu dalam diri Anna, karena ia seperti merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Memegang dada, mengenggam erat. Jantung berpacuh begitu cepat.
"Hari ini sudah seperti begini, bagaimana nanti saat malam pertama. " Gumam hati Anna.
Sekilas melirik ke arah wajah tampan di sampingnya, senyumnya. Hidungnya badanya. Anna seperti wanita yang beruntung mendaparkan sosok lelaki idaman.
Di saat pernikahan di gelar, Deni dan juga Indah terlihat gelisa. Indah dari tadi mengusap terus menerus rintikan keringatan yang keluar dari jidanya, berusaha menenangkan hati dan pikirannya.
Hingga dimana sosok seseorang datang menghampiri dengan senyuman dari kedua ujung bibir yang terangkat.
"Danu."
__ADS_1
Deni mendengar Indah menyebut nama mantan suaminya, membuat Deni melirik ke arah Indah, kedua mata istrinya tak mengedip saat melihat sosok lelaki berpakaian rapi dengan wajah sedikit muram. Kedua bola mata merah, dengan bawah mata hitam.
Keadaan Danu terlihat menyedihkan, sepertinya ia depresi dengan Indah yang menikah. " Danu, kenapa dengan dia? "
"Cantik, Indah begitu cantik. "
Danu semakin mendekat, ke arah Indah. Akan tetapi Deni yang berada di samping Indah mencoba menjauhkan Indah dengan menarik tangan istri sahnya itu dari mantan suaminya agar tidak terlalu dekat.
Sang ibunda Danu ternyata ikut serta ke pernikahan Indah. Ia menangis dan memeluk mantan menantunya itu.
"Indah, selamat berbahagia ya, nak. "
Indah tersenyum di depan mantan mertuanya itu, melepaskan pelukan dan berkata. " terima kasih. Bu. "
Air mata mengalir keluar dari pelupuk kedua mata Indah, tangan yang sudah mengkerut itu, kini mengusap air mata yang berjatuhan, mengenai kedua pipi Indah.
"Jangan menangis, ibu ingin melihat kamu tersenyum dalam kebahagian. "
Indah menganggukan kepala, setelah mendengar tutur kata mantan mertuanya itu. Deni berusaha tenang, memaklumi apa yang ia lihat di depan mata kepalanya sendiri.
"Indah."
"Maafkan, Mas. Indah. Mas selama ini, terlalu egois. Mas sudah menyia nyiakan kamu. "
Hati Indah seakan rapuh setelah mendengar kata maaf dari Danu, bukan waktu yang sebentar menjalani pernikahan dengan lelaki yang kini menjadi mantan suaminya. "Indah sudah memaafkan mas. "
"Indah."
Danu sepertinya ingin memeluk Indah, tapi ia tak berhak karena Indah bukan siapa siapanya lagi. Hatinya benar benar remuk saat ini, ia tak bisa mengatakan satu patah kata setelah meminta maaf.
Menarik napas, berusaha kuat. Danu mencoba membalikkan badan meninggalkan dekorasi pelaminan, hingga di mana sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
Danu terkulai lemah di atas lantai, sang ibu panik. Begitu pun dengan Indah, perlahan ia mulai menghampiri Danu. Tapi Deni berusaha memegang tangan Indah mencekram agar tidak mendekat pada Danu.
"Ini pernikahan kita, kak Indah. Jangan hancurkan momen bahagia kita."
Kata kata Deni, diabaikan oleh Indah. Ia merasa kasihan pada Danu melepaskan tangan kekar Deni, berjalan cepat menghampiri lelaki berperawakan tinggi itu.
__ADS_1
"Danu, bangun. "
Indah mencoba memegang kedua pipi Danu. Dimana Deni mengepalkan kedua tangan, sepertinya anak muda itu cemburu dan kesal dengan tingkah Indah.
Anna yang menyadari kerumunan tak kunjung usai di sebelah kakaknya membuat ia penasaran.
"Pak, eh lupa sayang. Kamu lihat tidak, di sebelah panggung kak Indah begitu rame. kenapa ya? "
Menunjuk dengan jari tanganya, Galih kini mengajak Anna menghampiri kerumunan itu.
"Ya sudah, kita lihat ke sana! "
"Baiklah."
Anna dan Galih mulai berjalan menuju kerumunan di sebelah Indah, melihat apa yang sebenarnya terjadi?
Setelah mendekat, betapa terkejutnya Anna melihat Danu tergeletak di atas lantai . Indah menangis histeris begitupun dengan ibunda Danu, Galih yang melihat kejadian itu kini menelepon pihak ambulan agar menangani Danu secepat mungkin.
Deni masih duduk di kursi pelaminan, ia seakan tak perduli dengan apa yang terjadi dengan Danu. Entah karena Indah tak mendengarkan perkataanya, harusnya Indah itu menurut dengan apa yang dikatakan Deni, bukan malah menghampiri Danu, jelas jelas Danu sudah banyak yang menolong.
Repsepsi pernikahan yang seharusnya indah, malah kacau balau seakan semua tak ada arti bagi Deni. Ambulan datang membawa Danu ke rumah sakit, sedangkan Indah malah ikut serta menaiki ambulan itu.
Anna yang menyadari semua itu, menarik tangan kakaknya, "Kakak, harus ingat Deni. Biarkan saja Danu ditangani dengan baik oleh dokter di sana. "
"Tapi, An. Kakak. Nggak tega lihat Mas Danu, sakit. "
"Buka pikiran kamu kak, kamu sedang menggelar acara pernikahan, jangan kamu rusak gara gara Danu dilarikan ke rumah sakit. Kasihan Deni. "
Indah mencoba melirik ke arah Deni, " sadar. Kamu sudah sah menjadi istri Deni, jangan hanya karena kasihan kamu menyia nyiakan ketulusan Deni."
Ucapan Anna ada benarnya, tapi Indah benar benar di terpal kebingungan.
"Ayo, kak. Kakak duduk lagi di kursi pelaminana. "
Sekilas menatap wajah Deni yang terlihat murka, Deni marah karena Indah tak menurut, seharunya Indah lebih dewasa dalam menangani masalah yang terjadi. Jangan karena kasihan mengabaikan Deni yang sudah jelas menjadi suaminya.
Anna menuntun Indah untuk duduk di kursi pelaminan, berdampingan dengan Deni. Walau sebenarnya hatinya merasa ketakutan dan cemas dengan keadaan Danu yang sekarang.
__ADS_1
Bagaimana dengan keadaan Danu.?