
****Hai hai, sahabat ini masih Pov Raka ya. ~~~~ Selamat membaca****
Di saat hari itu juga, aku mulai mengajak Ajeng untuk pergi ke kampung menemui ibu. Aku tak mau jika ibu di tekan di paska agar mengatakan yang sejujurnya dengan kejahatan yang sudah aku perbuat.
Oh tuhan, kenapa jadi ruyam seperti ini, padahal aku berusaha menyimpan baik baik masalah di masa lalu. Kenapa sekarang malah terbongkar setelah Ajeng hadir lagi di kehidupanku.
"Raka, awas. "
Teriakan Ajeng membuat aku mengerem dadak mobil bututku ini.
"Raka, apa kamu gila. Kita hampir mati karna kamu melamun, aku sudah bilang sama kamu. Jangan terlalu memikirkan masalah yang sedang terjadi saat ini, aku bisa menyelesaikan semuanya lewat ayahku yang polisi dan berpangkat besar ini. "
Ketika mengobrol dengan Ajeng, pastilah jawabanya seperti itu. Ayah dan ayah, wanita yang menjadi istriku yang sekarang ini tak memikirkan resiko yang terjadi jika bukti tabrakan itu sudah terkumpul.
Apalagi korban itu sudah sembuh akan hilang ingatanya, jika aku mengandalkan Ayah Ajeng, terus menerus. Suatu saat aku yang akan kena batunya, karna pangkat sang polisi tak akan abadi jika di iringi dengan kelicikan.
kenapa aku berkata seperti itu, karna Ayah Ajeng yang sudah tua, pastinya akan merasakan masa masa pensiun. Dan dari sanlah ayah Ajeng tak berguna lagi.
Ini semua membuat aku semakin gila.
Suara ponselku kini berbunyi kembali, membuat aku menatap pada layar ponsel. Ternyata ibu meneleponku. Ada apa lagi? Aku masih dalam perjalanan, jarak menuju kampung ibuku tentulah sangat jauh, banyak memakan waktu.
Ajeng masih dengan posisi duduknya yang santai. Aku yang fokus mengedarai mobil dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai ke kampung ibu. Kini memberikan ponselku, agar yang mengobrol dengan ibu adalah Ajeng.
"Raka, kenapa kamu malah memberikan ponsel bututmu itu kepadaku?"
"Aku memberikan ponselku, agar kamu mengangkat panggilan telepon dari ibu! "
"Malas."
Kata kata Ajeng membuat aku tentu saja kesal, wanita yang aku nikahi ini tak bisa di ajak kerja sama. Dia malah dengan santainya membersihkan kuku kuku bekas perawatanya itu.
"Ajeng. Cepat angkat. "
__ADS_1
Kedua bibir mengkerutnya membuat aku semakin kesal, pada akhirnya. Wanita selisih 10 tahun lebih tua dariku itu, kini menampilkan raut wajah terpaksanya.
Jika dia bukan istriku , mungkin aku sudah membuang dia di hutan. Hanya saja aku masih mengharagai Ajeng. Karna selama ini dia banyak membantuku dalam keuangan, apalagi aku yang pengangguran ini. Pastinya tidak mau kehilangan keuanganku ini.
Maka dari itu, aku memanfaatkan Ajeng. " Ayolah Ajeng. Angkat. "
Dengan berusaha tenang dan tak membentaknya. Pada Akhinya Ajeng menekan tobol untuk mengangkat panggilan telepon dari ibu.
Ajeng yang memang terlihat malas, kini mengeraskan suara ponselku. Hingga dimana suara itu muncul.
"Halo."
Ahk, sialnya. Suara itu adalah suara Anna, kenapa bisa ponsel ibu ada di tangan Anna. Ajeng yang tadinya terlihat tak bersemangat setelah mendengar suara Anna, kini terlihat senang ia memnfaatkan kesempatan itu untuk berdebat dengan Anna.
"Halo, Mas Raka. Kenapa kamu tidak membalas ucapanku? Apa kamu kaget \= aku meneleponmu dengan nomor ibu kandungmu sendiri. "
Aku benar benar di buat takut dengan ucapan Anna ini. Sepertinya, ia tak segan segan akan membuat hari hariku menyeramkan. Apalagi dengan nekadnya ia datang ke rumah ibu.
Ajeng kini membalas ucapan Anna dari sambungan telepon yang masih terhubung. "Wah, wah. Ternyata ada wanita buluk. "
"Wow, aku tak menyangka jika kamu mengeluarkan suara juga, Mas. Yang aku tahu saat ini, aku akan ketakutan. Dan pastinya berkeringat. "
Apa yang diucapkan Anna benar, aku tengah megalaminya. Tapi aku berusaha tetap santai tak mau terlihat seperti pencundang.
"Jaga ucapan kamu Anna, perkataan kamu itu tidak seperti apa yang aku alami saat ini. Aku tetap santai berbicara padamu. "
Anna malah tertawa terbahak bahak, aku takut dia mendengar nada nada gugup dan ketakutanku saat ini. " Baguslah kalau kamu tidak ketakutan, Mas. "
"Sudahlah jangan banyak basa basi Anna, cepat katakan apa yang kamu inginkan saat ini. Kenapa ibuku kamu datangi. Kalau kamu memang tak terima dengan perceraian ini, dan menyesali tindakan kamu itu. Kamu bisa ngomong secara baik baik padaku, jangan malah datang pada ibu dan mengancamku seperti itu. "
Ajeng malah memelototiku dan memukul bahu karna seakan tak terima jika aku menbahas perceraian, yang memang aku berusaha mengalihkan perkataan agar rasa takut akan kejahatanku terbongkar.
Jika terbongkar, entah bagaimana nanti dengan riwayat hidupku.
__ADS_1
"Helo, mas. Kamu gila ya, mana mungkin aku meyesali perceraian kita. Aku bersyukur sudah tidak menjadi istrimu lagi, karna sekarang aku jauh lebih bahagia. "
"Sombong kamu Anna, baru punya warung nasi begitu juga Sudah sok. "
Anna tertawa dengan apa yang aku ucapkan, membuat aku semakin tak karuan meladeni dia. " Sudahlah Mas, aku tahu kamu ini mengalihkan pembicaraan. Sebaiknya kamu cepat datang ke rumah ibumu, agar ibumu ini tak kujadikan sate atau mertua guling yang dibakar. "
Aku tak menyangka jika Anna senekad itu, ia berani mengancamku dengan membawa bawa ibu untuk di jadikan bahan ancamanya.
"Jangan macam macam kamu dengan ibuku. Bisa bisa aku akan membunuhmu saat ini juga. "
Di dalam perjalanan yang masih jauh, aku mengacak kasar rambutku, Anna. malah mematikkan panggilan telepon.
Hingga dimana Anna mengirim poto, saat ibu di ikat badanya. Terlihat ibu menangi meminta tolong. Memang Anna ini benar benar licik..
Ajeng malah memarahiku tiba tiba membuat, mobil sedikit tak terkendali. Membuat aku mengerem lagi mobilku.
"Maksud kamu apa marah marah padaku , Ajeng. "
" Kamu masih tanya lagi kenapa. Mas kamu ini menyakiti hatiku dengan memberi ruang pada Anna untuk balik lagi pada kamu. Kamu teganya Mas. "
"Bukan itu maksudku. "
Aku tak percaya jika Ajeng salah paham dengan apa yang aku katakan, seharunya ia bersikap dewasa jika keadaan benar benar mepet seperti ini.
"Mas kenapa kamu malah diam saja. "
Aku mengepalkan erat kedua tanganku ini, menahan rasa kesal. Ingin kutinju mulu jontor istriku ini.
Tring pesan datang lagi dari Anna. " Cepat mas. Atau kamu akan tahu akibatnya. "
Anna kamu benar benar licik dan pintar, mengancamku dengan ponsel ibu. Mana bisa aku memberi tahu polisi yang ada aku akan tersalahkan.
"Mas."
__ADS_1
"Ajeng sekarang ibuku dalam bahaya, aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar ibu tak kenapa kenapa. "
Menjelaskan pada Ajeng. Tapi wanita di sampingku malah menyekah air matanya tanpa mengatakan satu patah katapun.