
Motor metik berwarna biru kini sampai di rumah sederhana bercat biru muda. Intan membopong tubuh Lulu, meletakannya di teras depan rumah.
"Lulu, kamu itu ternyata berat juga ya," ucap Intan mendumel sendiri.
Nita membuka pintu depan rumah, melihat kelakuan Intan yang seberono. " Intan, dia itu anak kecil, kasihan. Kamu ini tega benar."
Setelah membuka pintu depan rumah, Nita membopong Lulu masuk ke dalam rumah. Iya kini meletakkan berumur tiga tahun itu, pada kamarnya. Terlihat Lulu merasa nyaman saat ia tertidur di atas kasur yang begitu terasa empuk.
Intan melipatkan kedua tangannya, menyandarkan bahu pada dinding," ya elah, hari gini Kamu masih peduli sama anak kecil kayak gitu."
Nita menggelengkan kepala, tak mengerti dengan pikiran sahabatnya itu, ia tahu jika Intan tidak mempunyai perasaan seperti itu.
Intan hanya berpura-pura jahat, menutupi kebaikannya Karena rasa benci terhadap ibu dari anak itu.
"Nita, sudahlah. Biar kita jadikan pembantu rumah saja."
Nita mengusap pelan kepala Lulu, mencurahkan segala kasih sayang di hadapan anak berumur 3 tahun itu.
"Kasihan tahu dia itu masih kecil, ngapain coba kamu pakai acara menculik anak ini."
"Ya kan aku sudah jelaskan pada kamu, tadi aku ngomong apa?"
Mendengar hal yang terlontar dari mulut Intan, membuat Nita kini tak memperdulikannya. Ia menyelimuti Lulu, membuat anak itu tiba-tiba bangun.
"Kak Lina, aku lapar."
Sepertinya Lulu mengigau karena kelaparan, sampai di mana Nita menatap ke arah Intan.
"Kenapa?"
"Intan, apa kamu biarkan anak ini kelaparan?"
Intan mengalihkan pandangan, membersihkan kuku-kukunya, tak mendengarkan apa yang dikatakan Nita.
"Aku tanya sama kamu?" Nita menekan Intan, untuk berkata jujur. Sampai di mana Intan mengatakan semuanya, " aku kasih makan dia cuma nasi doang memangnya kenapa, sama saja ngasih makan daripada nggak."
Dengan begitu mudahnya Intan mengatakan semua itu, padahal perlakuan Intan itu tidak baik. Ia terlalu menyiksa Lulu, meluapkan amarahnya pada anak kecil yang tak berdosa.
"TEGA KAMU, Intan."
Nita membentak sahabatnya, ia kini menatap ke arah Lulu dengan berkata, " Kamu lapar sayang, Ya sudah nanti kakak bikinin mie goreng ya buat kamu ya, gimana mau."
__ADS_1
Lulu menganggukan kepala, ia memegang perutnya terasa lapar. "Iya Kak, Lulu lapar. "
"Ya sudah kamu tunggu di sini."
Nita beranjak pergi dari kasur, ia berjalan ke arah dapur, sampai dimana Intan berteriak.
"Tunggu."
Nita membalikan badan ke arah Intan dan bertanya?" Ada apa?"
"Sekalian dong!" jawab Intan.
"Malas, bikin aja sendiri, " ucap Nita. Sembari berjalan pergi ke arah dapur.
"Ish, si Nita ini, " cetus Intan, menatap ke arah LuLu.
Intan memelototi anak berumur tiga tahun itu, membuat Lulu ketakutan dan menundukkan pandangan. Intan belum puas memarahi anak itu, mendekat dan berkata." jangan karena ada yang membela kamu jadi seenaknya ya."
Lulu menganggukkan kepala, menurut apa yang dikatakan Intan.
Nita dengan senangnya membuatkan Lulu mie goreng, ia ingat ketika bersama sang adik. Setiap hari selalu masak dan jika malas masak membuat kan sang adik mie goreng kesukaanya.
"Selesai di buat."
Dimana Nita mendengar Intan mengancam Lulu.
Ia mengintip pada balik pintu kamarnya, rahang anak kecil itu dicengkram erat, dan ia diancam untuk menuruti printah Intan.
Nita mendengar hal itu, kini membuka kamarnya. Melihat Intan terburu buru melepaskan tanganya dari rahang anak kecil berumur tiga tahun itu.
"Eh Nita, wah buatkan aku mie goreng, ya." Nita melihat Intan begitu ramah, membuat Nita merasa kesal. Kenapa Intan berubah menjadi orang yang tega sama anak kecil?
"Lulu, ini kakak buatkan kamu mie goreng di makan ya," ucap Nita menyodorkan mie goreng itu pada Lulu. Sedangkan Intan mengambil mie dalam nampan yang dibawa Nita.
"Berarti ini punyaku, ya," balas Intan dengan lancangnya mengambil mie goreng.
Nita semakin kesal melihat tingkah sahabatnya, terlihat Intan begitu membenci Lulu, sampai sampai jatah makan Lulu hampir ia ambil.
Lulu memakan mie goreng dengan begitu lahap, ia menawarkan mie goreng pada Nita.
"Kakak mau, biar barengan sama Lulu."
__ADS_1
Anak sebaik Lulu, masih saja dijahati oleh Intan.
"Kakak sudah makan sayang. Kamu habisin saja mie gorengnya sama telornya."
Lulu menganggukkan kepala senang, dengan apa yang dibuatkan Nita, begitupun Nita, ia mengusap pelan rambut Lulu, penuh kasih sayang. Sesekali memeluk anak manis itu.
"Jangan sok baik lah, aku jijik lihatnya." ucap Intan pada Nita, ia tak peduli dengan perkataan sahabatnya.
"Oh ya, Lulu biar tidur sama aku aja ya," balas Nita pada Intan.
Sang sahabat hanya mengerutkan dahi, ia beranjak pergi dari hadapan Nita dan Lulu.
"Ya sudah, sekarang aku tidur di mana?" tanya Intan pada Nita.
"Kamu tidur di kamar tamu saja!" jawab Nita pada Intan.
Wanita pemilik bola mata bulat itu beranjak pergi menuju ke kamar yang ditunjukkan Nita, ia berjalan gontai, merasa mengantuk dan ingin segera tertidur.
"Kamu tidur di sini sama kakak ya," ucap Nita pada Lulu.
Lulu merasa senang, dan tenang bila berada dekat dengan Nita, karena ia memberikan rasa kasih sayang terhadap Lulu.
Intan merasa biasa saja, ia tak mempedulikan kasih sayang yang diberikan Nita pada Lulu.
"Hah, basi."
Lulu merasa tenang, ia mengira dirinya akan menderita, nyatanya tidak. Lulu di pertemukan dengan orang baik.
Saat tidur bersama, Nita mulai bertanya pada Lulu. " Lu, ibu kamu siapa namanya?" tanya Nita, mencari tahu tentang ibu Lulu.
Terlihat Lulu memperlihatkan wajah murungnya, membuat Nita yang melihat membuat ia bertanya dan memeluk anak itu.
"Kenapa? Kok malah murung begitu?" tanya Nita pada Lulu, ia takut jika Lulu tak suka saat ditanya tentang keluarganya.
"Lulu benci sama mama dan papa!" jawab Lulu, ia merasa dirinya teranianya, padahal Anna memang begitu sibuk apalagi sekarang ia akan mempunyai seorang anak lagi.
"Loh, kenapa Lulu benci sama mama dan papa, memangnya mereka kenapa?" tanya Nita, merasa penasaran dengan jawaban yang terlontar dari mulut Lulu.
"Mama mau punya anak lagi, dia lupa sama Lulu. Sampai tak pernah memperhatikan Lulu, saat Lulu sakit pun, hanya kak Lina saja yang peduli," gerutu Lulu di depan Nita, anak kecil itu seperti memluapkan segala emosi dan kekesalan, terlihat biasakan tertekan dengan perlakuan kedua orang tuanya yang kurang memperhatikan dirinya.
"Kak Nita boleh tanya? Siapa kak Lina?" tanya Nita penasaran, ia ingin tahu dalam dalam keluarga Lulu.
__ADS_1
"Kak Lina itu, pengasuh Lulu, yang mama perintahin untuk jaga Lulu!" jawab Lulu.