Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 224 Lulu memanggil Nita


__ADS_3

Pagi hari Lulu terbangun, ia menatap ke arah sisi kiri tempat tidurnya. Tak ada Nita, bagun dan kini duduk, " ke mana kakak itu?"


Anak kecil berumur tiga tahun, mulai bangkit dari ranjang tempat tidur. Mencari keberadaan Nita, dengan berteriak memanggil kakak baik hati itu.


"Kak Nita."


Lulu keluar dari kamarnya, ia melihat ke sana kemari mencari pada kamar mandi tak menemukan keberadaan Nita juga.


"Ke mana ya kakak itu." Berteriak berulang kali, membuat Intan mendengar teriakan Lulu, begitu terganggu.


Ia bangun, rambut berantakan dan wajah tak karuan. Kedua mata terasa lengket, Intan mengucek ngucek kedua mata dengan tanganya.


Menguap beberapa kali, masih merasa mengantuk.


"Kak Nita."


Teriakan itu terdengar kembali, Intan semakin kesal, padahal ia mencoba menahan amarahnya. Tapi karena Lulu yang berisik, membuat ia bangun dan mengepalkan kedua tangan. Giginya beradu, menahan rasa kesal.


"Ahk, sialan. Kenapa coba dengan anak bodoh itu, kenapa ia begitu berisik, seperti tidak senang melihat orang tidur nyenyak." Gerutu Intan masih dalam posisi duduk diatas ranjang tempat tidur.


"Kak Nita."


Intan semakin kesal dengan teriakan Lulu yang tak berhenti memanggil Nita, " anak itu. "


Padahal Intan mulai membaringkan lagi badanya di atas kasur.


Namun, karena teriakan Lulu tak berhenti. Memanggil nama Nita, membuat Intan bangun dengan raut wajah kesal.


Ia membuka pintu. Brakkk ....


Lulu terkejut, melihat penampilan Intan dengan rambut berantakan.


"Ahkk, kuntilanak. "


Lulu menjerit, membuat Intan menutup mulutnya.


"BERISIK." Intan membenarkan rambutnya yang tak beraturan, ia membulatkan kedua mata. Memelototi Lulu.


Terlihat Lulu begitu ketakutan dengan tatapan Intan, ia terdiam. Berusaha melepaskan tangan Intan yang membekam mulutnya.


"Ini masih pagi, apa tidak bisa kamu diam. Dan menutup mulut mungilmu ini, aku masih mengantuk," ucap Intan membisikan perkataan menakutkan untuk Lulu.


"Mm, mmm. "

__ADS_1


Intan mengerutkan dahi, ia kini melepaskan tangan yang sengaja ia tempelkan pada mulut Lulu.


Terlihat Lulu mengatur napas, seakan dirinya hampir kehilangan napas berharga.


"Kenapa, enggap ya. Makanya diam jangan teriak teriak."


"Maaf Kak Intan."


Intan menempelkan telunjuk jari tanganya pada bibir mungil Lulu. " Kamu paham apa yang kakak katakan?"


Lulu menganggukkan kepala, kedua tangan bergetar ketakutan," kenapa kamu takut aku .... "


Belum perkataan Intan terlontar semuanya, tangan kanannya langsung menjewer telinga anak berumur tiga tahun itu.


"Ahk, sakit. Kak."


"Sakit ya."


"Lepasin kak sakit. "


"Ini pelajaran untuk anak nakal seperti kamu yang sudah mengganggu tidur kakaka."


"Maafin Lulu, kak."


Lulu menangis sejadi jadinya, sedangkan Intan merasa puas karena meluapkan kekesalanya langsung.


Intan semakin keras menjewer telinga Lulu, "Ahk, sakit kak."


"Kalau sakit, makanya jangan nakal."


Intan kini melepaskan tangannya yang menjewer telinga Lulu, ia beranjak pergi untuk tertidur kembali, Intan tahu jika sahabatnya sudah pergi bekerja.


Merebahkan tubuh pada kasur, menarik selimut menutup badan, Intan kembali tertidur dengan persaan nyaman. Karena ia tahu Lulu tidak akan berisik kemabali.


Lulu menangis, ia berlari menuju ke kamarnya, memeluk bantal guling. Merasakan rasa sakit hati dan bekas jeweran dari Intan.


"Kak Intan kok jahat banget sih, dia tega bikin kuping Lulu sakit."


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, Lulu merasakan rasa sakit pada perutnya. Karena dari tadi pagi belum memakan apa apa.


Memengang perut, Lulu mulai berjalan, ia melihat pintu kamar Intan masih tertutup. Intan belum juga bangun dan menyiapkan makanan untuk Lulu.


Rumah terlihat begitu berantakan, Lulu akhirnya membereskan rumah Nita. Tubuh mungilnya merasakan rasa lemas karena Lulu yang tak bisa memasak, " kak Intan kemana ya, aku lapar. Kenapa dia belum bangun juga. Padahal dari tadi dia tidur terus. Ahk, perih. Sakit sekali perut."

__ADS_1


Lulu mendekat ke arah kamar Intan, ia mulai menggangkat tangan kanan yang sudah ia kepalkan untuk mengetuk pintu kamar Intan.


Namun, mengigat kejadian tadi pagi sekali. Membuat Lulu mengurungkan niatnya. Ia pergi menuju ke dapur, mencari bahan makanan yang bisa ia masak.


Walau masih ada rasa takut menyalakan kompor, Lulu berusaha melawan rasa takutnya, ia memberanikan diri, sampai api itu menyalah. Lulu sering melihat sang mama masak ketika membantu seorang pembantu di rumah.


Lulu berusaha mempraktekkan cara memasak ibunya, walau hanya satu butir telur saja yang ia dapatkan di dalam kulkas.


Bau wangi telur itu tercium pada lubang hidung Lulu, perut kecil mulai terdengar meraung-raung, meminta untuk segera diisi.


Mulut Lulu sudah tidak sabar ingin segera memakan telur yang baru saja iya masak dengan susah payah.


Intan terbangun karena rasa lapar pada perutnya, iya berusaha beranjak berdiri dari tempat tidur. Untuk mencari sebuah makanan yang bisa mengisi perutnya, yang kini tengah keroncongan.


Membuka pintu kamarnya, Intan kini mencium bau wangi telur yang tengah dimasak oleh Lulu di dapur.


Gadis ber bola mata bulat itu, segera berjalan ke arah dapur, mengikuti bau wangi telur.


Terlihat Lulu tengah memasak, dia menuangkan telur yang baru saja matang ke dalam piring.


Air liur tak bisa ia kontrol agar tidak berhamburan keluar dari mulutnya.


Beberapa kali Lulu mengusap air matanya, karena ia berhasil memasak untuk segera mengisi perutnya yang semakin terasa sakit.


Intan baru saja bangun tidur, mengambil telur pada piring Lulu, " Wah, lumayan nih untuk isi perut. Nah gitu dong, kalau jadi anak itu harus serba bisa biar nggak nyusahin orang lain."


Lacangnya wanita bernama Intan itu mengambil makanan anak kecil, yang hampir saja tak bisa menahan rasa lapar.


"Kak Intan jangan diambil telurnya, Lulu lapar Lulu pengen makan, sebaiknya Kak Intan masak saja sendiri, telur itu buat Lulu."


Intan jalan lenggak lenggok dengan membawa piring berisi telur, ia tak memperdulikan omongan orang lain, yang terpenting hidupnya bisa bahagia.


Lulu berlari, untuk segera mengambil makanan pada piring yang dibawa oleh Intan.


Ia menarik baju Intan beberapa kali, agar gadis berbola mata bulat itu merasa kasihan terhadap Lulu.


Namun sayangnya rasa kasihan itu hilang dan sirna begitu saja, Lulu merasa tak terima dengan masakannya yang diambil begitu saja oleh Intan, "Kak Intan."


Intan yang melihat kelakuan Lulu, membuat Intan tak segan-segan membentak anak itu,


Namun sungguh disayangkan, anak itu tak mendengar bentakan Intan ia begitu fokus dengan telur ceplok yang ia masak sendirian.


"Heh, Lulu. Ini telur buat aku makan, sebaiknya kamu cepat buat lagi, telur buat kamu makan."

__ADS_1


"Tapi kak, telur itu sudah habis hanya tinggal satu biji saja, sebaiknya Kak Intan masak saja sendiri karena bahan-bahannya ada di dalam kulkas."


__ADS_2