
Berkas bukti sudah ada di tangan Anna, kini waktunya keberangkatan kedua Insan itu. memesan tiket lewat aplikasi sangatlah mudah dan cepat, mereka hanya menunggu waktu satu hari saja, terkadang jika memang benar-benar cepat sore hari mereka langsung berangkat.
"Mudah mudahan saja, Lulu di temukan saat kita melaporkan ke polisi di sana, aku ketakutan sekali mas," ucap Anna dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, Galih yang tengah mengendarai mobil hanya bisa menenangkan sang istri, agar tidak terlalu panik.
"Kamu harus tenang, pastinya kita akan menemukan dulu saat itu juga, Kamu jangan terlalu memikirkan hal negatif apapun," balas Galih sekilas menatap ke arah istrinya.
Bolak-balik ke sana kemari rasanya melelahkan, namun demi Lulu. Apapun akan dilakukan Anna, dia tak peduli dengan kondisinya sekarang, pasca keguguran dan mendapatkan luka bakar akibat kebakaran kemarin.
Panggilan telepon dari sahabat. " Halo?"
" Tiket bisa langsung dipakai sekarang juga!"
Akhirnya, tak butuh menunggu hari besok untuk pergi ke luar negeri, masih banyak orang yang membantu Galih, saat itu.
Panggilan telepon di matikan saat itu juga, Galih mulai pertanyakan kesehatan istrinya." Apa kamu sanggup pergi sekarang?"
"Iya aku sanggup, mas!"
Galih melihat keadaan Anna seakan tak yakin, melihat wajah Anna begitu pucat." Aku takut keadaan kamu malah drop saat sampai di sana?"
Anna memegang tangan Galih meyakinkan suaminya itu," sudah tak usah memikirkan hal seperti itu. Aku sanggup kok, aku kuat demi Lulu."
karena Anna yang memaksa pada akhirnya Galih menuruti keinginan istrinya itu, " Baiklah kalau kamu sudah bertekad bulat ingin ikut pergi ke luar negeri mencari Lulu,"
Galih ternyata tidak membawa Anna pulang, ia langsung membawa istrinya itu menuju ke bandara. " kita pergi ke bandara langsung sekarang juga. "
"Oh ya, pakaian pelengkapan?"
"Sudah tak usah membawa barang-barang seperti itu, di Amerika masih ada sahabatku yang tinggal di sana, masalah itu kamu jangan terlalu kuatir!"
Tenang rasanya memiliki suami yang serba bisa, membuat Anna sesusah payah harus capek-capek bolak-balik ke sana kemari.
Mereka sudah sampai di bandara, sahabat sudah mempersiapkan tiket itu." Galih ini tiket yang kamu inginkan?"
"Ya, thank you!"
"Oke,"
Galih memperlihatkan tiket itu ke hadapan Anna," bagaimana mudah kan?"
"Ya, benar benar mudah!"
Mereka kini bergegas menaiki pesawat, mana baru kali ini menaiki kendaraan yang bisa terbang ke atas langit.
"Apa kita aman?"
"Pastinya aman!"
__ADS_1
Anna memegang erat tangan suaminya, membuat Galih tertawa kecil melihat kepolosan sang istri yang baru pertama kali menaiki pesawat.
"Wah, ini indah sekali."
Anna melihat awan-awan putih yang berterbangan Di luar pesawat.
"Apa pesawat ini bisa berhenti seperti angkutan umum?" Pertanyaan Anna, membuat Galih menggelengkan kepala.
"Sayang, kalau pesawat ini mendadak berhenti, yang ada kita itu akan terjun bebas. Mati, kamu nayanya ada ada aja!" Jawab Galih, menyuruh Anna untuk tidur, setelah sampai nanti keadaan Anna sedikit segar.
Wanita itu mulai tertidur pulas, sambil mendengkur menandakan bahwa ia begitu kelelahan, Galih yang melihat istrinya itu mengecup kening dan berkata." Selamat tidur bidadariku."
******
pesawat sudah sampai di tempat tujuan, waktunya Galih membangunkan sang istri.
"Ayo, sudah sampai."
Anna mengusap pelan kedua matanya, mulai bangkit dari tempat duduk, untuk segera turun dari dalam pesawat.
Mereka mulai menaiki taksi untuk segera pergi ke tempat sang sahabat, Anna baru kali ini melihat pemandangan yang begitu indah. Setiap kali ia menatap pada kaca mobil taksi.
Sampai di rumah sang sahabat, mereka berdua sudah di sambut ramah." Hey, apa kabar."
"Baik."
"Ayo masuk."
Marcel, mempersilahkan Galih masuk ke dalam rumah.
Galih mulai duduk di atas sofa rumah sahabatnya itu, di mana wanita cantik berwajah bule datang mempersiapkan sebuah minuman segar untuk diminum oleh Galih dan juga istrinya.
"Silahkan di minum."
Wanita cantik itu melemparkan senyuman kepada Anna, dimana Anna merasa di hargai sebagai istri Galih.
Galih mulai membahas tentang berkas yang diberikan oleh Nita, dia juga memperlihatkan alamat keberadaan orang tua angkat Lulu.
Dimana istri dari Marcel mengetahui wanita yang menjadi Ibu angkat Lulu itu," itu kan tempat tinggal Alena, sahabatku."
Mendengar perkataan dari istri Marcel, membuat Anna mempunyai harapan lagi untuk bertemu dengan anaknya," boleh anda tunjukkan alamat rumah ini."
"Tentu saja. Memangnya ada hubungan apa kalian dengan Alena?"
Galih menggelengkan. Kepala dia langsung menjelaskan sebenarnya apa maksud kedatangan mereka ke Amerika, setelah mendengar penjelasan dari Galih saat itulah Marcel mengerti, mereka bersedia mengantarkan Galih ke tempat yang dituju.
"Apa mau berangkat sekarang?" tanya wanita cantik yang menjadi istri Marcel itu.
__ADS_1
"Boleh."
Betapa bahagianya Anna dan juga Galih dipermudahkan saat mencari keberadaan Lulu, tanpa rasa lelah mereka kini berangkat ke alamat yang dituju.
Anna sudah tak sabar ingin sekali bertemu dengan anaknya, rasa rindu terus menggebu dalam hati.
Setelah sampai kediaman Alena dan suaminya. Betapa terkejutnya kedua mata Anna, melihat Lulu tengah bermain di halaman depan rumah, ia begitu merindukan anak mungil itu ingin sekali langsung memeluknya saat itu juga.
"Kalian harus hati-hati dengan mereka berdua, saya takut mereka menuntut kalian lebih banyak."
Galih sangat berterima kasih sekali dengan Marcel. " Gimana kalau kita antar saja Galih dan istrinya?" tanya wanita cantik yang menjadi istri Marcel.
"Ya sudah, saya mudah-mudahan saja mereka berdua mau mengembalikan anak kalian berdua!" jawab Marcel, sudah tahu dengan sifat asli sahabat istrinya itu.
Mereka segera mungkin turun dari dalam mobil, begitupun dengan Anna, dia langsung menghampiri anaknya.
"Lulu."
Lulu dengan begitu asyiknya main di halaman rumah, dengar suara sang ibunda langsung melirik ke arahnya.
"Mama."
Terkejutnya Lulu, sampai-sampai ia langsung berlari menghampiri Anna, akan tetapi pintu gerbang membuat mereka tak bisa saling memeluk.
Galih mencoba membunyikan bel di halaman rumah, hingga sosok kedua Insan datang keluar rumah.
"Sayang, Gabrina."
Alena menghampiri Lulu, gadis yang sudah diganti namanya menjadi Gabrina.
"Alena. Ini aku."
Melihat sosok sang sahabatnya Alena langsung membukakan gerbang pintu rumahnya. Betapa terkejutnya Alena melihat banyak orang yang sudah berdiri di hadapan gerbang rumahnya.
"Kania, kamu."
"Iya aku."
"Kenapa banyak orang datang ke sini, ada apa Kania?"
Lulu ingin sekali berlari menghampiri Anna, memeluk tubuh ibunya, namun Alena sedikit menahan tangan Lulu agar tidak pergi ke mana-mana.
"Gabrina kamu sana ke rumah dulu."
Lulu tak mau, ia memberontak dan menghampiri Anna. Sontak Alena terkejut.
"Gabrina. Kamu. "
__ADS_1