
Meluapkan semua kesedihan cara terbaik untuk bisa membuat hati tenang, Anna kini terlihat lebih segar dari sebelumnya, wajahnya kembali cerah.
Setelah meluapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan Lulu.
Nita yang melihat pemandangan itu, hatinya merasa sakit, betapa hebatnya perjuangan seorang ibu. Sampai di mana ia mengingat kedua orang tuanya yang dibakar hidup-hidup.
Bu Nira mendekat ke arah Anna? Bertanya? " Bagaimana perasaan kamu sekarang Anna, apa kamu merasa lebih baik? "
Pertanyaan Bu Nira membuat Anna menganggukan kepala memperlihatkan senyumannya," terima kasih Bu Nira."
Anna menghampiri Galih, mendekat dan berkata," besok kita pulang."
"Iya."
*******
Setelah berpamitan pada Nita, pagi hari, kedua insan itu berangkat menuju ke kota untuk segera pulang ke rumah, ia tak sabar menemui kedua anak anaknya, walau mungkin tanpa membawa Lulu, tapi Anna akan jelaskan semuanya.
"Apa kamu siap menghadapi anak anak nanti?" tanya Galih dalam perjalanan pulang. Anna menganggukan kepala dan berkata," iya aku siap!"
Farhan mendapatkan pesan dari sang ibunda,(Farhan mama pulang sekarang.)
Farhan senang membaca notip pesan dari sang ibunda, ia membalas.( mama hati hati di jalan ya.)
(Terima kasih sayang.)
Farhan berlari, memberitahu adiknya. Bahwa Anna akan segera pulang.
"Farhan, mama pulang," ucap Farhan pada adik pertamanya.
"Wah, benar kah. Apa mama membawa Lulu?" tanya Radit pada sang kakak, dimana Farhan diam tak tahu jika adiknya pulang apa tidak.
"Entahlah, mama hanya mengirim pesan pulang dan tak membahas Lulu sama sekali!" jawab Farhan, berusaha mengeluarkan nada lembutnya. Berharap jika adiknya mengerti dan tak marah marah lagi.
"Alah, kalau mama pulang tidak bawa Lulu, sebaiknya mama sekalian jangan pulang saja," cetus Radit, masih menaruh rasa kesal, karena Lulu belum di ketahui kabarnya.
Farhan mencoba memberitahu Radit dengan berkata." kamu jangan begitu Radit, bagaimana pun Mama Anna adalah mama kita, jika Lulu belum ketemu, kita doakan semoga Lulu balik lagi ke kita."
Kata kata bijak terlontar begitu saja pada mulut Farhan, berharap jika sang adik mengerti, karena dengan cara itu Farhan membuat Radit tidak gampang emosi.
__ADS_1
"Tapi .... "
Belum perkataan Radit terlontar semuanya, Farhan kini berkata, " sudah, jangan terlalu menyalahkan mama ya, kita di sini tidak tahu gimana perjuangan mama mencari Lulu."
Anak kecil berumur sebelas tahun itu hanya bisa menurut dan kini menganggukkan kepala.
"Ya sudah kakak mau suruh pembantu menyiapkan makanan kesukaan mama dan papa."
Farhan selalu perhatian terhadap kedua orang tuanya, berbeda dengan Radit yang cuek. Ia mementingkan egonya sendiri.
*****""
Suara klakson mobil berbunyi, tanda kedua orang merek datang, Farhan dengan wajah gembiranya menyambut kedatangan Anna dan juga Galih.
Sedangkan Radit begitu fokus dengan ponselnya, tak memperdulikan kedatangan kedua orang tuanya, padahal Radit baru saja mendapati nasehat dari sang kakak.
Namun nasehat itu malah diabaikan, sang kakak mulai mengedipkan kedua mata, berharap jika adiknya itu mau memberikan sedikit senyuman saja kepada kedua orang tuanya.
Tetap saja, Radit hanya menatap sekilas ke arah Anna dan juga Galih, ia pergi masuk ke dalam rumah sembari memainkan ponselnya.
"Radit."
"Radit itu, harus kita kasih tahu mah, agar dia itu mengerti, sesuatu hal yang diinginkan tak akan langsung terpenuhi."
Anna memegang kedua bahu anaknya," Memang iya tapi sifat semua orang itu tidak sama, pola pikir mereka itu beda-beda, tak jauh berbeda dengan kamu dan juga Radit.
Farhan menganggukan kepala, yakini menarik tangan sang ibunda. Dimana Farhan sudah menyiapkan semua hidangan yang disukai kedua orang tuanya itu.
Anna sangatlah terkejut dengan kebaikan anak pertamanya. " Terima kasih sayang."
Mencari Radit, tapi tak kunjung terlihat, entah ke mana perginya anak itu.
Rasa lelah menyelimuti badan Anna, ia mulai duduk di sofa bersama Galih, pemandangan yang tak di inginkan telihat begitu nyata dan jelas, Radit memendangi Anna dari kejauhan.
"Radit, ke sini nak, " menyuruh anak itu datang dengan harapan, Radit menemuinya.
Namun tetap saja Radit acuh bagaikan tak peduli dengan Anna, seperti sang mama yang tak dibutuhkannya.
Farhan mendekat dan bertanya." Loh tangan mama penuh luka?" Pertanyaan Radit, membuat Anna menatap sayu ke arah anak pertamanya.
__ADS_1
Ia tersenyum dan mengusap pelan kepalanya.
"Sudah, jangan banyak tanya. Ini cuman luka sedikit!" jawab Anna tak ingin menceritakan semuanya.
Namun. Galih tak bisa menahan diri dan kini menjawab dengan kejadian yang sebenarnya." Mama kamu hampir di lalap api, saat menginap di rumah orang, dan kamu tahu Farhan sekarang mama kamu sudah kehilangan bayinya."
"Apa, mama kehilangan bayi dalam kandungan mama?"
Radit masih sibuk dengan ponselnya, mendengar suara keras sang kakaknya, membuat ia menghampiri dan mendengar. Percakapan antara Farhan dan sang mama.
"Iya, mama kehilangan bayi dalam kandungan mama, saat kejadian kebakaran itu!" jawab Anna menitihkan air mata.
Farhan mencoba menenangkan sang mama agar tetap kuat, atas kehilangan bayi dalam kandunganya," Mama, harus kuat dan sabar ya. "
Mengusap pelan kepala Farhan dan berkata," terima kasih, Ya. Sayang."
Radit datang berdiri di hadapan sang mama dan berkata," jadi mama kehilangan bayi itu, terus Lulu juga tak ketemu."
Anna menatap ke arah Farhan sekilas dan menatap kembali ke arah Radit," sayang sini, nak. Biar mama jelaskan semuanya, kenapa mama tidak bisa menemukan Lulu. "
Radit seakan enggan menghampiri sang mama, ia perlahan mendekat dan penuh ke raguan," sayang sini."
"Radit, nggak mau dekat dekat dengan mama sebelum mama menemukan Lulu, " ucap Radit, berhenti melangkahkan kaki, padahal Farhan sudah menasehatinya, agar Radit itu tetap menyayangi sang mama, walau bagaimana pun.
"Radit, kamu .... "
Anna mencoba menenangkan anak pertamanya Farhan, agar tidak memarahi Radit.
"Sudah Farhan, jangan marahin Radit, semua memang salah mama. Sampai sekarang Lulu belum juga ketemu."
"Mam, Radit tak peduli ya. Kalau mama mau kehilangan anak mama, yang Radit peduliin sekarang Lulu. Oh ya baguslah kalau bayi dalam. Kandungan itu mati, supaya mama itu bisa mengertiin Radit dan Lulu."
Deg .. ...
Galih menggengam erat kedua tangan, kesal dengan jawaban Radit, ia berdiri ingin sekali meninju Radit saat itu juga.
Namun Anna menahan, karena ia tahu Radit masih kecil, ia hanya salah dalam mengerti keadaan.
"Radit, kamu jangan berbicara seperti itu, bagaimana pun bayi dalam kandungan mama adik kita."
__ADS_1
"Alah, kakak Farhan jangan sok membela mama, mama juga tak pernah peduli pada kita." Timpal Radit, entah apa yang merasuki pikiran anak itu, sampai perkataannya seakan menyakiti hati Anna.