Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 180 Melihat sang suami.


__ADS_3

Bu Sari kini sampai di rumah sakit, wanita tua berlari tergopoh gopoh. Mencari sosok lelaki yang menjadi suaminya, hatinya begitu hancur, perasaannya tak menentu. Bagaimana bisa ia hidup tanpa lelaki yang selalu mengerti dan memahami dirinya.


Ada rasa sesal, andai saja saat lelaki tua yang menjadi suaminya ia ladeni di dalam sambungan telepon. Kemungkinan besar tak akan ada kejadian semacam ini, dimana sang suami dengan nekadnya datang menghampiri ke kota, melihat ke adaan sang istri.


Air mata keluar terus menerus, Bu Sari menghampiri sosok lelaki berbaju putih dengan tampilannya yang begitu rapi.


"Dokter, dimana korban kecelakaan bis."


Sang dokter berusaha menenangkan hati Bu Sari, agar tetap tenang. " Ibu tenang dulu ya, sebagian pasien ada di ruangan UGD, dan yang lainnya masih di tangani."


Dokter itu bergegas pergi meninggalkan Bu Sari yang sudah basah dengan air mata, " Kemana kamu, pak."


Bergumam dalam hati, mencari sang suami yang entah dimana keberadaanya. Beberapa kali Bu Sari melihat ke ruangan UGD, hingga dimana wanita tua itu tertuju pada ruangan mayat.


"Apa kamu ada di sana, pak?"


Bu Sari terlihat lemas, ia berjalan dengan tubuhnya yang tak seimbang. Banyak orang orang berada di ruangan yang akan di tuju Bu Sari.


Ada rasa takut, dan cemas. Jika benar perasaannya jika sang suami sudah tiada.


Setelah sampai di depan pintu ruangan, ia berjalan lagi masuk melihat orang orang menangisi mayat yang sudah terbujur kaku dan tak bergerak.


Perlahan membuka kain yang menutupi wajah, Bu Sari belum juga menemukan suaminya. Ia tetap membuka setiap kain putih, tanpa rasa takut sedikit pun. Karena yang ia pikirkan saat ini, melihat wajah suaminya.


Wajah para mayat sudah gosong terbakar, membuat Bu Sari tentu saja susah mengenali wajah suaminya.


"Ibu, berharap kamu tidak ada di ruang mayat ini, pak."


Memegang kepala, rasa mual mulai dirasakan Bu Sari, karena hampir setengah jam mencari keberadaan suaminya.


Sang suster datang, tersenyum dengan bertanya." Ibu cari siapa?"


Bu Sari masih terlihat syok, dengan kedatangan suster, ia memperlihatkan poto suaminya yang ia sengaja bawa.


"Saya mencari suami saya, apa dia ada di sini."

__ADS_1


Suster berbadan raping mulai mengambil poto yang diberikan Bu Sari, melihat pasien dan menanyakan namanya. " Siapa nama suami ibu?"


"Pak .... "


Belum perkataan Bu Sari menyebut nama suaminya, tiba tiba sosok seorang lelaki memanggil nama Bu Sari." Bu."


Wanita tua itu menatap ke arah sosok lelaki yang memanggilnya, "Bapak."


Tangisan pecah saat itu, suara isak tangis terdengar keluar dari mulut Bu Sari. Ia memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Bapak, akhirnya bapak selamat."


"Iya, bu. Bapak juga bersyukur bisa selamat dari kejadian kecelakaan itu."


Pelukan masih begitu erat, antara kedua insan yang sudah menua itu. Mereka seperti di terkam kehawatiran sampai sampai berpelukan dengan waktu yang cukup lumayan lama.


"Sebaiknya kita pulang ya, pak, ibu akan masakin makanan sepecial untuk bapak, " ucap Bu Sari, membantu sang suami untuk berjalan.


Mereka kini menaiki taksi, untuk segera pulang. Terlihat wajah lelaki tua itu memikirkan perubahan istrinya yang biasa kasar kini menjadi lembut.


"Bapak, ini kenapa sampai nekad datang ke kota. Kan ibu pernah bilang, jangan nyusul. Tapi bapak nekad malah nyusul ke kota. Bagaimana kalau nanti bapak kenapa kenapa."


Lelaki tua yang menemani Bu Sari sampai saat ini, mengusap pelan rambut istrinya dengan berkata." tak apa bu, demi ibu. Bapak takut ibu kenapa-kenapa? Laki laki mana coba yang tega mendengar istrinya menangis histeris."


Perhatian yang diberikan sang suami begitu besar kepada istrinya." Bapak tidak takut mati, yang bapak takutkan saat ini, terjadi sesuatu terhadap ibu. Apalagi saat ibu menangis di sambungan telepon, mana tega bapak mendengar ibu menangis."


Bu Sari mengusap pelan air mata yang mengalir, membasahi pipi, ia berusaha tak memperlihatkan kesedihan yang kini dirasakannya.


"Kenapa ibu menangis, apa yang kini ibu rasakan."


Lelaki tua itu memeluk kembali sang istri, berusaha menangkan rasa sesak di dalam dada istrinya.


"Ibu tidak menangis, ibu hanya bahagia bisa memiliki bapak, yang selalu sabar menghadapi sifat pemarah ibu. Terima kasih ya, pak."


Sosok lelaki tua itu, tentu saja tersenyum lepas. Merasakan apa yang selama ini ia ingin rasakan. Mendengar kata lembut yang keluar dari mulut istrinya.

__ADS_1


"Bapak, selalu memaafkan ibu. Ibu ini tetap wanita yang terbaik untuk bapak."


Tangis sudah tak terbendung lagi, mereka berdua menangis dengan berpelukan. Hingga rasa sakit terasa, pada badan suami Bu Sari.


Lelaki tua itu berusaha menahan rasa sakit, agar istrinya tak menghuatirkannya.


Saat sampai di kontrakan kecil, Bu Sari melihat Farhan sudah berdiri di depan pintu kontraknya.


Anak remaja berumur tujuh belas tahun itu, membawa beberapa makanan dan juga sebuah amplop untuk di berikan pada Bu Sari.


"Farhan, kamu datang lagi?"


Bu Sari mengira Farhan menjauhinya. Karena ancaman yang ia lontarkan pada Farhan, membuat anak itu ketakutan dan menjauhi neneknya sendiri.


Sang kakek, yang memang begitu peduli dengan Farhan dari dulu. Memeluk cucuk kesayanganya.


"Farhan, kamu sudah besar nak. Kakek kangen sekali dengan kamu." ucapan sang kakek membuat Farhan melayangkan senyuman dengan memeluk balik lelaki tua yang membuat hatinya selalu nyaman.


"Farhan juga kagen sama kakek," balas Farhan, Rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan sebuah kata kata, membuat anak remaja itu, memberikan sebuah hadiah untuk kakenya sendiri.


"Ini untuk kakek."


Farhan tak segan segan memberikan barang mewah sebuah jam bermerek pada kakenya.


"Kakek tak butuh hadiah dari kamu, Farhan. Melihat kamu ada dihadapan kakek. Juga sudah senang."


Bu Sari merasa iri dengan Farhan yang memberikan barang mahal kepada suaminya. Membuat wanita tua itu bertanya." Hadiah buat nenek mana?"


Sang suami yang merasa tak enak hati, dengan perkataan istrinya, membuat ia mengedipkan mata memberi kode agar tidak meminta sesuatu hadiah pada Farhan.


"Bu, jangan begitu malu. Kasihan Farhan.'


Bu Sari yang tak bisa merubah sipatnya kini membalas ucapan sang suami." Ya elah pak, nggak apa apa. Toh Farhan itu anak baik yang selalu menurut. Ya kan Farhan."


Farhan mengganggukkan kepala, sebenarnya ia tak berniat memberi hadiah pada kakeknya. Karena niatnya ingin memberi hadiah pada Galih.

__ADS_1


Namun, karena kebetulan ada suami Bu Sari, dengan rasa senang Farhan memberikan hadiah terlebih dahulu pada lelaki tua yang selalu baik pada ibu dan juga dirinya di masa lalu.


__ADS_2