Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 89. Rumah sakit. Bertemu Galih


__ADS_3

"Anna." 


Bu Sumyati  mendengar nama yang disebutkan anaknya, membuat ia membalikkan wajah ke arah sosok wanita itu. 


Anna memberikan senyuman hangat pada wanita paruh baya yang sudah pernah membuat hidupnya menderita, karena kesalah pahaman di masa lalu. 


Saat bertemu dengan Anna, ini kesempatan ibunda Deni meminta maaf, ia berdiri dengan tubuhnya  yang terasa lemas karena mendengar kabar yang kurang menyenangkan. 


Perlahan mendekat memegang kedua bahu Anna dengan kedua mata yang terlihat berkaca kaca. " Anna, kamu datang nak. Ke sini?"


Anna menganggukan kepala masih dengan senyumannya." Iya bu."


Kedua tangan yang memegang bahu, kini beralih memegang punggung tangan Anna. 


"Ibu minta maaf sama kamu, An. karena ibu sudah membuat kamu menderita dulu." Sebelum ibu meminta maaf, Anna sudah maafin ibu."


"Anna, kamu memang wanita baik. Pantas saja saat Daniel masih hidup dia selalu menceritakan kamu kepada ibu. Memang Daniel tak salah pilih mencari seorang istri."


Pujian dari Bu Sumyati membuat senyuman Anna semakin lebar. Di mana wanita tua itu seketika memeluk Anna dengan begitu erat, ada rasa kagum dan senang. 


"Terima kasih, Anna."


****


Deni tak mau berlama lama, ia kini menyuruh Anna untuk segera berangkat ke rumah sakit. Ada rasa tak sabar ingin melihat hasil otopsi Daniel. 


Perlahan melepaskan pelukan Anna, kini Bu Sumyati mengucapkan kata kata," Ibu berharap kamu bisa menyelidiki kematian Daniel sampai tuntas."


Anna menganggukkan kepala ia kini melangkah untuk bergegas pergi bersama Deni. 


Entah kenapa akhir akhir ini Anna jarang bertemu dengan Pak Galih, padahal ia masih berbisnis dengan lelaki tampan berkulit putih dengan hidungnya yang mancung itu. 


"Oh, ya. Aku melihat sekarang kakak selalu pergi sendiri. Bukanya biasanya kakak jalan bersama lelaki bernama Galih itu ya?"


Ucapan Deni terdengar sopan, tidak seperti dulu. Dimana anak muda itu selalu berkata kasar terhadap Anna.


Pertanyaan Deni sedikit membuat Anna menatap sekilas kearah lelaki yang berada di sampingnya. "kakak juga kurang tahu, memang Pak Galih akhir akhir ini tidak ada kabar, semenjak kakak sudah bisa mengendarai mobil. "


"Aku mengira kakak berpacaran dengan Pak Galih.".


Anna kaget dengan perkataan Deni membuat ia hampir saja menabrak pedagang yang ingin melintas. 


" Ya ampun kak, hati hati. Kakak kenapa? Apa Deni saja yang mengendarai mobil."

__ADS_1


Terlihat sekali rasa malu pada raut wajah Anna, membuat  Anna berusaha tetap tenang. 


"Nggak usah, Den. Kakak bisa kok,"


Anna berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak ada rasa malu pada dirinya. 


Pada akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Anna mulai keluar dari dalam mobil begitupun dengan Deni, mereka segera mungkin melangkahkan  cepat langkah kaki mereka berdua, untuk segera menemui dokter yang menangani Daniel. 


Saat ingin bertemu dengan sang dokter, Anna mengernyitkan dahi dimana ia melihat Pak Galih mengobrol dengan serius. 


Bukanya baru tadi Anna membicarakan Pak Galih, sekarang dia sudah ada di rumah sakit.  karena tak ada rasa curiga  pada akhirnya mereka berdua langsung menghampiri Pak Galih yang tengah mengobrol serius. 


"Pak Galih."


Lelaki bernama Galih itu, seperti kaget saat mendengar sapaan yang keluar dari mulut Anna. Ia seperti menemukan sesuatu yang seakan membuat dirinya tiba tiba gugup. 


Senyum kecil dilayangkan Anna pada Galih, membuat ia membalas senyuman itu.


"Pak Galih, apa kabar. Sudah seminggu ini kita tidak pernah bertemu."


Suara batuk yang disengaja membuat rasa malu pada Anna dan juga Galih, membuat tatapan mereka saling melepaskan satu sama lain. 


Deni kini menghampiri dokter yang menangani tulang belulang Daniel, ia bertanya dengan hasil otopsi.


"Dok, saya mau bertanya hasil otopsi kakak saya. "


Padahal, semalam obrolan mereka begitu lancar 


Saat membahas hasil yang akan diberikan, Anna mendekat dengan bertanya? " Ada apa dok, kenapa dokter seperti ragu."


Pak Galih seperti memberi kode pada dokter itu, mereka seakan menyimpan sesuatu yang tak boleh diketahui Anna dan juga Deni. 


Dokter mulai menyerahkan hasil otopsi pada Deni, membuat tangannya meraih kertas itu, perlahan anak muda yang menjadi adik Daniel, membuka lembar demi lembar kertas hasil otopsi. Anna yang ikut serat juga membaca lembaran hasil, mereka hanya terdiam. 


Saling menatap satu sama lain. 


"Dari hasil otopsi itu, kakak anda tidak mengalami hal hal yang lain, hanya sebuah pukulan keras pada kepala. Kami sedikit kesusahan karena tulang itu terlalu lama."


Dokter itu hanya mengatakan hal seadanya, seperti ada yang mengganjal pada hati Anna. 


"Saya permisi dulu." Dokter berpamitan, membuat Anna kini memanggil sang dokter. 


"Tunggu, dok."

__ADS_1


Langkah dokter terlihat semakin cuek, ia seakan terburu buru menghindari pertanyaan Anna. Dimana Deni hanya bisa menerima hasil yang ada. 


"Kenapa seperti ada yang aneh pada dokter itu."


Anna menatap ke arah Galih, dengan raut wajah datar. Tak ada rasa curiga dengan raut wajah Galih, hanya senyuman  yang dilayangkan Anna beberapa kali di hadapannya. 


"Deni, apa tidak ada rasa curiga di hati kamu saat ini. pada dokter itu." Bisikan Anna, terlihat oleh Galih.  Deni hanya mengangkatkan kedua bahunya. " Sebenarnya iya. Hanya saja kita harus bersikap apa adanya saja."


Mereka berdua kini berbicara dengan sedikit terdengar oleh Galih, " Kak Anna, sepertinya kita harus segera mungkin menguburkan Kak Daniel."


"Iya."


Suasana merasa canggung, hingga suara telepon berbunyi. 


"kak Indah, tumben dia menelepon. Tidak biasanya."


Anna kini perlahan mengangkat panggilan telepon dari sang kakak.


"Halo, kak."


"Anna, kamu bisa datang ke sini nggak."


Karena tak ada kesibukan, maka dari itu Anna mengiyakan perkataan sang kakak. 


"Iya, kak. Anna sekarang ke sana. "


Galih yang tak jauh dari hadapan Anna mulai bertanya, " Kamu mau ke mana, An? "


"Menemui Kak Indah! "


"Ya sudah saya antar."


"Tapi saya pakai mobil saya sendiri pak?"


"Berikan dulu mobil kamu ke Deni, agar dia membawa ke restoran. Nanti sopir saya yang akan mengantarkan Deni pulang. Kamu tidak keberatan kan, Den."


Mendengar perkataan itu, Deni menganggukan kata setuju, sedangkan Anna, hanya menurut saja. Seperti dirinya terhipnotis dengan perkataan Galih.


Anna langsung memberikan kunci mobilnya pada Deni, " Den, ini kuncinya. Saya mau menemui kakak saya dulu. "


"Oke."


Deni menerima kunci dari Anna. Dan kini kedua lelaki dan wanita itu segera keluar dari rumah sakit untuk segera menaiki mobil.

__ADS_1


Didalam mobil, ada rasa canggung. Karna sudah lama tak bertemu, Anna kini mulai bertanya begitu pun dengan Galih, membuat mereka pada akhinya salah tingkah karna bertanya di waktu yang bersamaan.


Senyuman terukir dari bibir mereka masing masing.


__ADS_2