
Dalam perjalanan menaiki mobil, perasaan wanita tua bernama Bu Sari seakan tak karuan, gelisah. Takut jika nanti Anna akan menceritakan kelakuannya.
Farhan menatap kearah Bu Sari dengan rasa heran, karena dari tadi wanita tua itu terus melamun menatap ke arah jendela. Farhan mulai bertanya kepada Bu Sari Karena rasa penasarannya," apa yang tengah nenek pikirkan?"
Bu Sari menatap kearah wajah cucunya, anak laki-laki yang tak pernah ia anggap. Ternyata begitu baik dan juga perhatian," nenek tidak kenapa-kenapa."
"Tapi nenek terlihat gelisah seperti itu."
Anak muda berumur tujuh belas tahun, ternyata menyadari jika Bu Sari telah memikirkan ketakutan ketika cucunya bertemu dengan Anna.
"Perasaan kamu saja, Farhan."
Farhan tersenyum lebar, menyodorkan sebuah botol Aqua dan juga makanan," takutnya nenek kelelahan, ini buat nenek."
Memang dari tadi pagi Bu Sari, belum menemukan makanan sedikitpun. Ia terlalu mengurusi emosinya, karena keinginan Raka. Membuat Bu Sari dengan nekadnya menghampiri Anna.
Bukan malah mendapatkan yang terbaik dari jawaban mantan menantunya itu, yang ada hanya kekecewaan. karena Anna bersikeras tidak akan membebaskan Raka.
"Ayo nek. Makan."
Farhan yang begitu perhatian, terus saja menyodorkan makanan kepada Bu Sari. Dengan tangan gemetarnya, Bu Sari meraih makanan yang berada di tangan sang cucu.
"Terima kasih, Farhan."
Galih melihat pemandangan anaknya dengan Bu Sari dari arah kaca mobil, membuat hatinya tentulah kagum, begitu baiknya Farhan. Walaupun ia pernah tersakiti, tapi ia membalas dengan kebaikan.
Anna memang hebat telah membuat, anak yang sengaja dibuang oleh Galih menjadi anak yang begitu baik dan rendah hati.
Begitu beruntungnya Galih, bisa mendapatkan Anna, wanita baik yang mampu menjaga keluarga dengan baik.
Rasa tak sabar ingin segera bertemu dengan sang istri, membuat Galih melaju cepat mobilnya agar segera sampai di rumah sakit.
Ainun, berusaha menahan rasa sesak di dada, hatinya masih begitu berat. Menerima kenyataan yang begitu pahit untuk dirinya sendiri, pada akhirnya orang yang dulu sangat mencintai dia, sudah menjadi milik orang lain.
Rasa penyesalan menyelimuti hati Ainun. Jika ia diberi kesempatan untuk tetap hidup dan memiliki pasangan, tentulah ia akan berusaha tidak menyia-nyiakan orang yang benar-benar tulus kepada dirinya.
__ADS_1
Memegang dada, meluapkan kesedihan dengan menatap kearah jendela yang sedikit terbuka.
Setelah sampai di rumah sakit.
Mereka kini keluar dari dalam mobil, untuk segera menemui Anna.
"Nenek, beneran tidak akan ikut kami."
"Iya, Farhan."
Bu Sari menampilkan sebuah senyuman, berharap tidak ada sesuatu yang terjadi kepada dirinya lagi. Bu Sari sangat takut jika nanti Farhan keluar dari ruangan Anna malah memarahnya.
Ainun yang baru saja keluar dengan menutup pintu mobil, terlihat begitu ragu. Langkahnya seakan berat untuk masuk ke rumah sakit. Iya takut jika Anna tidak menerima kedatanganya saat itu, apalagi dengan Indah, wanita bermata sipit itu tentulah sangat membenci dirinya.
"Ayo, Ainun."
Ainun masih berdiri di pintu dekat mobil Galih, dia hanya menampilkan senyuman dan berkata," aku takut jika istrimu tidak menerima aku datang ke ruangannya."
Galih menggelengkan kepala, dia menghampiri Ainun dan menarik tangannya untuk datang ke ruangan istrinya.
Menarik napas pelan, mengeluarkannya terasa sesak. Pada akhirnya Ainun mengikuti langkah Galih untuk segera bertemu dengan Anna. wanita berhijab silver itu, dengan perlahan melepaskan pegangan tangan Galih. Ainun takut jika orang salah paham saat melihat Galih memegang tangannya.
"Kamu duluan, aku ikut dari belakang."
"Baiklah."
Ainun masih mengingat ruangan di mana dirinya yang marah-marah dan memfitnah Galih, penyesalan semakin menggerogoti hati dan pikiran Ainun. Andai saja kemarin ia tidak datang dengan keadaan marah-marah mungkin saja dirinya tidak akan malu datang lagi menemui Indah dan juga Anna.
Karena kebodohan Ainun, membuat dirinya benar-benar ragu dan ketakutan. Walaupun Farhan dan juga Galih meyakini hati wanita berhijab silver itu.
"Ibu Ainun, tenang saja. Jika Tante Indah bikin rusuh ada Farhan ini."
Mendengar anak remaja berumur tujuh belas tahun berbicara seakan ingin melindungi Ainun, membuat Ainun tertawa kecil.
Walaupun Farhan sudah menjadi anak remaja tapi Ainun tak segan-segan mencubit kedua pipinya, bagi dirinya Farhan tetaplah anak kecil.
__ADS_1
"Aw sakit."
Ainun tertawa di saat langkah mereka semakin dekat ke ruangan Anna. Galih yang lebih dulu berjalan ternyata sudah masuk ke ruangan istrinya, sedangkan Ainun dan Farhan menunggu terlebih dahulu di luar ruangan.
Takut jika nanti menjadi kesalahpahaman untuk Anna dan juga indah. Bagaimanapun Ainun harus bisa menjaga perasaan istri Galih yang sekarang.
karena Ainun yang sudah berubah dan menyesali perbuatannya menjadikan dia wanita yang lebih baik, dan juga berubah untuk lebih menghargai isi hati wanita yang kini menjadi istri Galih.
Rasa cemburu itu perlahan menghilang seiringnya waktu, perubahan dan juga keyakinan hidup. Jika Ainun sudah mengikhlaskan semuanya, membuang rasa dendam yang dulu tersimpan begitu lama.
Indah berdiri melihat kedatangan Galih yang secara tiba-tiba, " kemana saja kamu, Galih?" wanita bermata sipit itu bertanya dengan nada sedikit meninggi.
Sedangkan Anna tetap tersenyum dan menjaga ucapannya suaminya yang baru saja datang.
"Mas Galih."
Lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang mancung menghampiri sang istri, memegang perlahan pipi yang sudah halal itu.
Anna yang selalu mengutamakan adab, mencium punggung tangan sang suami, tersenyum dan berkata." Mana Farhan?"
Indah yang memang mempunyai sifat pemarah, malah memarahi adiknya," Anna, kamu ini memang ya. Suami datang lama tetap saja tersenyum, coba galak sedikit biar tuh laki mikir."
Deni berusaha menghentikan ucapan istrinya yang sangatlah keterlaluan, ucapan Indah tak patut dicontoh. Wanita bermata sipit itu terlalu membesarkan ego daripada adab dan juga perasaan.
"Indah, tak baik jika kamu mengompori orang yang tengah berbahagia." Nasehat Deni terdengar lagi oleh Istrinya.
Indah yang mendengar perkataan suaminya, terlihat begitu kesal, ia membuang muka. Duduk dan berusaha menutup mulut.
"Farhan ada di luar, aku panggil dulu dia sekarang. Dan ada sesuatu yang mau aku tunjukkan pada kamu Anna."
"siapah."
Indah yang mendengar kemesraan Galih dan Anna, membuatnya risih, semenjak wanita bermata bermata sipit itu melihat Ainun, artinya begitu sudah sangat kesal. Pada akhirnya, dia sering menyindir Galih dan membuat kata kata kasar.
"Alah, sudahlah tak perlu banyak cicong. Galih, cepat suruh dia datang ke dalam. Aku pastikan dia bukan Ainun, kalau ternyata Ainun."
__ADS_1
Anna memotong pembicaraan kakaknya," Kak, bagaimanapun kita membenci seseorang. Alangkah baiknya diam tanpa harus mencacinya jika kita lakukan itu, apa bedanya kita dengan dia."