Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 182 Permohonan Ajeng


__ADS_3

"Ayo, bu. Kita siap-siap," ucap lelaki tua yang menjadi ayah Raka, menyuruh sang istri untuk bersiap siap.


Namun Bu Sari terlihat melamun, setelah ajakan beberapa kali dilayangkan oleh suaminya untuk menemui Anna di rumah sakit. Ia terlihat mengaruk belakang rambutnya, yang mungkin tak gatal dengan sedikit terlihat tersenyum.


"Bu."


"Iya, pak."


"Malah melamun, ibu kenapa kurang enak badan?"


Tangan sang suami yang sudah terlihat mengekrut memegang jidat Bu Sari, diraba apakah sang istri tengah demam.


"Jidat ibu nggak demam, ibu kenapa?" tanya sang suami dengan mengerutkan dahi. Terlihat begitu kuatir pada sang istri, yang dari tadi terus melamun.


Bu Sari berusaha mencari ide, agar suaminya merasa kasihan jika Bu Sari sedang tidak baik baik saja.


"Sepertinya badan ibu sakit sekali, jadi ibu pengen istirahat. Gimana bapak saja yang menjenguk Anna, sekalian ikut dengan nak Galih."


"Kalau memang begitu ya sudah."


Ucap lelaki tua itu, kini ikut serta masuk ke dalam mobil Galih.


Bu Sari bernapas lega, jika dia tidak ikut. Kemungkinan besar akan ada rasa malu menyelimuti wanita tua itu.


Galih kini membawa suami Bu Sari ke rumah sakit, untuk menemui Anna, yang dikabarkan akan segera pulang. Wanita paruh baya itu hanya bisa melihat kepergian suaminya.


Setelah sampai di rumah sakit. Lelaki tua yang menjadi ayah Raka, mendekat ke arah Anna. Dimana wanita yang dulu menjadi istri dari anaknya, tengah berada di rajang tempat tidur. Terlihat Anna tersenyum padanya.


Wanita baik, tak pernah melawan, selalu sabar di matanya. " Anna. Apa kabar nak."


Mendekat dan terlihat wajah kuatir sang lelaki tua pada Anna.


"Bapak, ke sini. Mana ibu?"


Pertanyaan yang selalu terlontar dari mulut Anna, yang tak pernah menyimpan dendam kepada kedua orang tua Raka. Walau pun Bu Sari pernah datang memarahi Anna, ia berusaha tak menyimpan rasa kesal dan juga benci.


"Ibu tak enak badan, jadi nggak ikut!"

__ADS_1


Jawaban lelaki tua itu, sudah bisa ditebak oleh Anna sendiri. Pastinya sang Ibu merasa kesal karena ia tak mau menuruti keinginannya untuk membebaskan Raka dari dalam penjara.


"Apa karena kepikiran Mas Raka, ya." Gumam hati Anna.


"Bapak, bawa oleh oleh dari kampung untuk kamu."


Lelaki tua yang menjadi suami Bu Sari memberikan sebuah kresek kecil yang berisi makanan dari kampung, memang Ana sangat menyukai makanan Kampung semenjak ia menjadi istri Raka.


"Wah, makasih. Pak."


"Sama-sama."


Terlihat sekali dari raut wajah lelaki tua itu tak pernah ada sedikitpun permintaan ingin membebaskan anaknya di dalam penjara kepada Anna.


Ia selalu bersikap baik dan juga adil kalau memang orang itu bersalah, tak ada keinginan untuk membuat orang itu bebas.


Anna melihat tangan dan juga kaki yang penuh luka membuat ia bertanya kepada lelaki yang menjadi suami Bu Sari," loh pak itu Kenapa tangan sama kakinya kok bisa berdarah seperti itu?"


Anna begitu menguwatirkan lelaki tua yang menjadi mantan mertuanya itu." kamu memang dari dulu baik Anna, selalu memperhatikan bapak. Padahal kita itu sudah tidak ada hubungan kekeluargaan lagi, tapi kamu selalu menganggap bapak ini keluarga kamu."


Kedua mata yang terlihat berkaca kaca, kini mengeluarkan air mata mengenai kedua pipi mengkerut.


"Terima kasih, Anna. Kamu memang wanita baik, sayangnya anak bapak menyia nyiakan kamu." Menundukkan wajah, ada kesedihan diraut wajah yang tak bisa di artikan lagi.


"Saya berusaha Ikhlas, pak. Untuk menjadi wanita baik rasanya tak sepenuhnya ada pada diri saya." Anna merendahkan hati di depan mantan mertuanya itu, ia tak mau menjadi orang yang sombong dengan pujian lelaki tua dihadapannya.


Galih datang, menghentikan percakapan mereka berdua." Anna, waktunya kamu bersiap siap untuk pulang."


"Iya, mas."


Anna di alihkan pada kursi roda, ia meminta pada sang dokter untuk segera pulang. Karena sudah tak betah berlama lama di rumah sakit, membuat kepenatan terasa dalam diri Anna.


Saat keluar dari ruangan, bertapa terkejutnya Anna melihat sosok wanita menangis dihadapanya.


"Ajeng, kamu sudah sembuh."


Anna tersenyum dengan raut wajah terlihat bahagia, melihat Ajeng wanita yang hampir depresi dan bunuh diri kini bisa memanggil namanya.

__ADS_1


"Anna."


Mendekat dengan memohon kepada Anna," Anna. Aku ingin meminta sesuatu pada kamu, apa kamu bisa mengabulkannya."


Pak Aryanto dan Bu Ayu, hanya ada di samping sang anak, tak bisa membantu ataupun mengatakan keinginan Ajeng.


Karena mereka sudah tahu, bahwa Anna pasti akan menolak dan tak bisa mengambulkan keinginan Ajeng.


"Ada apa, Ajeng? kok kamu terlihat seperti gelisah begitu, memang apa keinginan kamu?"


"Apa kamu bisa .... "Bibir Ajeng terasa berat, saat ingin mengatakan hal yang terasa tak mungkin Anna penuhi.


" Ayo bicaralah, ada apa Ajeng?" tanya Anna kembali menatap wajah gelisah wanita berambut panjang hitam dengan alis mata tebalnya.


"Ehh, apa kamu bisa membebaskan, Raka dari dalam penjara!" Jawaban mengejutkan dari bibir tebal Ajeng, tentulah membuat Anna terdiam membisu, bagaimana bisa wanita yang sudah dihina disakiti oleh Raka, mengiginkan lelaki itu keluar dari dalam penjara.


Apa sebegitu cintanya Ajeng, sampai sampai ia mengiginkan Raka keluar dari dalam penjara.


"Apa kamu bisa mengabulkan keinginanku, Anna. Ini keinginanku yang terakhir kalinya, aku mohon padamu. Karena hanya Raka yang membuat aku merasa kuat dan bisa menjalani kehidupanku yang sekarang."


Ajeng memegang tangan Anna dengan erat, penuh permohonan. Kedua mata berkaca kaca, pada kursi roda yang mereka pakai, Ajeng berusaha mendekat, agar bisa berhadapan dengan Anna yang dari tadi menundukkan wajah, ketika Ajeng meminta Raka dibebaskan.


"Anna, ayolah bicara. Apa kamu bisa membebaskan Raka, dari dalam penjara. Aku mohon."


Rengekan Ajeng, terdengar begitu jelas dari kedua telinga Anna, seperti anak kecil yang ingin membeli sesuatu.


Anna menatap tajam ke arah Ajeng, memberi kode, jika ia tidak bisa." Ayo, mas kita pergi dari sini."


Galih meraih gagang kursi roda, untuk mendorong dan pergi dari hadapan Ajeng. " Anna, ayolah."


Tangan Ajeng masih memegang erat tangan Anna, berharap jika tangan itu tidak di lepaskan.


Namun sayangnya, Anna melepaskan tangan Ajeng dengan perlahan. Ia tak mau berbicara ataupun membalas perkataan Ajeng. "Mas, ayo kita pulang."


Lelaki tua yang menjadi ayah Raka, tak menyangka jika Ajeng senekad itu mengatakan keinginan yang konyol, membuat lelaki tua itu hanya menggelengkan kepala.


"Anna." Teriak Ajeng, di saat Anna sudah mulai pergi menjauh, dengan sekuat tenanga Ajeng menjalankan kursi rodanya.

__ADS_1


__ADS_2