Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 210 Berpura pura jadi suster


__ADS_3

"Maaf sebelumnya, pak. Saya hanya mematuhi perintah dokter. Jadi Pasien Ibu Ainun harus di suntik lagi untuk kedua kalinya," tegas Intan berpura-pura menjadi ustad di rumah sakit.


Namun Farhan tetap saja bersikeras, tidak mau melihat ibunya disuntik kembali, karena baru saja beberapa menit ibunya mendapatkan suntikan.


"Coba kamu panggil dokternya ke sini, saya ingin tahu dokter mana yang menyuruh kamu untuk menyuntikkan beberapa kali suntikan ke infusan ibu saya," bantah Farhan, mengelak ucapan suster.


Intan tak tahu jika pada akhirnya akan seperti ini, Farhan malah menyuruh Intan untuk memanggil dokter, jelas ia tidak tahu dokter mana yang menangani Ainun. Karena dirinya berniat mencelakai Ainun, sengaja menyuntikkan racun pada infusan.


"Kenapa kamu diam saja." Tegas Farhan, Intan berpura-pura menjadi suster, terlihat ketakutan. Dengan suara lantang Farhan yang begitu keras terdengar.


Menundukkan pandangan, Intan dengan terburu-buru keluar dari ruangan Ainun, ia berpura-pura akan memanggil dokter di rumah sakit yang menyuruhnya untuk menyuntikkan obat untuk kedua kalinya.


Ainun yang mendengar Farhan membentak suster di rumah sakit, membuat tangannya memegang bahu sang anak," Farhan, kenapa kamu malah marah-marah pada suster, dia kan hanya menjalankan tugasnya."


"Iya Farhan juga tahu bu, hanya saja Farhan curiga dengan suster yang akan memberikan obat pada ibu, terlihat sekali gerak-geriknya seperti orang yang akan mencelakai ibu," ucap pelan Farhan pada ibunya. Yang terlihat begitu mempercayai suster.


"Kamu tak boleh suuzon begitu, nak. Mungkin dokter memberikan obat lagi, agar keadaan ibu semakin membaik, " balas sang ibu, berusaha tidak berpikir negatip.


"Mm, mana ada bu. Dokter kaya begitu."


Anak muda berumur sebilan belas tahun itu, kini berdiri, untuk segera menemui dokter. Karena sudah sepuluh menit dokter belum juga datang kembali, membuat suatu kecurigaan pada diri Farhan.


"Kamu mau kemana, nak?" tanya sang ibu, meraih tangan anaknya agar tidak pergi.


"Ibu tunggu dulu di sini ya, Farhan mau cari dokter dulu!" jawab Farhan. Ia melangkahkan kaki melepaskan tangan sang ibu, untuk segera menemui dokter menghilangkan kecurigaanya.


Saat Farhan mecari dokter, Intan ternyata bersembunyi, ia kini masuk ke ruangan Ainun dengan membawa sebuah jarum suntik yang sudah terisi obat.


"Kesempatan yang bagus."


Ainun sendiri di dalam ruangannya, merasa tak enak hati saat anak semata wayangnya pergi. Tiba tiba saja ia dikagetkan dengan kedatangan wanita yang memakai baju suster.


Mengerutkan dahi," Loh suster datang lagi."


Intan berpura-pura menjadi suster, tak menanggapi ucapan Ainun. Ia melangkah ke arah ranjang tempat tidur, mengambil infusan untuk menyuntikkan obat yang ia pegang.


"Maaf sus, mana dokternya?" tanya Ainun. Suster itu malah berdiam diri dihadapan Ainun. Membuat suatu kecurigaan dalam diri wanita berhijab itu.

__ADS_1


"Suster kok, diam saja. Saya tanya loh," ucap Ainun pada suster dihadapanya.


Perlahan Intan mulai membuka maskernya, ia menampilkan wajah yang tentu saja membuat Ainun membulatkan kedua mata.


"Kamu terkejut, Ainun?" tanya Intan. Mendekat ke arah wajah Ainun.


"Kamu ternyata Intan!" jawab Ainun. Masih merasa terkejut dengan penampakan pembantu yang dipecat oleh Galih.


Intan menampilkan senyumannya di hadapan Ainun, ia tertawa. Sembari bertepuk tangan dihadapan wanita yang sangat ia benci.


"Kenapa? Terkejut ya, melihat aku ada di hadapan kamu sekarang?"


"Mau apa kamu datang ke sini, bukanya Galih sudah mengusir kamu."


Tawa semakin terdengar renyah dari mulut Intan, ia mengharapkan Farhan segera kembali ke ruangannya, " kenapa, Ainun. Kamu seperti orang ketakutan saat melihatku, apa aku begitu menyeramkan di mata kamu?"


"Cepat pergi dari sini." Ainun berusaha mengusir Intan dari ruangannya.


" Pastinya aku akan pergi dari sini, setelah kamu meregang nyawa setelah aku menyuntikan obat pada infusan kamu, Nyonya Ainun."


Deg ....


"Kurang ajar kamu, Intan."


Intan tersenyum senang, ia kini melambaikan tangan untuk berpamitan pergi dari hadapan Ainun.


"Oh ya, karena tugasku sudah selesai. Maka aku berpamitan pergi saat ini juga, selamat menjalankan hari-hari bahagia untuk tidur selamanya."


" Intan. "


Teriak Ainun, memanggil nama Intan. Tanpa disadari obat yang disuntikan Intan kini mulai bereaksi.


Tiba tiba saja Ainun merasakan rasa sakit pada dadanya, ia berulang kali memukul-mukul dadanya karena merasakan sesak dan sakit yang sangat luar biasa dirasakan pada tubuhnya.


"Intan."


Ainun tak sanggup lagi berbicara ataupun berteriak memanggil Intan yang sudah membuat dirinya kesakitan.

__ADS_1


Tubuh Ainun terasa kaku saat obat itu terus bereaksi, Intan yang sudah keluar dari ruangan Ainun kini memakaikan maskernya, saat melihat Farhan dan juga dokter berjalan berpapasan dengannya.


Untung saja Farhan tidak menyadari Intan saat berpapasan dengannya.


Intan bernapas lega dan berjalan dengan terburu-buru, ia segera mungkin mengganti pakaiannya untuk segera pergi dari rumah sakit.


" Aku harus segera pergi dari rumah sakit ini, sebelum ada orang yang mencurigaiku."


Intan sudah mengganti pakaiannya, Iya bergegas pergi menaiki taksi yang sudah berhenti tepat di depan matanya.


"Pas sekali ada taksi."


Setelah duduk di dalam mobil taksi, perasaannya begitu tenang dan lega dia bisa membalaskan dendam yang sudah membara pada hatinya.


"Akhinya Ainun bisa aku atasi, ia akan mati setelah obat itu beraksi. "


Pergi meninggalkan rumah sakit untuk segera menemui Justin dalam penjara, ia akan memberikan kabar yang baik untuk suruhannya yang kini menjadi sahabat..


Intan sampai di penjara.


Namun, setelah sampai di penjara, Intan mendapat kabar yang tidak baik. Polisi memberitahu bahwa Justin meninggal dunia, Intan yang mendengar kabar dari polisi, terkejut.


Intan mulai menanyakan Kenapa Justin meninggal dunia.


"Kenapa dengan adik saya?" tanya Intan pada polisi.


"Adik ibu mendapatkan pukulan dari beberapa tahanan menyebabkan pendarahan pada otak hingga menyebabkan kematian!" jawab Polisi.


Intan tak menyangka baru saja kemarin ia di acam dan berdebat dengan Justin, tapi orang itu malah pergi meninggal dunia.


"Justin, meninggal dunia bikin repot saja." Gerutu Intan.


Padahal Intan cukup lumayan senang mendapatkan seorang sahabat untuk bercerita akan kemenangannya.


Polisi mulai menunjukkan mayat Justin, kepada Intan.


Melihat mayat Justin begitu penuh luka tonjokan dan juga pukulan yang begitu keras. Terlihat sekali banyak luka lebab, di area wajahnya. Intan sudah menduga jika Justin mengatakan hal yang tidak baik kepada semua tahanan di dalam penjara, membuat mereka murka dan dengan lantangnya memukul Justin tanpa ampun sedikitpun.

__ADS_1


"Justin kamu mati sia sia." Ucap Intan menutup kembali kain putih pada wajah Justin.


__ADS_2