Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 267


__ADS_3

Afdal menatap ke arah Marimar, dengan tatapan tanpa rasa kasihan ataupun sayang sedikit pun.


"Dia hanya orang lain sayang, ya sudah kamu pulang sana sama mama. Nanti papa beliin kado buat kamu, gimana?"


Anak berumur dua tahu itu, terlihat begitu menggemaskan, ketika ia bersorak kegirangan di mana sang ayah mau memberikan sebuah kado untuknya.


Khaira kini berjalan ke arah sang ibunda, "Ayo kita pulang, mah."


Namun polisi malah menyuruh Cika untuk memberi keterangan dulu sebentar, karena masih ada hal lain yang harus dijelaskan.


Dengan terpaksa Cika menitipkan anaknya pada polisi wanita yang tengah berjaga, ya tak mau masalah yang terjadi pada dirinya dan juga suaminya terdengar oleh anak semata wayangnya itu.


Marimar sudah tidak mempunyai harapan kembali, sepertinya ya harus merelakan sosok lelaki yang ia pertahankan dan juga berjuang, rela melakukan apa saja, sampai dirinya harus menderita sekarang.


******


Anna pulang membawa kekecewaan, walaupun Marimar sudah tertangkap, begitupun dengan Intan. Tapi Anna tak merasa puas, jika Lulu belum juga ditemukan, nomor ponsel yang diberikan Marimar begitupun dengan alamat Hotel.


Tidak menunjukkan bahwa orang itu berada di sana, entah mereka membawa Lulu ke mana.


"Anna. Kamu jangan terlalu memikirkan Lulu ya, Kamu harus ingat kondisi kamu dulu sekarang, kamu kan lagi mengandung."


Kondisi Anna terlihat lemas, tak ada kekuatan sama sekali," Bagaimana aku tidak memikirkan anakku Lulu, kalau dia belum ditemukan sampai sekarang juga. Sakit rasanya hatiku, mas."


Nita melihat tangisan ibunda Lulu merasa tak tega, ia menyesal karena meninggalkan Lulu bersama Intan pada saat itu. Coba saja jika Nita tidak pergi, kemungkinan besar Lulu akan bertemu dengan ibundanya.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, tapi polisi sudah berusaha Ana, tinggal kita bersabar dan menunggu hasil dari penyelidikan polisi lagi. Sekarang kamu istirahat ya."


Galih berusaha menenangkan sang istri, agar tidak larut dalam kesedihan.

__ADS_1


Nita menyuruh kedua sepasang suami istri itu untuk tinggal lagi di rumahnya, karena ia tak mau jika mereka berdua pulang dalam keadaan bersedih, Nita takut jika terjadi apa-apa saat mereka pulang.


" Sebaiknya Ibu Anna dan Bapak Galih tinggal saja dulu di rumah Nita. karena tak mungkin kalian berdua pulang di jam sore begini, takut jika nanti di jalan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


Galih merasa senang dengan tawaran anak gadis bermata sipit itu," Kamu memang anak baik Nita, Terima kasih atas tawarannya."


"Sama sama Pak Galih."


Mereka akhirnya pulang ke rumah, menyerahkan semua penyelidikan kepada polisi. Karena kondisi Anna yang tak memungkinkan, apalagi Anna tengah hamil muda, takut jika terjadi apa-apa dengan calon bayinya.


Galih mulai melajukan mobilnya, ke rumah Nita. Dimana para ibu-ibu terlihat berkerumun di rumahnya, entah apa yang terjadi. Tentulah membuat Nita heran.


"Nit, ada apa ya. Kok di rumah kamu banyak yang kumpul begitu?" tanya Galih, dimana lelaki berbadan kekar itu langsung memarkirkan Mobilnya di halaman rumah Nita.


"Entahlah pak, saya juga tidak mengerti dengan para ibu-ibu di kampung, mereka selalu begitu ketika ada masalah. Padahal saya tak pernah membuat masalah apapun kepada mereka!" jawab Nita terlihat begitu bersedih,


Nita sudah paham ketika para ibu-ibu berkumpul di depan rumahnya, pastinya mereka ingin memfitnah Nita, di mana kesalahan tak pernah Nita lakukan.


Nita berusaha tetap tenang, untuk menghadapi sekumpulan ibu-ibu kampung yang selalu mendukung Bu suci, perlahan ia turun di temani Anna, " Hadapi saja, kamu tak boleh takut dengan mereka."


Nita seperti diberi sebuah semangat untuk tetap menghadapi orang-orang yang selalu membuat kehidupan Nita terganggu.


"Tuh orangnya."


Wanita tua itu, menuju ke arah keponakannya, dengan raut wajah memerah menahan amarah.


Semua ibu ibu kampung kini mengelilingi Nita yang baru saja turun dari dalam mobil, ditemani dengan anak begitupun Galih.


"Hey, Nita. Belum puas ya kamu, membuat Bu Suci menderita. Kamu ini jadi keponakan kok jahat sekali."

__ADS_1


Entah apa yang dikatakan para ibu-ibu kampung itu, sungguh tak wajar bagi Nita. " Memang ya saya sudah berbuat apa pada Tante saja Bu Suci, bukanya kalian tahu sendiri, seharian saya selalu bekerja dan jarang ada di rumah."


Para ibu-ibu langsung menatap ke arah Bu suci. di mana wanita tua itu tetap memperlihatkan sebuah kesalahan yang sudah dilakukan Nita kepada dirinya.


"Heh, kamu lihat ini."


Bu Suci menunjuk luka dan juga tanda merah pada wajah badan begitupun rambut Bu suci yang rontok.


Nita tak tahu kenapa dengan tentenya, kenapa bisa seperti itu." perasaan aku tidak pernah melakukan apapun terhadap tante, apalagi tanda merah itu aku tidak tahu sama sekali karena apa?"


Nita benar-benar tak mengerti dengan fitnahan Bu Suci kali ini kepada, sungguh tak masuk akal.


" Jangan pura-pura sok bodoh kamu Nita, pura-pura tidak tahu lagi. Eh ini tuh perbuatan kamu semalam, karena kamu sudah menyiram aku dengan teh hangat sampai rambutku rontok dan wajahku memerah seperti ini."


Nita mulai mengingat kejadian semalam, memang ia sengaja melakukan semua itu, karena melihat Bu Suci mengintip dibalik jendela rumahnya.


"Oh, kejadian semalam itu."


Bu Suci dengan lantangnya langsung menunjuk ke arah Nita dan mengatakan sesuatu fitnahan kepada ibu ibu di kampung," tuh, ibu-ibu dengarkan apa kata si Nita itu, dia mengakui kesalahannya sendiri."


Karena semangat Anna, Nita kini membantah tudingan Bu suci dengan mengeluarkan ada suara yang begitu tinggi," Hei ibu-ibu dengarkan dulu apa perkataan saya."


Para ibu ibu langsung menatap ke arah Nita, dimana Bu Suci menyuruh untuk secepatnya mengusir Nita dari kampung halamannya sendiri.


"Sudahlah ibu ibu jangan dulu dengarkan perkataan si Nita itu, sebaiknya kita cepat usir dia dari kampung ini." Ucap Bu Suci meracuni otak para ibu-ibu.


Dimana para ibu ibu menurut saja, mereka bergegas menghampiri Nita. Galih yang melihat pemandangan itu langsung menghentikan para ibu-ibu di kampung.


"Kalian ini kenapa, tidak dulu mendengarkan penjelasan dari Nita, jangan asal main hakim sendiri. kalau kalian berani bermain hakim sendiri, saya pastikan akan membuat kalian masuk ke jeruji besi."

__ADS_1


Para ibu-ibu menghentikan langkah mereka, setelah mendengar Galih mengancam. Bu suci tidak tinggal diam," Sudahlah ibu-ibu jangan dengarkan apa perkataan laki-laki itu, sebaiknya kita cepat seret Nita, keluar dari perkampungan ini. "


__ADS_2