
Bu Sari pergi dengan menggerutu kesal dirinya, ia tak tahan dengan apa yang dikatakan Indah, hatinya sudah dibakar dengan amarah dan rasa benci, tak tahan ingin rasanya membuat kedua adik kakak itu menderita dihadapannya.
Tapi bagaimana caranya, Bu Sari memikirkan seribu cara. Tapi dia sadar diri, hanya seorang wanita tua yang sudah rapuh dan tak berdaya.
Terlalu lelah, untuk membalaskan dendam. Tapi hati akal dan napsu terus memerintah.
Keluar dari rumah sakit, wanita tua itu malah menendang kayu kecil dihadapanya. Sampai kayu yang ia tendang melayang ke orang lain, Brakk .....
"Haduh."
Meringis kesakitan, seorang lelaki berotot menghampiri Bu Sari.
"Apa kamu yang menendang kayu ini?" tanya lelaki berotot itu menunjukkan sebuah kayu dihadapan Bu Sari.
Menarik napas, ada rasa takut menghantui hati wanita tua itu. Bu Sari berpura pura tak tahu," Saya tidak tahu, jangan asal menuduh, ya."
"Saya hanya bertanya bu, kok ibu nyolot begitu, " ucap lelaki berotot itu, berusaha bersikap baik. Tapi Bu Sari yang ketakutan membuat ia berpura pura teraniaya.
"Siapa yang nyolot, orang kamu fitnah saya, " balas Bu Sari, dengan nada meninggi, ia perlihatkan pada anak muda berotot itu.
"Dasar ibu ibu sinting," cetus lelaki berotot pergi sembari meleparkan kayu dihadapan Bu Sari.
"Dasar anak muda gebleg, " gerutu Bu Sari dengan tergesa gesa pergi meninggalkan rumah sakit, wanita tua itu kini menunggu mobil angkot.
"Nasib, ya nasib. Tinggal di kota orang malah sengsara, Raka yang tadinya hidup enak dengan Ajeng, heh malah masuk penjara gara gara si Anna. Wanita sialan itu, pantas saja hatiku tak pernah suka sama dia dari dulu. Menantu tak bisa diandalkan." Bu Sari menggerutu dirinya sendiri, angkot berhenti. Ia mulai masuk dengan mengomel tiada henti.
Orang orang yang menaiki mobil angkot merasa risi dengan omongan Bu Sari, membuat mereka mengerutu kesal menyuruh sopir angkot menurunkan Bu Sari.
"Bu, kalau mau naik angkot itu, diam mulutnya. Kami di sini risi dengar ibu berisik kaya kodok." ucap salah satu penumpang ibu ibu diujung mobil dengan membawa anak kecil.
"Heh, siapa kamu. Pake acara ngatur-ngatur, penjabat bukan, sodara saya juga buka, " balas Bu Sari, mendelik kesal. Membuat penumpang berkata.
"Sadar bu, sudah tua nyolot terus. Ingat umur, " timpal anak muda yang berseragam sekolah.
"Heh, bocil. Jangan sok ngatur ngatur, ya. Hormat sama orang tua, " gerutu Bu Sari.
Sang kenek menyuruh mobil berhenti, dan mengusir Bu Sari saat itu juga.
__ADS_1
"Ayo keluar."
Orang orang di dalam angkot , saling bersahutan menyuruh Bu Sari untuk cepat keluar dari dalam angkot.
"Ayo keluar bu, jangan bikin rusuh di angkot."
Bu Sari yang sudah tersudut emosi, pada akhinya keluar dari dalam angkot dengan menggerutu kesal. " Dasar kalian orang orang tidak punya sopan santun."
Teriak Bu Sari, angkot itu kini melaju dengan kencang tak mempedulikan Bu Sari.
Tidak ada satu orang pun yang Bu Sari lihat, hanya pepohonan besar menjuntang tinggi, jalanan begitu sepi. Membuat rasa ketakutan menghantui pikiran wanita tua itu.
"Kenapa juga pake acara diturunin di sini. Hah, angkot tak berguna."
Berjalan untuk menunggu angkutan umum, wanita tua itu melihat ponsel jadulnya. Terlihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Sudah jam segini, mana ada angkutan umum."
Hati Bu Sari tampak gelisa, ia ketakutan berjalan 400 meter, tak ada mobil yang sudi berhenti membantunya.
"Ahk, Raka kenapa sih dari dulu kamu ini kerjaannya nyusahin ibu."
*********
Galih dan Farhan yang berada di dalam mobil, melihat wanita tua duduk di pinggir jalan.
"Pah, coba deh lihat. Ada wanita tua sendirian duduk. Ia seperti sedang menangis."
Galih yang mendengar perkataan Farhan kini menghentikan mobilnya, Farhan mulai membuka pintu mobil untuk segera menemui wanita tua itu.
ada rasa kasihan dalam hati Farhan ketika melihat wanita tua sendirian di pinggir jalan yang penuh dengan pepohonan yang menjulang tinggi ya Tak Tega jika wanita tua itu kenapa-napa.
Farhan memerankan diri turun mendekat ke arah wanita tua yang telah menangis," nek."
Memanggil wanita tua itu, membuat Bu Sari menjawab sembari menatap ke arah Farhan. kedua mata wanita tua itu membulat, melihat cucu yang ia sia-siakan dari dulu menghampirinya.
"Nenek, Kenapa nenek ada di sini?" Pertanyaan Farhan membuat Bu Sari mencoba menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipi. "
__ADS_1
Bu Sari meminta tolong kepada Farhan untuk mengantarkanya pulang.
"Farhan, kamu bisa nolong nenek tidak, nenek ingin pulang. Asal kamu tahu nenek diturunin sama angkot di pinggir jalan. Sampai nenek ketakutan sendiri, Farhan."
Mendengar suara sang nenek yang begitu bersedih, membuat Farhan yak tega. Walaupun memang dulu Bu Sari sering menyakiti dan juga menganggap Farhan seperti tak ada.
"Ya sudah, ayo nenek, kita naik mobil, biar nanti Farhan dan papa Galih mengantarkan Nenek sampai rumah. "
"Ya ampun. Terima kasih ya Farhan, nenek sangat bersyukur sekali ada kamu menghampiri nenek. kalau saja kamu tidak ada, mungkin nenek di sini sendirian."
"Ya sudah nenek jangan bersedih lagi, ya. Ayo kita pulang. "
Farhan menyodorkan tangannya untuk diraih sang nenek, wanita tua itu perlahan berdiri berjalan ke arah mobil. Galih yang melihat raut wajah nenek tua itu, seakan mengenalnya.
"loh. Bukannya itu Bu Sari mantan mertua Anna. Kenapa dia bisa ada di sini," gumam hati Galih melihat pada kaca mobil luar.
"Papa, kita anterin nenek pulang dulu ya. Kasihan dia. "
"Tapi Farhan. Nanti mama kamu menunggu kamu, sebaiknya kita bawa saja nenek kamu ke rumah sakit. setelah pulang dari rumah sakit kita bisa mengantarkan nenek kamu dan juga tante Ainun, bagaimana?"
" Ide yang bagus sih, Pah. Ya sudah, Farhan tanya dulu sama nenek, kalau nenek setuju kita bawa dulu dia ke rumah sakit, setelahnya antarkan dia pulang. "
Farhan menanyakan pada sang nenek yang masih berdiri didekat mobil.
"Nak. Bagaimana kalau nenek ikut dulu ke rumah sakit menemui mama Anna."
Mendengar ucapan sang cucu, membuat Bu Sari tentulah malu, baru saja iya keluar dari rumah sakit menemui Anna untuk membebaskan anaknya. Kini ai harus berpapasan dengan dibawa oleh Farhan.
"Ya sudah, tapi nenek diam aja di dalam mobil ya. "
" Loh kok nenek begitu sih, nenek ikut saja ke dalam rumah sakit. Biar melihat keadaan Mama yang sekarang."
Bu Sari menggelengkan kepala sebenarnya ia Bukan tak mau ikut ke dalam ruangan Anna, tapi dirinya yang malu akan perlakuan yang sudah ia perbuat pada anak mantan menantunya itu.
" Nenek mau di dalam mobil saja ya. Farhan"
Galih yang mengerti mulai menasehati anak remaja berusia 17 tahun itu. "Sudahlah biarkan nenek kamu tinggal di dalam mobil biar kita saja yang masuk ke ruangan Anna."
__ADS_1
Pada akhirnya Farhan menurut.