Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 94 Sebuah pilihan, iya atau tidak.


__ADS_3

Danu yang mendengar ancaman Indah untuk dirinya sendiri, kini mulai berpamitan untuk segera pulang meninggalkan rumah Indah saat itu juga. 


"Baik Indah, aku akan pulang sekarang juga. Jangan lakukan apapun yang mampu melukai diri kamu. Maafkan aku telah mengganggu waktu kamu Indah."


Danu kini mulai menaiki mobil untuk segera pulan, sedangkan Indah masih berada di dalam rumah menangis. Badannya terkulai lemah, ia dudukan di atas lantai. Indah berusaha mengendalikan dirinya agar tetap tenang, tidak terayu oleh ucapan Danu, dan merasa kasihan pada lelaki yang akan sepenuhnya menjadi mantan suaminya itu. 


*****


Sedangkan Anna dan juga Galih tengah menikmati suasana rumah makan, yang mereka kunjungi, tertawa dan bercerita membuat suasana semakin menyenangkan, bagi kedua insan yang kini berstatus menjanda dan juga menduda. Ada rasa canggung pada diri masing-masing di mana Galih memulai percakapan di waktu yang sama bersamaan dengan Anna, suasana yang tadinya menyenangkan seketika berubah menjadi tak karuan. 


Mereka saling diam sejenak dimana Galih memulai sebuah obrolan kembali. 


Galih tiba-tiba saja merogoh saku celana mengeluarkan benda kecil, dimana benda itu  langsung ia sodorkan di hadapan Anna. 


Anna yang melihat benda itu tentu saja membulatkan kedua matanya, antara kaget dan juga bingung. 


Galih mulai melayangkan senyumannya yang lebar di hadapan Anna, perlahan ia mulai mengungkapkan isi hatinya.


Galih sebenarnya melihat ada keraguan pada hati Anna, membuat ia bingung dan sulit mengatakan semua yang ia ingin ungkapkan. 


Dengan memberanikan diri. 


"Anna, saya ingin menikahi kamu?"


Sontak perkataan Galih tentu saja mengejutkan hati Anna, kedua bola matanya membulat, kedua bibir tak bisa berkata kata, tiba tiba saja kaku. 


Anna mencoba tertawa kecil," Bapak, ini jangan bercanda."


"Saya tidak bercanda Anna, saya serius. Makanya saya membawa benda kecil ini untuk dipasangkan pada jari manis kamu."


Anna terkejut dengan ucapan Pak Galih, lelaki bertubuh kekar dengan sifatnya yang cuek itu. Bisa mengungkapkan isi hati dengan mencoba melamar Anna.


"Apa kamu mau menerima saya, Anna? "


Pertanyaan tentu saja membuat Anna, semakin gugup. Antara terima atau tidak.


"Bagaimana, Anna? "


"Apa yang harus aku katakan pada Pak Galih, sedangkan hatiku ini belum siap? Ya tuhan aku benar benar bingung? " Gerutu hati Anna.


"Pak, apa bisa kita jangan bahas masalah ini dulu, karena masalah saya masih belum selesai. "


"Untuk masalah kamu saya masih bisa bantu, Anna. Kamu jangan kuatir, apa kamu tidak kasihan dengan anak anak kamu yang mengiginkan sosok seorang ayah. "

__ADS_1


Perkataan Galih memang ada benarnya, tapi Anna sekarang benar benar belum siap secara fisik dan mental." Anna."


Lamunan Anna membuyar saat lelaki yang berada disampingnya menyebut namanya, "Eh, iya pak. "


"Jadi gimana? "


Ponsel kini berbunyi, Anna segera mungkin mengangkat panggilan telepon pada ponselnya dengan mengalihkan pembicaraan lelaki yang melamarnya.


"Sebentar dulu ya, pak. Kakak saya menelepon."


Galih mempersilahkan Anna, walau sebenarnya hatinya kesal karna berulang kali ia bertanya Anna seakan menghindar. Padahal seorang lelaki butuh kepastian.


"Halo, kak. "


Suara isak tangis terdengar dari sambungan telepon, membuat Anna tentu saja kuatir. " Halo, kak. Kakak kenapa? "


"Anna, apa kamu bisa datang ke sini, Kakak ingin bercerita pada kamu!? "


Anna tak kuasa dengan apa yang dikatakan kakaknya, karena ia sekarang tengah berbicara serius dengan Galih, yang ternyata melamarnya. Jika tidak datang ke rumah sang kakak, takut jika sesuatu terjadi tanpa disadari.


Menghampiri Kak Indah, atau terus bersama Galih? Itulah yang kini ada dipikiran Anna, menarik napas berusaha tenang, Anna kini memilih sang kakak, dari pada menjawab pertanyaan Galih. Ia juga belum yakin dengan dirinya mempunyai pasangan, karena rasa trauma masih ia rasakan dengan perlakuan tak menyenangkan dari Raka, lelaki yang kini berada di dalam penjara.


"Ada apa, Anna? "


Tiba tiba saja Galih memegang tangan Anna, ia menahan dengan berkata, " biar saya yang antar kamu ke sana."


Awalnya Anna ingin menolak karena ia masih ragu dengan jawabanya, " boleh kah? "


Wajah memelas itu membuat Anna langsung menganggukan kepala, " baiklah. "


Mereka bergegas untuk segera ke rumah Indah.


Di dalam mobil, Anna semakin canggung berdekatan dengan Galih," Kamu kenapa, An."


"Oh, nggak kok pak! "


"An, jika kamu belum siap menerima saya sekarang. Saya siap menunggu."


Jawaban yang mengejutkan untuk Anna, lelaki tampan yang ingin menunggunya.


"Kalau begitu saya pikirkan dulu, sebelum memberi jawaban pada bapak. "


Anna bisa bernapas lega, sebelum menerima lamaran Galih.

__ADS_1


*******


Setelah sampai di rumah Indah.


Anna dengan cepatnya turun, melihat pintu rumah terlihat hancur.


Mengetuk pintu," Kak Indah buka, kak."


Pintu rumahpun terbuka, Indah muncul dengan raut wajah basah dengan air mata, rambut yang terlihat berantakan seperti orang frustasi.


"Anna."


Pelukan dilayangkan Indah pada Anna, ia menangis terisak isak, padahal saat ada Danu dan juga Siren, Indah terlihat begitu tegar, tapi sekarang?


"Kak, sebaiknya kita bicarakan di dalam rumah saja, ayo."


Anna berusaha menuntun Indah untuk masuk ke dalam rumah, terlihat tubuhnya yang lemas membuat Anna sedikit kewalahan, Galih yang menyadari semua itu kini membantu Anna.


Tatapan mereka beradu, Galih tersenyum dengan senyuman manisnya. Membuat kedua pipi Anna memerah.


"Kakak, duduk dulu ya, Anna mau ambilkan dulu air putih."


Anna tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ia meninggalkan sang kakak.


Ada rasa menyesal pada hati Anna karna meninggalkan sang kakak saat berhadapan dengan ibu mertuanya dan Danu.


"Kakak coba minum air putih dulu."


Indah mulai meminum air putih yang disodorkan Anna, membuat isak tangis kini tenang. " coba kakak cerita, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Mas Danu menyakiti hati kakak, atau ibunya?"


Indah menggelengkan kepala, membuat Anna mengerutkan dahinya, "Terus kakak kenapa menangis, apa Siren datang dan merusak pintu rumah? "


Indah tak bisa diajak mengobrol, ia malah menangis kembali membuat kebingungan pada diri Anna.


"Kakak, tenang dulu jangan menangis terus. Ayo sekarang cerita sama Anna, kenapa? "


Karna Anna yang terus menekan membuat Indah kini bercerita tentang apa yang terjadi tadi siang, Anna yang mendengar cerita itu tentu saja membuat ia kesal dan berkata, " Mas Danu itu tidak tahu diri, dia malah menekan kakak agar bisa kembali lagi padanya, benar benar egois."


"Kakak sudah yakin sekarang, kakak akan melepaskan dia. "


"Anna selalu mendukung pilihan kakak. "


Mendengar cerita dari sang kakak tentu saja membuat Anna, memikirkan Galih. Ia juga tengah di beri dua pilihan, antara iya atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2