Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 32 kalah debat.


__ADS_3

"Mana mungkin bisa, Ajeng. Kenyataan yang aku lihat, kamu itu peeooott."


Karna hati yang memang sudah kesal, membuat mulut ini terus mengatai Ajeng.


"God damn it."


Ajeng menghampiriku, sepertinya ia mau menjambak rambutku. Untung saja Pak Galih dengan sigap berdiri menjadi benteng pertahanan untukku.


"Sudahlah Ajeng, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, jangan seperti anak kecil. Ingat umur Ajeng," timpal Pak Galih.


Aku menutup mulut, setelah mendengar Pak Galih, mengatai Ajeng. Rasanya ingin sekali tertawa terbahak bahak di depan wanita alot saat ini.


Ajeng mengepal kedua tanganya, terlihat kekesalan yang ia simpan dalam dalam hatinya.


"Awas saja, you will regret."


Wanita bernama Ajeng itu kini pergi dari hadapan kami berdua, di mana Pak Galih berucap." Raka di butakan dengan harta."


Setelah perdebatan yang sudah usai, kini Pak Galih berpamitan kepadaku, untuk berangkat bekerja dan siang akan kembali menjemput aku dan ketiga anakku untuk segera pulang.


"Saya pulang dulu. Masih ada pekerjaan kantor yang menunggu."


Mengangguk perlahan tersenyum kecil." Oh ya pak."


Lelaki itu kini membalikan badanya dan bertanya," kenapa?"


"Terima kasih."


Pak Galih menampilkan senyum kecilnya, setelah aku mengucapkan kata terima kasih. Karna lelaki berkumis tipis yang berada di hadapanku sudah banyak membantu.


"It's okay, I'm happy to help you."


Aku mengerutkan dahi di saat Pak Galih membalas ucapanku dengan bahasa inggris, aku yang memang awam tak mengerti dan hanya bisa membalas.


"Yes."


Pak Galih tersenyum dan menggelangkan kepala, ia melambaikan tangan kearahku dan berkata,"See you again."


"Okay, 1 love you."


Aku langsung memukul bibirku yang memang hanya bisa mengatakan kata dalam bahasa inggris itu saja.


"Bodoh, Anna. Kenapa kamu mengatakan hal yang tak semestinya." Gerutuku dalam hati.


Punggung kekar lelaki berkumis tipis dengan rambut gaya anak muda, kini sudah tak nampak lagi.


Farhan mendekat," Mah, apa bisa Farhan punya papah seperti Om Galih."


Deg ....


Ucapan anakku membuat jantung ini berpacu tak biasa, bagaimana mungkin anakku berkata sedemikian.

__ADS_1


"Farhan, kamu ini. Nak. Mamah juga masih dalam proses perceraian, kamu malah memikirkan papah baru."


Farhan tertawa dikala aku menjawab perkataanya," tapi mamah begitu cocok dengan Pak Galih."


Aku menatap wajah anakku, mencubit pipinya dan berkata," kalau ngomong bisa saja kamu ini."


@@@@@


Tak terasa siang menjelang, dimana waktu Radit untuk segera pulang. Pak Galih menjemputku kembali, membuat hati ini merasa senang.


Lelaki yang katanya balas budi pada bapak, begitu banyak membantuku.


Brugg ....


Tiba tiba saja, tubuhku yang menggendong Lulu tertabrak. Dengan orang yang tengah berjalan sembari memegang ponselnya.


Ponsel lelaki itu jatuh ke atas lantai, membuat satu retakan pada layar ponselnya.


"Kamu ini kalau jalan bisa lihat TIDAK HAH." Hardik orang yang tak sengaja menabrakku.


Bertapa terkejutnya, lelaki itu ternyata Mas Danu, mantan suami Kak Indah. Sedang apa dia di rumah sakit?


"Ann-a."


Lelaki berotot dengan kulit hitamya, menunjuk ke arah wajahku.


"Mas Danu?"


Kini tangan yang menunjuk kearahku kembali turun, setelah aku memanggil namanya.


Pertanyaan yang tak menyenangkan dari mantan kakak iparku, membuat aku mendengus kesal.


"Kebetulan Radit di rawat di sini!"


Aku menjawab dengan berusaha bersikap tenang, tak ingin membawa masalah pribadi antara kak Indah dan Mas Danu.


"Oh."


Terlihat sekali kedua matanya melirik ke sana ke mari, seperti mencari seseorang.


"Cari apa kak?" Tanyaku.


Mas Danu terlihat gugup, katika pertanyaan aku layangkan lagi padanya.


"Tidak hanya ...."


Belum perkataan Mas Danu terlontar semuanya, sosok seorang wanita muda datang menghampiri Mas Danu, wanita muda itu bergelayut manja di depanku. Mereka tampak begitu mesra, seperti pengantin baru.


"Sayang, ayo. Kok kamu malah diam di sini, kita kan mau periksa kandunganku." kemajaan wanita itu membuat aku sedikit sakit hati. Seakan dalam hati ini mewakili perasaan Kak Indah.


"Istri baru, Mas?" tanyaku. Bagaimana jika Kak Indah melihat suasan seperti ini, mungkin hatinya akan sakit, walau memang kakaku terkesan kuat. Tapi tetap saja melihat pemandangan yang dilakukan Mas Danu dan istri barunya sungguh keterlaluan.

__ADS_1


Wanita muda itu bergelayut manja pada tangan Mas Danu, seperti ia senang telah merebut lelaki yang pernah menjadi milik kakakku.


"Oh ya kenalkan, Anna. Dia Siren."


Mas Danu mengenalkan wanita itu di hadapanku.


"Siren."


Menyodorkan tangan mulusnya, membuat aku berucap." Maaf tangamu bau sampah."


Aku pergi dengan hati senang, dikala wanita itu membuka mulutnya. Setelah mendengar apa yang aku katakan.


Mas Danu seakan tak menerima dan berkata," Anna. Apa maksudmu?"


"Maaf, kakak Ipar. Aku hanya menyadarkan kamu dari bau sampah yang berada di dekatmu itu!"


Langkahku begitu pelan, agar wanita yang berada di dekat Mas Danu mantan Kak Indah. Tersindir akan ucapanku yang sengaja.


"Mas, aku dengarkan wanita itu menjelekan aku. Siapa sih sebenarnya dia mas," ucap wanita yang menjadi istri Mas Danu dengan nada manjanya.


Tersenyum kecil, kulayangkan ucapan." Kamu tak usah tahu siapa aku."


"Ih, Mas, dia gila ya."


Mendengar suaranya yang manja manja, aku langsung membalas dengan nada tinggi." Gila, apa anda tidak punya kaca di rumah ya. Bukanya anda yang gila?"


Wanita yang aku belakangi, sepertinya kesal dengan jawabanku." Apa maksud kamu. Kita enggak kenal, tapi kamu dari tadi seakan menghinaku."


Aku membalikkan badan ke arah wanita muda, melihat ia tengah bekacak pingang membuat aku tertawa.


"Wah, wah. Memang kita tidak kenal, dan hanya kenal sekarang."


Aku menyodorkan tanganku ke arahnya," apa kamu mau tahu siapa namaku?"


Wanita bernama Siren, kini menganti posisi tanganya, ia lipatkan tangan mulusnya itu dan berkata." Sudahlah, katakan siapa kamu. Kenapa dari tadi kamu terus menghinaku."


"Aku tidak menghinamu, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya ada pada dirimu."


Istri Mas Danu mengerutkan dahi," maksud kamu?"


"Kenalkan aku Anna, adik dari mantas istri Mas Danu yang sudah kamu rebut!"


Wanita dihadapanku kini membulatkan kedua matanya, ia tertawa dan berkata," oh jadi kamu. Mewakili perasaan kakak kamu yang sekarang."


"Kenapa tertawa, tawa anda itu begitu menyeramkan bagi semua wanita."


Siren kini menghentikan tawanya, menatap ke arah wajahku." Kamu bilang tawaku menyeramkan, eh ngaca kamu cewek buruk rupa. Pantas saja kakakmu di tinggalkan oleh suaminya, dan memilih hidup denganku. Secara aku cantik, muda langsing dan ...."


Aku langsung menghentikan perkataan wanita itu dengan berkata. " Bodoh."


"Apa."

__ADS_1


Siren sepertinya kaget dengan ucapan yang aku lontarkan untuknya.


"Kamu cantik, muda langsing dan bodoh. Bodoh mau sama laki hasil ngerebut dari cewek lain. Iww jijik."


__ADS_2