
"Ray, kau pulang jam berapa nanti"
"jam 11"
Raymond menjawab pertanyaan istrinya, dengan acuh sambil memasukkan beberapa barang kedalam tasnya.
Raymond bekerja di salah satu perusahan besar di Solo yang bergerak didistribusi ATK (alat tulis kantor), dia sering bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk menyediakan alat tulis perkantoran. Jabatannya sudah setara seperti manajer,Raymond sgt loyal trhdp pekerjaanya,jika dibutuhkan dia tdk segan ikut mngantar sndiri barang pesanan kliennya.
Raymond dan Karen menikah sejak 5 tahun yang lalu dan sudah dikaruniai 2 orang anak. Jenny dan James.yang hanya selisih 2 tahun.
Ditempat lain Titan baru saja mendapat tugas dari kantornya untuk membuka cabang baru di Solo.
__ADS_1
Dia berasal dari jakarta, perusahan itu milik sahabat baik Titan, Arman.
Arman sdh sgt percaya pada Titan, Titan sndiri sbnarnya salah satu pemilik saham dari perusahaan Arman yg bergerak dibidang tekstil itu, meski sahamnya tidak sebesar saham Arman.
Mereka membangun perusahaan itu sejak awal bersama hingga berkembang pesat dan skrg hendak membuka cabang baru.
Tapi Titan tdk suka hal yg monoton, bekerja dibalik meja, menurutnya sgt membosankan.
Oleh karena itu arman menugasinya untuk membuka cabang baru, yg dengan senang hati disambut Titan.
Pabriknya sdh 75% hampir jadi, Titan hanya tinggal mengecek apa saja yg msh krg dan mesti diperbaiki. Pabriknya terletak dipinggiran solo, sekitarannya trdpt hamparan sawah hijau yg membentang. ad beberapa rmh pend yg jaraknya tdk begitu jauh.
__ADS_1
Entah mengapa suasana ini yg slalu dirindukan Titan.
"huff... " Titan menghembuskan nafas dan mengeluarkannya perlahan.
"bau tanah yg seperti ini yg mustahil ak dptkn dijakarta" gumam Titan.
Titan dulu sering bolak balik Jakarta Solo. awalnya dia srg menginap dihotel, tp belakangn dia memutuskan untuk membeli rumah yg jaraknya tdk terlalu jauh dgn pabriknya.
Titan mengambil penerbangan pagi ini ke solo, jadi setibanya disini suasananya msh sangat asri.
Dirumah Karen
__ADS_1
Sesaat setelah Raymond berangkat bekerja, Karen sibuk membersihkan rumah, sambil sesekali termenung. Dia merasa Raymond banyak berubah semenjak mereka memutuskan untuk tinggal sendiri. Dingin dan acuh. Sebelum memutuskan untuk tinggal sendiri mereka pernah tinggal jadi satu dgn keluarga Raymond. Meskipun sejak awal sebenarnya Karen kurang setuju dengan keputusan Raymond tsb. Karen khawatir jika keputusan utk tinggal jadi satu itu hanya akan membuat hub mereka dan keluarga Raymond renggang. dan ternyata kekhawatirannya tsb mnjdi kenyataan. setelah tinggal jadi satu semakin hari malah semakin banyak konflik yg trjadi. dari hal kecil sampai ke hal yg besar. Konflik itu mau g mau jg membuat hub Karen dan Raymond smkn tdk harmonis. Karen memikirkan psikologi kedua anaknya, dia mndesak Raymond utk pndh darisana dan tinggal sndiri. meskipun awalnya menolak namun pada akhirnya Raymond setuju meski terlihat tdk suka dgn keputusannya itu. Karen msh tdk hbs pikir dgn jalan pikiran Raymond krn sebenarnya dgn terang2an keluarganya sdh menunjukkan bahwa mereka tdk senang dgn keberadaan keluarga ini yg istilah kasarnya msh menumpang. Karen yakin sebenarnya suaminya mampu dlm hal finansial utk lbh mndiri. makanya ia tdk mngrti apa lg yg mmbuat suaminya itu kliatan trpaksa tinggal sndiri