
Tania turun dari tempat tidur. Dia kebelet pipis. Tapi ada keinginan untuk menatap sebentar ke jalanan.
Dan tak sengaja, mata Tania melihat sosok Rendi di atas motornya. Dia sedang menghentikan motornya di pinggir jalan.
Matanya menatap ke arah Tania. Tania pun menatap Rendi dari balkon.
Tania mendekat hingga berada tepat di teralis balkon.
Tapi mata Tania juga melihat mobil Tono kembali terparkir di halaman rumahnya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tania menoleh. Tono berjalan mendekatinya.
Lalu Tono meraih tubuh Tania, dan memeluknya. Tania memberontak. Tapi Tono semakin erat memeluknya, bahkan menciumi belakang kepalanya.
Tono sengaja melakukannya, karena tahu di seberang jalan sana ada Rendi yang sedang melihat ke Tania.
Tono terus mencumbui Tania.
"Lepaskan!" Tania berusaha memberontak. Dia tak mau Rendi salah mengerti.
Dan benar saja, Rendi langsung mengegas lagi motornya dengan kecepatan tinggi.
Tono yang merasa tersinggung atas penolakan Tania, dengan kasar menyeret tubuh Tania dan menghempaskannya ke atas tempat tidur.
Tania langsung bangkit dan mencoba menghindar. Tono terus mengejarnya.
"Kenapa kamu? Masih ingin ditiduri anakku, hah? Jangan harap! Anakku akan menikah dengan kekasihnya. Kamu pikir kamu satu-satunya kekasih Rendi?"
Ucapan Tono sontak membuat Tania terdiam. Karena yang Tania tahu, Rendi memang banyak sekali kekasihnya di sekolah dulu.
Dan dia adalah salah satu korban dari petualangan Rendi?
"Masih mau mengharapkan si brengsek itu?" tanya Tono.
Tania masih terdiam. Air matanya mengalir sendiri ke pipinya.
"Boleh aku ketemu dengan Rendi? Sekali saja," pinta Tania.
Tono mendengus.
"Jangan pernah berharap!" Lalu Tono meninggalkan kembali kamarnya dan mengunci pintunya dari luar.
Tania yang masih di atas tempat tidur, hanya bisa menangis di atas bantalnya. Sambil menahan rasa sakit di bagian bawah perutnya.
Setelah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perutnya, Tania bangkit dan segera ke kamar mandi.
Sampai di tempat tidur, Tania kembali memikirkan omongan Tono.
__ADS_1
Kalau memang Rendi akan menikah, kenapa dia tadi menatapnya seperti itu? Tania tak habis pikir.
Bagaimana caranya mencari tahu tentang Rendi? Apa aku kabur saja?
Tania berlari ke arah balkon. Dia melihat ke bawah. Terlalu tinggi untuk melompat. Lagi pula mobil Tono masih ada di halaman.
Tania berfikir dia akan mati kalau nekat melompat. Iya kalau mati, kalau hanya patah kaki dan tanganku, apa Tono tak akan menertawakanku?
Lalu siapa yang akan mengobatiku? Semua yang dimiliki paman dan bibi pasti akan diminta lagi.
Akhirnya Tania mengurungkan niatnya. Dia kembali lagi ke tempat tidur.
Aku harus mencari cara lain untuk kabur. Dan pergi sejauh-jauhnya. Agar Tono atau siapapun tak bisa menemuinya.
Apa Rendi masih mau membawaku kabur? Apalagi dia akan menikah.
Tapi apa aku harus menyerah pasrah pada Tono? Tania menggeleng. Tidak! Aku tak mau menyerah begitu saja pada si tua bangka itu.
Tania memikirkan itu hingga siang. Dia juga bolak balik ke balkon, mobil Tono tak juga pergi.
Ngapain dia tak juga pergi sih? Tania kesal sendiri, meskipun Tono tidak lagi masuk ke kamarnya.
Rendi kembali ke rumahnya. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Ren! Kamu kenapa?" Sari berteriak karena Rendi hanya melewatinya tanpa menyapa.
Rendi langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dihempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Bayangan papanya mencumbui Tania bermain lagi di pelupuk matanya.
Rendi memejamkan matanya. Hatinya sakit. Seperti disayat-sayat sembilu.
Papanya begitu kejam padanya. Bukannya mengalah dan memberikan Tania padanya, malah semakin membuatnya cemburu.
Sari masih terus saja berteriak-teriak memanggil nama Rendi hingga terdengar suara tangisnya. Membuat Rendi tidak tega.
Rendi bangkit dan membukakan pintu. Dia melihat mamanya masih menangis.
"Mama kenapa menangis?" tanya Rendi. Tangannya diulurkan untuk menghapus air mata mamanya.
"Kamu kenapa, Rendi?" Sari malah balik bertanya.
"Rendi....enggak apa-apa, Ma," jawab Rendi.
"Jangan bohong kamu. Mama tahu kamu lagi sedih. Kenapa?" Sari tetap yakin kalau anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Sari masuk ke kamar Rendi dan duduk di sisi tempat tidur.
__ADS_1
"Ceritakan sama Mama, apa yang kamu rasakan."
"Rendi enggak apa-apa, Ma." Rendi tetap tak mau mengaku.
"Ren. Kita hanya hidup berdua. Kita sama-sama tersakiti oleh orang yang sama. Ceritakan pada Mama, biar kamu lega. Jangan simpan kekesalanmu sendirian, Ren." Sari mencoba menggugah hati anaknya.
Sari tak ingin anaknya menderita sendirian. Dia tahu kalau anaknya masih sangat mencintai Tania. Tapi keegoisan papanya sendiri yang membuat Rendi sangat terluka.
"Rendi sudah tahu di mana papa tinggal selama ini, Ma," ucap Rendi.
"Lalu?"
"Semalam Rendi ke sana. Tapi kata pembantunya, mereka sedang pergi berdua. Rendi sakit hati, Ma! Dan lebih sakit hati lagi, tadi saat Rendi hanya ingin melihat Tania dari kejauhan, papa malah sengaja mencumbui Tania."
Rendi menundukan kepalanya. Sari membelai punggung Rendi.
"Sudahlah. Mama kan sudah bilang, jangan pikirkan Tania lagi. Dia sudah jadi milik papa kamu. Dia sudah menjadi seorang istri. Tak baik mengganggu istri orang."
"Rendi bukan mengganggu istri orang, Ma. Rendi hanya akan mengambil milik Rendi. Papa yang merebutnya!"
"Mungkin papa kamu memang tak mengetahuinya dari awal. Kalau saja dia tahu, pasti papamu tak akan melanjutkannya."
"Mama membela papa?" tanya Rendi sambil menatap Sari. Sari menggeleng.
"Untuk apa membelanya? Apa Mama jadi bahagia kalau membelanya? Enggak kan?"
"Lalu apa Mama akan menyalahkan Tania, yang mau saja dinikahi papa?" Rendi sudah menebak, pasti mamanya akan menyalahkan Tania.
"Keadaan yang salah, Ren. Hidup kadang seperti tak berpihak pada kita. Seperti Tania. Dia tak bisa menolak takdirnya. Meski dia berusaha pergi denganmu, tapi dia tak bisa lari dari kenyataan," sahut Sari.
"Dan kenyataannya sekarang, dia harus hidup dengan suaminya. Papa kamu. Dia lebih berhak atas diri Tania. Kamu paham, kan?" lanjut Sari.
Sari ingin sekali menyadarkan Rendi, agar tak lagi mengharapkan Tania. Bukannya Sari tak suka dengan Tania, tapi Sari ingin Rendi bisa ceria lagi.
"Rendi belum bisa, Ma," sahut Rendi.
"Kenapa?" tanya Sari.
"Karena Rendi sangat mencintai Tania!"
"Meski kamu telah melihat mereka bercumbu?" Sari jadi merinding sendiri, membayangkan orang setua Tono mencumbui perempuan muda seumuran anaknya sendiri.
"Jangan ingatkan itu lagi, Ma," ucap Rendi dengan sendu.
"Justru itu yang harus kamu ingat. Tania tidak seperti yang kamu kira. Mungkin dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah bersuami dan punya kewajiban melayani suaminya."
"Ma! Tolong hentikan omongan Mama! Sakit hati Rendi mendengarnya!" Rendi menutup muka dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Sari sendiri pun sebenarnya tak kalah sakit. Hatinya terasa tercabik-cabik saat mengatakannya.
"Maafkan Mama, Ren. Mama hanya ingin menyadarkanmu. Mama juga ingin kamu bahagia." Sari menepuk paha Rendi, lalu bangkit dan meninggalkan kamar Rendi dengan hati hancur.