HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 140 AKHIRNYA KETEMU JUGA


__ADS_3

Widya langsung menarik lengan Eni.


"Kamu gimana sih, En?" ucap Widya dengan kesal.


"Maaf, kami cari rumah Mike yang temannya Tania. Keponakan saya," sahut Widya.


Dito mengamati wajah Eni dan Widya.


"Tania?" tanya Dito.


"Iya, Tania keponakan saya," jawab Widya.


Dito menatap wajah Widya. Lalu berpindah ke wajah Eni.


"Kalian apanya Tania?" tanya Dito menyelidik.


"Saya budenya. Dan ini Eni. Bibinya Tania," jawab Widya.


Dito manggut-manggut. Lalu dia kembali menatap wajah Eni. Dia masih ingat wajah Eni. Meski samar-samar.


"Ya, benar ini rumahnya Mike temannya Tania. Silakan masuk, Bu," ucap Dito.


Widya dan Eni mengikuti Dito masuk ke dalam.


"Silakan duduk, Bu. Saya panggilkan Mikenya," ucap Dito lagi.


"Iya, terima kasih," sahut Widya. Eni diam saja, dia hanya mengangguk dan mengikuti Widya duduk.


Ternyata Mike benar-benar anak orang kaya. Rumahnya aja besar dan mewah. Batin Eni sambil melihat sekelilingnya.


"Sayang, dicari bibi dan budenya Tania tuh," ucap Dito di pintu kamar Mike.


Mike baru saja selesai memasukan bukunya ke tas. Dia sudah siap berangkat kuliah.


"Bibi sama budenya Tania?" tanya Mike sambil mengernyitkan dahi.


"Iya. Tuh, di ruang tamu." Dito menunjuk ke arah ruang tamu dengan dagunya.


"Mau ngapain?" tanya Mike lagi.


"Enggak tau. Kita temui aja dulu," ajak Dito.


Mike mengangguk. Lalu mengikuti Dito ke ruang tamu.


"Tante....!" sapa Mike pada Eni, setelah sampai di ruang tamu.


Mike masih hafal wajah Eni. Karena beberapa kali bertemu saat menjemput Tania.


"Mike," ucap Eni.


Lalu Mike menyalami Eni dan Widya dengan sopan.


"Ada apa ya?" tanya Mike.


"Mike, kita mau tanya, apa Tania ada di sini?" tanya Eni to the point.


"Tania?" Mike balik bertanya.


"Iya. Jadi begini. Tania kabur dari..." Eni menatap wajah Widya dulu.


Eni ragu-ragu mengatakannya. Karena pernikahan Tania dengan Tono dirahasiakan pada teman-teman Tania.

__ADS_1


"Begini Mike. Maaf sebelumnya, apa kalian sudah tau kalau Tania sudah menikah?" Widya ikut bicara.


"Iya. Kami sudah tau, Bu," jawab Mike. Yang diangguki oleh Dito.


"Sekarang, Tanianya kabur dari rumah suaminya," ucap Eni dengan sedih.


Mike dan Dito saling berpandangan. Mereka sudah curiga kalau Tania tak bahagia dengan pernikahannya.


"Apa Nak Mike tau kemana perginya Tania?" tanya Widya.


"Kami tidak tau, Bu. Saya tak pernah lagi berhubungan dengan Tania, sejak dia menikah. Saya pernah mendatangi rumah suaminya, tapi..." Mike tak melanjutkan perkataannya.


Dia pun jadi ikut sedih membayangkan kembali saat Tania sempat menangis.


"Tapi kenapa?" tanya Eni.


"Maaf, kelihatannya Tania tidak bahagia dengan pernikahannya." Mike menundukan wajahnya. Dia takut salah bicara.


"Iya, Mike. Itu semua karena kesalahan kami. Kami yang memaksa Tania menikah dengan orang yang jauh lebih tua," ucap Eni mengakui kesalahannya.


"Dengan papanya Rendi." Dito ikut buka suara.


Widya dan Eni menatap wajah Dito.


"Kalian juga kenal dengan Rendi?" tanya Eni.


"Rendi sahabat saya, Tante," jawab Dito.


"Berarti kalian sudah tau, kalau Rendi kecelakaan dan baru saja dioperasi?" tanya Eni lagi.


"Hah...!" Mike dan Dito terperangah.


Eni dan Widya malah saling bertatapan. Mereka pikir Dito dan Mike tahu, karena ngakunya sahabat Rendi.


"Mm...menurut ceritanya Diman, anak buahnya Tono. Rendi jatuh dari pintu pagar rumahnya Tono, saat mau membawa kabur Tania," jawab Eni.


"Ya ampun...!" Mike menangkup mulutnya dengan tangan.


"Lalu bagaimana kondisi Rendi sekarang, Tante?" tanya Dito makin panik.


"Kami belum mengetahuinya. Kami baru tau kabar soal Rendi, tadi malam. Tono yang memberitahukan kalau kondisi Rendi kritis, dan Tanianya kabur," jawab Eni.


"Rendi kritis dan Tania kabur? Apa yang telah terjadi dengan mereka?" gumam Mike.


"Pantesan Rendi enggak bisa dihubungi, dan telponnya juga enggak aktif." Dito ikut bergumam.


"Kami juga belum tau persis masalahnya. Karena selama ini Tania dilarang ketemu dengan kami," ucap Widya berusaha memberikan pengertian pada Mike dan Dito. Jangan sampai kedua anak ini malah menyalahkan Tania.


"Iya, Bu. Rendi ada di rumah sakit mana? Biar kita besuk ke sana. Nanti kami bantu mencari Tania. Tapi kita perlu informasi dulu dari Rendinya," sahut Dito.


Lalu Eni menyebutkan nama rumah sakitnya, sesuai dengan omongan Diman.


"Iya, Tante. Sekarang juga kami ke sana," ucap Dito. Dia ingin segera tahu kondisi Rendi.


"Ya sudah. Kami juga permisi. Kami akan mencari Tania lagi. Tolong hubungi kami, kalau ada informasi tentang Tania," ucap Widya.


"Iya. Nanti kita hubungi," sahut Dito.


Widya menyenggol lengan Eni.


"Berikan nomor telponmu ke mereka!" perintah Widya, karena Eni tak ada respon.

__ADS_1


"Oh iya. Catat nomor telponku, ya." Eni membuka ponselnya, mencari nomor telponnya sendiri.


"Nomor telpon sendiri aja, enggak hafal!" ucap Widya.


"Nomornya panjang banget, Mba," sahut Eni.


"Kalau pendek namanya nomor togel!" sahut Widya kesal. Apalagi Eni cukup lama mencari nomornya sendiri.


Dito sudah mengeluarkan ponselnya, siap ngesave nomor Eni.


"Bisa saya bantu, Tante?" tanya Dito.


Dengan malu-malu, Eni memberikan hapenya pada Dito.


"Hape kamu baru lagi, En?" tanya Widya.


"Iya, Mba," jawab Eni.


"Banyak duit kamu," ucap Widya.


"Enggak. Itu....dibelikan Tono." Eni langsung menundukan wajahnya.


"Mm...dasar kamu!" sahut Widya dengan kesal.


Widya kesal pada Eni dan Danu. Karena Widya berpikir, Eni dan Danu hidup senang di atas penderitaan Tania.


Setelah selesai menyalin nomor telpon, Dito mengembalikan ponsel Eni.


"Ini, Tante. Saya juga sudah menyimpan nomor saya di hape Tante. Nanti kita bisa saling berbagi informasi."


Eni mengangguk sambil menerima ponselnya lagi.


"Ya udah. Kami akan lanjut nyari Tania. Permisi," ucap Widya. Lalu menarik tangan Eni.


"Permisi...!" ucap Eni sambil berjalan keluar. Tangannya terus saja ditarik Widya.


"Kamu tuh, malah duduk terus. Urusan kita belum selesai!" ucap Widya sambil terus berjalan menuju mobil Tono.


"Tadi juga udah mau pamit. Tapi keduluan Mba Widya," sahut Eni.


"Alasan aja kamu! Kalau kelamaan, keburu Tanianya pergi jauh!" ucap Widya.


"Aduh...! Jangan nakut-nakuti dong, Mba," sahut Eni.


"Makanya buruan!"


Eni dan Widya segera naik ke mobil Tono dan kembali melanjutkan pencarian.


"Sayang, aku mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut apa mau kuliah?" tanya Dito pada Mike, setelah Eni dan Widya pergi.


"Aku ikut! Aku juga mau besuk Rendi!" jawab Mike.


"Ya udah. Hari ini kita bolos kuliah," ucap Dito.


Dan mereka pun buru-buru pergi ke rumah sakit, tempat Rendi dirawat.


Sampai di sana mereka langsung ke bagian informasi. Lalu segera mencari kamar Rendi.


"Ini kayaknya," ucap Dito, di depan pintu kamar sesuai dengan informasi yang mereka dapat.


Dito mengetuk sebentar, lalu membuka pintunya.

__ADS_1


"Tania...!"


__ADS_2