HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 34 TAK MUNGKIN LAGI


__ADS_3

"Pak, Tania belum pulang juga. Ini sudah jam lima lho." Eni sudah mulai gelisah.


Dia sangat merasa bersalah karena membiarkan Tania pergi dengan Rendi.


"Coba ditelpon, Bu!"


"Sudah. Nomornya tidak aktif."


"Kamu punya nomornya Rendi?" tanya Danu.


"Tidak."


Eni mencoba menelpon Tania lagi. Tetap tidak aktif.


Tania memang sengaja mematikan ponselnya. Dia sedang tidak ingin diganggu.


"Aduh, bagaimana ini?" Eni berjalan mondar-mandir.


"Assalamualaikum."


Mata Eni melotot dan mulutnya menganga melihat orang yang baru saja memberi salam.


Tono.


Mati aku!


Danu pun hanya membisu. Tak ada satu pun yang menjawab salam dari Tono.


"Kalian kenapa?" tanya Tono, yang juga bingung melihat sikap dua orang calon mertuanya.


"Aa...Ti..Tidak apa-apa," sahut Eni tergagap.


Seandainya bisa, ingin rasanya Eni terbang lalu ngumpet di atas langit-langit rumahnya.


Atau bersembunyi di kolong meja, biar tak terlihat oleh Tono.


"Kenapa kalian tak menjawab salamku?" tanya Tono yang masih bingung, karena sikap dua orang ini tak seperti biasanya saat menyambut kedatangannya.


"Waalaikumsalam."


Danu dan Eni serempak menjawab. Lalu mereka saling berpandangan.


Danu memberanikan diri untuk bertanya maksud kedatangan Tono yang mendadak. Padahal biasanya juga begitu.


"Ada apa?" Cuma dua kata itu yang mampu keluar dari mulut Danu.


"Aku kebetulan saja lewat. Aku cuma mau tanya, apa semua persiapan sudah beres?"


"Su...Sudah. Semua sudah beres. Pak. Eh. Bang. Eh...Ah. Pokoknya semua sudah beres." Eni gelagapan menjawab pertanyaan Tono, yang dia kira akan menanyakan Tania.


"Ya sudah. Cukup kan dananya kemarin?" tanya Tono.


"Cukup. Cukup." Eni tak berani meminta lagi, walau pun sebenarnya ingin.


"Oke. Lalu bagaimana dengan calon istriku? Aman kan?"


"Aman!" sahut Danu dan Eni kembali berbarengan.


"Kompak sekali kalian," ucap Tono.


"Iya. Aman. Aman," sahut Danu.


"Baiklah. Ini kalian pegang uang ini. Siapa tau ada tambahan pengeluaran lagi." Tono menyerahkan amplop coklat kepada Eni.


"Buat pegangan," ucap Tono lagi. Eni mengangguk.

__ADS_1


"Aku pulang dulu. Jaga calon istriku baik-baik," ucap Tono, lalu melangkah pergi.


Danu dan Eni bernafas lega. Mereka pikir Tono meminta bertemu Tania. Bisa habis kalau Tono sampai tahu Tania pergi.


"Aku simpan ya, Pak?" Eni hendak membawa masuk amplop itu ke kamarnya.


"Aku minta buat beli rokok, Bu."


Eni menyobek satu sisi amplop itu. Dia mengambil dua lembar seratusan.


Setelah menerima uang itu, Danu hendak keluar rumah.


"Pak. Mau ke mana? Tania bagaimana?" tanya Eni berusaha mencegah suaminya pergi.


"Beli rokok ke warung. Nanti aku pikir lagi. Puyeng kalau mikir tidak sambil merokok," sahut Danu sambil melangkah ke warung depan gang rumahnya.


"Alasan saja!" Eni menggerutu.


"Tania, kamu di mana sih?"


Eni menyimpan baik-baik amplop berisi uang dari Tono.


Sementara Tania dan Rendi tertidur dengan lelap setelah mereka saling curhat.


Terutama Rendi yang merasa puas telah mengeluarkan isi hatinya kepada Tania.


Tania terbangun sekitar jam lima. Dia terkejut mendapati dirinya tertidur di kamar Rendi.


"Ren. Rendi. Bangun. Udah jam lima ini."


Tania mengguncang bahu Rendi.


"Hmm." Rendi membuka matanya. Dilihatnya Tania sedang duduk di sebelahnya.


"Bangun, Ren. Antar aku pulang. Paman dan bibiku pasti khawatir."


"Iya. Jangan lama-lama. Aku juga kebelet pipis," ucap Tania.


"Ayo bareng," ajak Rendi.


Tania melotot sambil memonyongkan mulutnya. Rendi tertawa pelan.


"Tuh sudah. Jangan lama-lama, nanti aku kangen," ucap Rendi setelah dia keluar dari kamar mandi.


Tania gemas mendengar gombalan Rendi. Ingin rasanya dia cubitin perutnya.


Setelah selesai di kamar mandi, Tania keluar dan merapikan diri di cermin yang ada di kamar Rendi.


Dari cermin, dia melihat Rendi yang sedang menatapnya.


"Ren..."


"Iya Ayang," sahut Rendi.


Tania galau. Dia belum bisa mengatakan yang sebenarnya pada Rendi.


"Mamamu sudah pulang?" tanya Tania.


"Aku tidak tau. Nanti kita lihat, sekalian keluar," sahut Rendi.


Tania melangkah keluar dari kamar Rendi.


"Ayang," panggil Rendi. Tania menoleh.


"Kamu mau kan menemaniku selamanya? Aku bahagia banget bisa terus sama kamu. Aku gak akan kesepian lagi," pinta Rendi.

__ADS_1


Tania terdiam. Lalu melanjutkan kembali langkahnya keluar dari kamar Rendi.


Rendi ikut keluar dan mencari mamanya.


"Mamaku belum pulang, mungkin lembur."


Rendi berjalan keluar rumahnya. Pak Yadi sedang menyapu halaman.


"Pak. Kalau nanti mama pulang, bilang aku sedang mengantar Tania pulang."


"Iya, Mas Rendi," sahut Yadi. Matanya menatap wajah Tania. Sepertinya Yadi pernah bertemu. Tapi Yadi lupa dimana.


Sebenarnya Yadi tetangga Tania. Cuma karena mereka beda generasi jadi tidak saling mengenal.


Yadi adalah teman minum kopi Danu di pangkalan. Yadi mantan sopir angkot juga. Karena capek mesti mikir setoran setiap hari, Yadi memilih alih profesi. Jadi jongos pengusaha batik.


"Kita naik mobil saja, ya?"


"Terserah kamu," sahut Tania. Yang penting dia bisa segera sampai di rumah.


Rendi membukakan pintu mobil sedan hadiah ulang tahun mamanya dari papanya.


Tania merasa tersanjung diperlakukan bak tuan putri oleh Rendi.


"Bagus sekali mobilnya, Ren," komentar Tania.


"Ini mobil hadiah ulang tahun mamaku tahun lalu, dari papaku. Tapi mamaku tak pernah mau memakainya. Mama lebih suka naik motor matic kemana-mana," sahut Rendi.


"Kayaknya bukan mobil ini yang suka kamu pakai ke sekolah?" tanya Tania.


"Oh, iya. Itu mobil papaku. Suka aku bawa kabur ke sekolah, kalau papaku sedang di rumah," jawab Rendi.


"Kok dibawa kabur?" Tania tak mengerti maksud omongan Rendi.


"Iya. Biar papa lama di rumahnya. Biar papa lama ngobrolnya sama mama. Makanya aku bawa kabur mobilnya."


"Kamu jahat ih," ucap Tania.


"Jahat gimana? Aku kan pingin kedua orang tuaku akur lagi. Kayak paman dan bibimu. Selalu bersama."


"Memangnya selama ini?" tanya Tania.


"Papa jarang pulang ke rumah. Papa ada rumah lagi di tempat lain."


Hanya itu yang bisa Rendi sampaikan kepada Tania. Rendi masih malu menceritakan tentang papanya yang sering kawin cerai.


"Oh. Enak ya jadi orang kaya. Rumahnya dimana-mana. Bosan di sini, pindah ke sana."


"Enak juga kayak kamu, Tania. Setiap saat bisa ketemu paman dan bibimu. Tinggal satu rumah. Walau pun kalian cuma bertiga, tapi seru."


Eni, bibinya Tania memang ramai orangnya. Bawel dan tak mau kalah dengan suaminya. Tapi mereka tak pernah berantem sampai berhari-hari.


Kalau salah satu ngambek, pasti yang satunya akan menyeret masuk ke kamar. Dan mereka akan selesaikan masalahnya di atas ranjang.


Kalau sudah terdengar suara-suara aneh, itu artinya mereka sudah baikan. Dan biasanya Tania akan masuk ke kamarnya sendiri dan memasang head set-nya, agar telinganya tidak tercemar.


Mendengar cerita Tania seperti itu, membuat Rendi tertawa terbahak-bahak.


"Pasangan yang unik," ucap Rendi setelah puas tertawa.


"Ya begitulah mereka. Sejak aku kecil, tak pernah melihat mereka berantem sampai gebuk-gebukan seperti banyak kasus selebriti di televisi."


"Hebat sekali mereka. Tania, bisa kan kita menjadi seperti mereka?"


Tania selalu hanya diam. Tania membuang pandangannya ke jendela.

__ADS_1


Aku mau Ren. Tapi takdirku sudah tak mungkin lagi di rubah. Tania meratapi takdirnya sendiri dalam hati.


__ADS_2