
Eni terpaksa menyudahi acara foto-fotonya. Padahal Eni sudah berharap, bisa foto di bawah ikon kota itu. Dan nanti setelah pulang ke rumah, foto itu akan dicetak 10R dan akan dia bingkai.
Sebuah kebanggaan bagi Eni bisa foto di bawah ikon kota besar.
Tapi sayangnya semesta tak mendukung. Eni pun kembali berjalan mencari warung makan yang masih buka.
"Itu ada warung makan padang, Pak. Mau?" tanya Eni sambil menunjuk ke sebuah tempat yang terang.
"Kalau warung makan padang, biasanya mahal, Bu," jawab Danu.
"Enggak ah. Di dekat salonku itu, murah. Sepuluh ribu bisa milih lauknya. Nasinya enggak diitung, lagi," sahut Eni.
"Ya iyalah. Emangnya kamu mau, ngitungin nasi?" Danu mendengus kesal.
Eni cuma nyengir.
Padahal yang dimaksud Eni, bukannya ngitungin butir-butir nasi satu persatu. Tapi karena udah kenal, Eni suka nambah nasi dan enggak dihitung.
"Kalau dari namanya sih, kayaknya enggak mahal, Pak. Tapi kalau lihat tempatnya, enggak tau juga," ucap Eni sambil terus berjalan mendekat.
Mereka pun masuk ke dalam rumah makan itu. Karena malam sudah semakin larut, pengunjungnya hanya satu dua saja.
Danu mengajak Eni ke sebuah meja.
Baru saja duduk, datanglah pelayan rumah makan.
"Selamat malam. Maaf, yang mau makan berapa orang, Pak?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Kamu mau makan enggak, Bu?" tanya Danu.
"Boleh deh," jawab Eni.
Pelayan itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan meja Danu.
"Buat tenaga nanti," bisik Eni.
Danu menoyor kepala Eni.
"Emangnya kamu siap melayaniku, nanti?" tanya Danu juga pelan.
"Siaplah. Makanya makan dulu yang banyak. Lagian sayang, Pak. Besok kita udah pulang," jawab Eni.
"Besok udah pulang? Kata siapa?" tanya Danu.
Belum sempat Eni menjawab, dua orang pelayan datang membawa banyak sekali piring kecil berisi lauk di dua tangannya.
"Wauw....!"
Mata Danu dan Eni terbelalak melihatnya.
Dua pelayan itu sangat terampil. Dengan gesit mereka meletakan piring-piring itu ke atas meja, tanpa tumpah sedikitpun.
Mulut Danu dan Eni sampai melongo dibuatnya.
Aneka makanan lezat terhidang di atas meja. Benar-benar menggugah selera.
__ADS_1
"Silakan menikmati sajian kami," ucap salah satu pelayan, lalu mereka menundukan badan dan pergi berlalu.
"Pak, sebanyak ini siapa yang mau ngabisin?" tanya Eni.
Danu menggeleng. Dia masih terheran-heran dengan sajian yang begitu banyaknya di atas meja mereka.
"Terus, kalau enggak habis, kita harus membayar semuanya?" tanya Eni lagi.
Danu kembali menggeleng. Dia belum pernah makan di rumah makan seperti ini.
Biasanya Danu makan masakan padang di warung dekat pangkalan angkotnya. Di sana Danu hanya memesan satu porsi, dan penjualnya akan menawari lauknya.
Cuma lima belas ribu perak, untuk satu lauk plus nasi dan sayur lengkap dengan sambal cabe ijo.
Lha ini, banyak banget. Danu menghitung piringnya. Ada lebih dari sepuluh macam. Dengan dua potong lauk per piringnya.
Kalau Danu menghitung satu lauknya lima belas ribu, bisa ngamuk-ngamuk Eni setelah membayar.
Rencana bergulatnya nanti di kamar hotel, bakalan batal.
"Kamu tanyakan sana. Aku juga enggak tau," jawab Danu.
"Enggak ah, malu," sahut Eni.
"Tumben kamu punya malu? Biasanya malu-maluin," ledek Danu.
Eni melotot ke arah Danu.
"Ya udah, kalau kamu enggak mau nanya, kita makan aja secukupnya. Kamu bawa uang, kan?" tanya Danu.
Tumben Danu bisa bersikap bijaksana.
"Ini enggak ada sendoknya ya?" Eni mencari-cari sendok di meja makan. Tapi tak menemukannya.
Eni biasanya makan nasi padang pakai sendok, karena belinya dibungkus atau bawa piring sendiri, kalau beli di warung sebelah salonnya.
"Makannya pakai tangan, Bu. Ini ada air kobokannya." Danu memperlihatkan dua mangkok alumunium berisi air putih.
Eni pun mencelupkan tangannya dan mulai makan.
"Sayangnya hapeku mati. Coba kalau enggak, aku kan bisa foto dulu makanannya," ucap Eni sambil makan.
"Kamu itu, kurang kerjaan. Makanan aja difoto. Emang makanannya bisa senyum gitu, kalau difoto?"
Danu yang tak terlalu suka difoto, selalu saja protes kalau Eni mulai kumat dengan kamera ponselnya.
"Kamu mah, enggak gaul. Apa-apa diprotes."
Eni melanjutkan makannya sambil manyun. Tapi habis juga dua porsi.
Eegghh...!
Danu bersendawa dengan keras. Dia merasa sangat puas makan kali ini.
Bagi Danu yang penting Eni bawa uang buat bayar, selesai. Toh, itu uang dari Tono. Bukan uang hasil jerih payahnya sendiri.
__ADS_1
Eni pun merasa sangat kekenyangan.
"Pak. Ini masakan padang terenak yang pernah aku makan. Kalau saja perutku masih muat, aku bakalan nambah lagi, kok," ucap Eni.
"Sama. Tuh liat. Aku habis lauk banyak banget." Danu menghitung piring lauk yang kosong.
"Ngaco aja kamu makannya, Pak. Enggak kira-kira," ucap Eni.
"Sekali-kali, Bu. Di kampung kita enggak ada. Mesti ke kota kalau mau makan begini. Itu juga rasanya belum tentu enak," sahut Danu.
"Besok sebelum pulang, kita makan di sini lagi ya, Pak," pinta Eni. Dia ketagihan dengan rasa yang mantap dari warung makan itu.
"Kok cepet banget pulangnya? Memangnya kalian pada enggak betah di sini? Atau sewa hotelnya yang kemahalan? Kita bisa pindah ke hotel yang lebih kecil, kan?" tanya Danu.
"Bukan begitu, Pak. Ada masalah lain yang lebih penting," jawab Eni.
"Masalah apa?" Danu belum tahu sama sekali tentang masalah Lintang. Karena dia tadi malah asik merokok sambil menikmati udara malam di atas ketinggian gedung.
Eni menceritakan semua yang dia dengar dari Lintang. Tanpa menambah-nambahi. Kalau kurang pastinya iya. Karena kadang Eni suka lemot kalau menyimak sesuatu.
"Hah? Yang bener kamu, Bu?" tanya Danu tak percaya.
Meskipun dari awal ketemu, Danu merasa ada yang berbeda dari sikap Lintang.
Eni mengangguk.
"Bener, Pak. Kalau enggak percaya, nanti tanya Tania. Dia juga ikut dengerin tadi. Tapi jangan tanya mbak Widya. Bisa disemprot kamu nanti," jawab Eni.
"Kurang ajar banget itu laki-laki. Itu namanya pemerkosaan, Bu. Bisa dilaporin ke polisi!" ucap Danu dengan geram.
"Memangnya bisa, Pak?" tanya Eni tak mengerti.
"Bisa lah. Nanti aku bilang sama mbak Widya. Biar kapok itu laki-laki! Biar mati di penjara!" jawab Danu dengan berapi-api.
Sebagai paman dari Lintang, dia merasa tidak terima keponakannya diperlakukan seperti itu.
"Siapa nama orang itu?" tanya Danu.
"Kalau enggak salah denger, namanya Haryo. Dia bekerja di hotel itu juga. Bareng sama mbak Lintang," jawab Eni.
Danu manggut-manggut berusaha menyimpan nama itu di dalam otaknya.
"Ayo, Pak. Kita pulang. Udah hampir jam satu, tuh." Eni menunjuk ke arah jam dinding.
Danu mengangguk, lalu melambaikan tangannya memanggil pelayan.
"Sudah. Berapa semua?" tanya Danu dengan gaya mirip juragan.
"Sebentar ya, Pak." Pelayan itu mengambil buku nota di kantong belakang celananya.
Lalu dia menulis semua yang dimakan oleh Eni dan Danu.
Dan dengan sigap dia menghitungnya tanpa kalkulator.
"Ini, Pak." Pelayan itu memberikan nota yang telah ditulisnya.
__ADS_1
Eni mengambilnya, karena dia nanti yang akan membayar.
"Hah?"