
"Iya, Ma. Papa segera ke sana." Tono mematikan ponselnya.
"Danu! Kamu ikut aku. Antar aku ke rumah sakit, lalu kamu dan Diman cari Tania sampai ketemu! Aku tak mau tau bagaimana pun caranya. Pokoknya, malam ini Tania harus ditemukan. Dan antarkan dia ke rumah sakit!" perintah Tono panjang lebar.
Danu menatap Diman. Diman hanya mengangkat bahunya. Dia pusing kalau menerima perintah dari juragannya, yang kadang seenak bacotnya saja.
"Aku ikut!" ucap Eni.
Tono melihat Eni yang cuma mengenakan daster.
"Aku tak punya waktu buat nungguin kamu ganti pakaian!" sahut Tono.
Lalu tanpa bicara lagi, Tono melangkah keluar dari rumah Danu.
Eni menarik tangan Danu.
"Pak, aku ikut," pinta Eni pelan.
"Sstt...!" Danu menyuruh Eni diam.
Danu tak mau kalau Tono marah-marah lagi. Bukannya Danu kembali takut pada Tono. Tapi kondisinya sekarang sedang darurat.
Eni pun diam. Tapi wajahnya menunjukan kesedihan dan kekecewaan.
Sedih karena keponakannya benar-benar hilang, dan kecewa karena tak bisa ikut mencarinya.
"Kamu siap-siap aja dulu. Nanti aku jemput," bisik Danu. Dia juga tak tega meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini.
Khawatirnya, Eni akan nekat mencari Tania sendirian. Sementara hari sudah semakin malam.
Eni mengangguk. Senyuman langsung menghiasi bibirnya. Tapi senyuman yang masih diliputi rasa sedih yang mendalam.
"Danu! Bisa cepat tidak?" seru Tono.
Danu langsung berlari menghampiri mobil Tono. Dia naik di bagian tengah.
Eni pun bergegas ganti pakaian. Dia tak mau nanti Danu dan Diman terlalu lama menunggunya. Eni ingin segera ikut mencari keberadaan Tania.
Sementara itu, sepulang dari rumah sakit, Tania berjalan menyusuri jalanan. Dia mencari alamat kos yang tak jauh dari rumah sakit.
Tania sengaja mencari tempat kos di sekitar rumah sakit, agar memudahkannya memantau kondisi Rendi.
Tania masih mengenakan maskernya, agar tak ada yang mengenali.
"Permisi, Bu. Apa benar di sini masih ada kamar kosong?" tanya Tania dengan sopan.
"Ada. Buat siapa?" tanya seorang wanita tengah baya.
__ADS_1
"Buat saya sendiri, Bu," jawab Tania.
Wanita itu menatap wajah Tania yang masih memakai masker. Menyadari itu, Tania membuka maskernya. Lalu tersenyum ke arah wanita di depannya.
Tania mengulurkan tangannya.
"Saya Tania," ucap Tania memperkenalkan dirinya.
Wanita itu menyambut tangan Tania, sambil matanya tak lepas dari wajah ayu Tania.
"Saya Kusri. Panggil saja Bu Kus," ucap Kusri.
Tania mengangguk.
"Mari silakan masuk. Di sini masih ada dua kamar kosong. Silakan pilih yang mana." Kusri mengajak Tania masuk dan memperlihatkan dua kamarnya.
"Kalau yang ini belum ada isinya. Kosongan. Kalau yang satu itu, sudah lengkap. Harganya pun berbeda," ucap Kusri.
"Saya ambil yang sudah lengkap saja, Bu. Pembayarannya bagaimana, Bu?" tanya Tania.
"Pembayaran di awal. Bisa bulanan atau tahunan. Kalau tahunan saya kasih discount satu bulan. Jadi cukup bayar sebelas bulan saja," jawab Kusri.
"Saya bayar bulanan saja bisa kan, Bu?" tanya Tania. Sebab Tania belum tahu, sampai kapan dia akan tinggal di situ.
"Bisa. Kapan mulai pindahnya?" tanya Kusri.
Kusri kembali menatap Tania. Dia jadi mencurigai Tania sebagai orang yang lagi kabur.
"Bisa lihat KTP-nya?" Kusri selalu meminta KTP calon penghuninya. Biasanya dia akan meminta fotocopy-nya juga, untuk pegangan.
Tania membuka dompetnya.
Kusri melihat dompet Tania, yang kalau menurut penilaiannya, bukan dompet murahan.
"Ini, Bu." Tania selalu membawa KTP kemana pun dia pergi. Jadi tak perlu gelagapan saat orang menanyakannya.
Kusri membaca dengan teliti. Di situ tertulis status Tania yang masih belum kawin.
Tania belum merubah KTP-nya meskipun dia sudah menikah resmi dengan Tono.
"Alamat rumah kamu tak jauh dari sini?" tanya Kusri.
"Oh, iya. Itu alamat rumah paman saya, Bu. Dan sekarang paman saya sudah pindah rumah. Jadi saya memutuskan buat mencari tempat kos sendiri saja," jawab Tania berbohong.
Kusri mengangguk-anggukan kepalanya. Meski ada sedikit keraguan, tapi Kusri tak mungkin menolak Tania.
Bukan masalah uang, karena Kusri bukan orang susah. Dia memiliki tempat kos yang cukup mewah dan besar.
__ADS_1
Kusri tak tega kalau menolak Tania yang sepertinya sangat membutuhkan tempat tinggal. Apalagi ini sudah mulai malam. Tak tega membiarkan anak gadis kelayapan malam-malam.
"Tapi di sini ada jam tutupnya. Pintu akan dikunci setelah jam sepuluh malam, untuk hari biasa. Dan jam dua belas malam, untuk weekend," ucap Kusri.
"Iya, Bu. Enggak masalah. Saya bisa masuk ke kamar, sekarang?" tanya Tania. Dia sudah sangat lelah. Setelah tadi menunggui Rendi dioperasi cukup lama di rumah sakit.
"Bisa. Mari ikut saya dulu. Buat pembayarannya," ajak Kusri.
Tania mengikuti Kusri ke sebuah ruangan yang mirip kantor. Rupanya Kusri juga punya usaha lain.
Kusri mengambil sebuah buku kuitansi. Lalu membuatkan kuitansi untuk Tania.
"Untuk satu bulan, ya?" Kusri kembali memastikan.
"Iya, Bu." Tania memperhatikan Kusri yang menuliskan kuitansi atas namanya.
"Ini kuitansinya. Dan ini KTP-nya. Oh iya, sebentar. Saya foto dulu KTP-nya. Buat arsip saya. Karena kelihatannya mba Tania enggak punya foto copy-nya kan?"
Tania mengangguk.
"Silakan, Bu," sahut Tania.
Kusri merasa terkesan dengan penampilan Tania yang sopan dan tutur bahasanya yang halus.
Meskipun Tania dibesarkan oleh paman dan bibinya yang cablak, tapi mereka selalu mengajarkan Tania untuk bersikap sopan dan ramah pada semua orang.
"Ini." Kusri mengembalikan KTP Tania.
"Silakan ke kamarnya. Kunci kamar ada di pintu. Kalau ada apa-apa, silakan hubungi saya. Oh iya, boleh saya minta nomor telponnya?"
Tania mengangguk, lalu membuka ponselnya. Dia belum hafal nomor telponnya sendiri.
Bener-bener bukan orang susah kalau ini, sih. Ponselnya aja apel dimakan tikus, batin Kusri.
Tania memang menggunakan ponsel pemberian Tono. Sementara ponsel jadulnya cuma dia simpan saja di tas.
Setelah berbagi nomor telpon, Tania berjalan keluar dari ruang kerja Kusri. Dia masuk ke kamarnya.
Kamar lain di sebelahnya, tertutup. Bahkan hampir semua kamar, pintunya tertutup rapat.
Mungkin karena semua kamar di sini ber-AC. Tania pun tak mempedulikannya. Dia malah senang, hingga tak perlu ada yang melihatnya.
Tania merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Sebuah tempat tidur single yang bersih, lemari kecil tempat pakaian, meja kecil dan satu buah kursi. Juga televisi flat dua puluh empat inch. Cukup untuk membuat Tania nyaman tinggal di kamar itu.
Apalagi ada kamar mandi di dalam kamarnya juga. Jadi Tania tak perlu keluar kamar untuk kebutuhan pribadinya.
Tania langsung terlelap, meski perutnya belum terisi. Dia memilih tidur, dari pada harus repot mencari makan dulu.
__ADS_1