
Asih menunjuk ke arah pintu.
"Bu...!" Suara Yahya tercekat.
"Keluar...!" Suara Asih semakin keras.
Yahya menundukan kepalanya. Dia merasa sangat bersalah pada Asih.
Wanita yang sudah menemaninya selama hampir dua puluh tahun, tanpa banyak menuntut.
Bahkan Yahya yang selalu menuntut ini itu, saat Asih punya banyak uang hasil warisan orang tuanya.
Yahya tak punya pekerjaan tetap. Dia hanya membantu saudara Asih mengelola toko di pasar.
Tak banyak yang Yahya berikan pada Asih selama pernikahan mereka. Asih lah yang paling banyak modal.
Dan kini, semua dipatahkan oleh kelakuan Yahya yang sangat menjijikan.
Yahya terpaksa keluar dari kamarnya. Lalu duduk termenung di tepi kolam renang. Dia merasa sangat bersalah dan juga menyesali dirinya yang tak bisa menahan diri.
Sementara Asih menangis di kamarnya. Tak disangka kalau suaminya yang selama ini dia anggap baik, ternyata menyimpan hasrat pada istri majikannya sendiri.
Asih jadi ingin pergi saja dari rumah Tono. Pergi sejauh-jauhnya. Menghilang dari kehidupan Yahya juga Tono yang telah memperbudaknya.
Asih tak keluar dari kamarnya sampai hampir malam. Dia baru mau keluar saat Tania mencarinya.
"Bik Asih di mana, Mang?" tanya Tania saat dia turun dari lantai dua.
"Masih di kamar. Lagi enggak enak badan," jawab Yahya berbohong. Tak mungkin dia jawab kalau mereka lagi berantem.
"Bik Asih sakit?" tanya Tania.
Yahya mengangguk lemah.
"Udah diminumin obat, Mang?" tanya Tania.
"Belum, Neng," jawab Yahya.
Yahya belum berani menemui Asih sejak diusir tadi. Yahya pun memilih tidur siang di sofa ruang tengah.
Meskipun lebih empuk, tapi Yahya merasa tak nyaman. Pikirannya hanya pada Asih. Istri yang sangat dicintainya.
Tania berjalan ke dapur. Dia mencari kotak P3K yang setahunya ada di dekat dapur.
Setelah mendapatkan kotak P3K, Tania malah bingung mau mengambil obat apa. Dia belum ketemu Asih, dan belum tahu apa keluhannya.
Tania menutup lagi kotak itu, lalu berjalan ke kamar Asih. Karena dilihatnya Yahya masih berada di luar.
"Bik...! Bik Asih...!" Tania memanggil Asih sambil mengetuk pintu.
Itu suara neng Tania. Apa dia mau makan malam? Aku malah belum menyediakan makanan.
__ADS_1
Asih beranjak dari tidurnya, lalu membukakan pintu.
"Ada apa, Neng?" tanya Asih.
"Bik Asih sakit?" Tania malah balik bertanya. Tania menatap tajam wajah Asih yang sembab.
"Enggak, Neng." Asih mengusap hidungnya yang berair.
"Kata mang Yahya, Bik Asih sakit," ucap Tania.
Asih menggeleng. Ingin sekali dia menceritakan kelakuan suaminya itu pada Tania. Tapi Asih merasa malu.
"Bik Asih habis menangis?" tanya Tania. Dia melihat mata Asih merah dan hidungnya terus berair.
"Enggak, Neng. Bibik buatkan makan malam, ya? Neng Tania mau makan apa?" tanya Asih. Dia berusaha mengalihkan perhatian Tania.
"Kalau Bik Asih memang enggak enak badan, biar aku saja yang masak untuk makan malam, Bik," sahut Tania.
Dulu saat masih hidup dengan pamannya, Tania sering menggantikan bibinya memasak. Jadi bukan hal yang sulit bagi Tania, kalau cuma memasak.
"Enggak apa-apa, Neng. Bibik sehat kok." Asih terus memaksa ke dapur untuk menyiapkan makanan. Dia juga capek, dari siang di kamar terus. Sudah seperti pengantin baru saja.
Asih keluar dari kamar dan menuju dapur. Tania mengikutinya.
Tania juga bosan di kamar terus. Makanya dia cari Asih untuk teman ngobrol sambil minum teh.
"Aku bantuin ya, Bik." Tania sudah berdiri di samping Asih.
"Enggak usah. Neng Tania duduk aja. Sebentar kok." Asih mendorong tubuh Tania biar menjauh.
Yahya mendekat ke dapur. Sengaja begitu, karena ada Tania. Yahya berharap Asih mau memaafkannya.
"Bu, boleh aku dibuatkan kopi?" pinta Yahya.
"Bikin sendiri!" sahut Asih dengan ketus. Seumur hidup, baru kali ini Asih berkata seketus itu pada Yahya.
Yahya termangu. Sepertinya Asih sangat marah padanya. Padahal dia hanya melakukannya sendiri. Bagaimana kalau Asih sampai tahu, Linda tadi meremas senjatanya?
Bisa habis dia disikat Asih. Apalagi Linda, bisa dibunuh malahan. Yahya bergidig ngeri.
Kekuatan orang bisa dua kali lipat saat emosinya lagi naik.
"Ya udah, aku bikin sendiri." Yahya mengambil cangkir yang biasa dia pakai minum.
Tania mendekat, dia tak tega melihat Yahya membuat kopi sendiri.
"Aku buatkan ya, Mang?" ucap Tania.
"Enggak usah, Neng," tolak Yahya. Yahya merasa tak enak. Bagaimana pun Tania adalah istri majikannya.
"Biarkan aja, Neng Tania. Biar dia bikin sendiri! Atau suruh minta dibuatkan sama si Linda sialan itu!" seru Asih dari dapur.
__ADS_1
"Linda?" gumam Tania.
Yahya malah menundukan kepalanya. Dia bakal malu pada Tania, kalau sampai Asih meneruskan omongannya.
"Iya, Linda. Kalau Neng Tania penasaran, tanya sendiri aja sama orangnya!" Asih menunjuk Yahya denga dagunya.
Tania semakin kebingungan. Karena biasanya Asih dan Yahya kompak memusuhi Linda.
Tania mendekati Asih. Jiwa keponya meronta.
"Ada apa dengan Linda, Bik?" tanya Tania.
"Wanita murahan itu ternyata menggoda mang Yahya, Neng," jawab Asih. Dia asal jawab saja, tanpa tahu yang terjadi sebenarnya.
Tania terkejut mendengarnya.
"Linda menggoda mang Yahya?" Tania mencoba menegaskan pertanyaan Asih.
"Iya, Neng." Asih kembali terisak. Dia ingat kembali kelakuan Yahya di kamar tadi.
Tania menengok ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang dicarinya.
"Bik Asih lihat sendiri?" Tania jadi geram pada Linda.
Asih menggeleng.
"Udah dong, Bu. Malu kan sama Neng Tania," ujar Yahya.
"Kamu masih punya malu?" sentak Asih.
Yahya tak berani berkomentar lagi. Bisa dibuka semua kelakuannya di depan Tania. Dan dia akan lebih malu lagi.
Yahya berjalan menjauh. Asih rupanya masih belum memaafkannya.
Tania menghela nafasnya. Dia mulai paham, kalau Asih sedang marah pada Yahya. Meski Tania tak tahu apa masalahnya.
Tania pun tak berani bertanya pada Asih lagi. Takut Asih makin emosi.
"Ada apa sebenarnya, Mang?" tanya Tania perlahan pada Yahya yang sedang mengambil air putih. Yahya tak jadi membuat kopi. Karena kopinya ada di dekat Asih yang lagi memasak.
"Enggak apa-apa, Neng." Yahya berusaha menutupi kesalahannya. Dia malu mengakuinya pada Tania.
Tania pun tak berani bertanya lagi. Tania berpikir itu masalah pribadi. Jadi bukan kapasitasnya untuk ikut campur.
Tania membawa gelas tehnya ke kamar. Dia memberi kesempatan kedua orang itu menyelesaikan masalah mereka.
Sepeninggal Tania, Yahya berjalan ke teras. Dia akan menunggu Tono pulang saja.
Setelah selesai masak, Asih menyajikannya di meja makan. Lalu kembali ke kamarnya.
Asih tak memanggil Tania untuk makan malam. Toh, nanti kalau lapar, Tania bakal turun.
__ADS_1
Yahya sampai mengantuk dan tertidur di kursi teras, karena Tono tak juga pulang sampai tengah malam.
Makanan yang dimasak Asih pun tak ada yang menyentuh. Karena Tania juga sudah tertidur di kamarnya.