
Sari melihat Rendi dari jendela kaca. Dia lihat Rendi masih terkapar tak sadarkan diri.
Tono memperhatikan kegelisahan istri pertamanya itu. Dia pun ikut berdiri dan melihat juga.
"Kenapa Rendi enggak sadar-sadar juga, ya?" tanya Sari. Entah ditujukan pada siapa.
Seorang perawat melintas di depan ruangan Rendi.
"Suster!" panggil Tono.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu.
"Saya mau tanya, kenapa anak saya belum siuman juga ya?" tanya Tono dengan khawatir.
"Oh. Anak Bapak masih dalam pengaruh obat bius. Tapi kondisinya stabil kok, Pak. Sebentar lagi dia pasti siuman," jawab perawat itu.
Tono merasa lega. Sari yang juga mendengarnya ikut lega.
"Sebaiknya Bapak ke bagian adiministrasi aja. Pesan kamar inap untuk anaknya. Nanti kalau sudah siuman, bisa langsung kami pindahkan," ucap perawat itu.
"Iya, Suster. Saya segera ke sana." Tono bergegas ke bagian administrasi.
Tono memesan kamar VIP. Dia juga memikirkan Sari yang pastinya sangat capek, seharian menunggu Rendi di teras.
Satu jam kemudian, Sari yang bolak balik mengontrol Rendi dari jendela kaca, melihat pergerakan tangan Rendi.
"Pa! Rendi bergerak! Itu lihat tangannya!" seru Sari.
Tono langsung berdiri dan ikut melihatnya. Dia berdiri di belakang Sari.
"Alhamdulillah!" ucap Tono.
Dan tanpa sadar, Tono memeluk Sari dari belakang. Saripun tak menolaknya.
Hatinya sedang sangat bahagia. Dia tak memikirkan siapa yang sedang memeluknya.
"Kamu lapor ke perawat, Pa. Mama udah enggak sabar pingin meluk Rendi!" pinta Sari.
"Iya, Ma!" Tono langsung berlari mencari perawat jaga.
"Suster! Anak saya sudah siuman!" seru Tono di depan ruang jaga perawat.
"Oh iya, Pak. Saya cek dulu." Perawat itu segera berjalan ke ruangan Rendi.
Dia masuk dan menutup kembali pintunya. Sari dan Tono kembali hanya melihatnya dari jendela kaca.
Perawat itu memeriksa denyut nadi Rendi. Tangan Rendi sudah mulai sering bergerak. Bahkan kakinya ikut bergerak.
Perawat itu keluar lagi.
"Sebentar ya, Pak. Saya panggilkan dokter," ucapnya. Lalu pergi ke ruangan dokter yang sedang piket.
Dia kembali bersama seorang dokter. Lalu mereka memeriksa lagi kondisi Rendi.
Perawat itu membuka pintu ruangan.
"Pak, Bu. Kata dokter kalian diperbolehkan masuk. Silakan," ucap perawat.
Dengan perasaan sangat bahagia, Sari dan Tono masuk.
"Bapak. Ibu. Silakan menunggui anaknya di sini dulu. Tunggu sampai anaknya benar-benar siuman. Nanti hubungi kami lewat tombol ini." Dokter menunjuk sebuah tombol yang bisa digunakan untuk memanggil perawat jaga.
__ADS_1
"Iya, Dok. Terima kasih," ucap Tono.
Dokter dan perawat itu keluar dari ruangan.
Sari duduk di sebelah ranjang. Tangannya menggenggam tangan Rendi.
"Ren. Bangun, Sayang. Ini Mama. Mama kangen sama kamu, Nak," ucap Sari sambil menciumi tangan Rendi.
Tono menatapnya penuh rasa penyesalan. Semua terjadi karena keegoisannya.
Air mata Tono kembali menetes. Dia kembali menangis tanpa suara.
Sedangkan Sari terus terisak sambil tangannya menggenggam erat tangan Rendi.
Sari terus saja mengajak Rendi bicara, meski Rendi mungkin tak mendengarnya.
Sari seperti tak lelah bicara dan menangis.
"Ma. Sudah, nanti Mama malah sakit kalau kecapekan." Tono membelai punggung Sari.
"Tapi Rendi diam lagi, Pa. Mama takut. Huuuu...!" Sari malah tergugu.
Tono memeluk Sari. Sari pun menyandarkan kepalanya di bahu Tono.
Saat ini Sari butuh sandaran. Dia tak peduli lagi dengan masalahnya. Dia tak peduli kalau yang memeluknya adalah lelaki yang sangat dibencinya.
Lelaki yang telah membuat anaknya hampir mati. Dan lelaki yang telah mencampakannya demi wanita lain.
Wanita yang pada akhirnya pergi dari kehidupan Tono.
Hampir satu jam, Sari duduk di sebelah Rendi. Hingga akhirnya dia tertidur sambil menyandarkan kepalanya di sisi ranjang.
Akhirnya karena capek, Tono duduk di dekat kaki Rendi. Tangannya memegangi kaki anaknya itu.
Mata Tono yang juga sudah lelah, hampir saja terpejam. Sampai kemudian, tangannya merasakan kaki Rendi bergerak-gerak.
Tono langsung membuka matanya.
Tak hanya kaki, tangan Rendi juga ikut bergerak. Sari belum menyadarinya. Dia masih terus terlelap.
Pergerakan Rendi semakin intens. Bahkan diikuti dengan suara. Seperti suara erangan kesakitan.
Sari mendengar dan segera membuka matanya. Dia langsung menatap Tono yang juga sedang mengamati Rendi.
"Rendi, Pa. Rendi siuman!" seru Sari.
Rendi perlahan membuka matanya. Di antara kesadarannya, Rendi menatap ke sekeliling.
Sari dan Tono pun terus menatap Rendi tanpa bisa bicara sepatah katapun. Mereka terlalu bahagia.
"Ta...nia...ka...mu...di mana...?" Rendi mulai bersuara dengan terbata-bata.
"Ren. Ini Mama. Ini Mama di sini, Sayang," ucap Sari. Dia mengangkat tangan Rendi dan menciumnya.
Rendi menatap Sari dengan nanar.
"Ta...nia...mana...?" tanya Rendi.
Sari menatap Tono. Tono hanya mengangguk. Entah apa maksudnya.
Sari menghela nafasnya.
__ADS_1
"Ta...nia, ada di rumah papa kamu, Nak," jawab Sari.
"Tania...aku mau Tania," ucap Rendi.
"Papa panggilkan," sahut Tono. Dia langsung menghubungi Diman.
Berkali-kali Tono menelpon Diman, tapi panggilannya diabaikan. Padahal nomor Diman aktif.
"Tania...Tania...." Rendi terus saja memanggil nama Tania.
"Papa pulang dulu, Ma. Jemput Tania," ucap Tono.
"Sebaiknya Papa panggil perawat dulu saja. Biar Rendi dipindahkan," pinta Sari.
Tono memgangguk. Lalu menekan tombol yang ditunjukan dokter tadi.
Tak lama perawat jaga datang. Lalu memeriksa kondisi Rendi.
"Saya panggilkan dokter dulu ya, Pak," ucap perawat jaga sambil berjalan keluar.
Rendi terus saja menggerakan badannya sambil meracau. Dia seperti sedang merasa kesakitan.
Rendi terus meracau memanggil nama Tania.
Tono kembali berusaha menghubungi Diman. Tapi tetap saja panggilannya diabaikan. Sampai Tono merasa sangat kesal.
Mulutnya hampir saja memaki-maki Diman. Tapi dia sadar, kalau sekarang sedang berada di dalam ruang ICU. Dan ada Rendi juga Sari.
Dasar sialan. Pasti dia udah molor! Gerutu Tono dalam hati.
Tak lama perawat jaga datang lagi bersama dokter yang tadi mengontrol Rendi.
Mereka berdua memeriksa kondisi Rendi. Sari dan Tono menjauh. Tak mau mengganggu kerja mereka.
"Sudah bisa dipindahkan, Sus," ucap dokter pada perawatnya.
"Iya, Dok," sahut perawat itu dengan patuh.
"Pak. Apa sudah dapat ruang rawatnya?" tanya perawat pada Tono.
"Udah, Sus." Tono merogoh kantongnya. Dia memberikan kertas bukti pemesanan kamarnya buat Rendi.
"Baik, Pak. Pasien akan segera kami pindahkan," ucap perawat setelah membaca kertas itu.
Lalu perawat dan dokter keluar. Perawat itu mencari bantuan untuk memindahkan Rendi ke ruang VIP.
Sari dan Tono mengikuti brankar yang membawa Rendi, sampai ke ruang VIP.
Rendi terus saja meracau memanggil nama Tania. Sambil sesekali meringis dan mengerang kesakitan.
"Anak saya kesakitan, Sus," ucap Sari. Dia tak tega melihat Rendi yang terus merintih.
"Iya, Bu. Sebentar, saya kasih obat penahan rasa sakitnya," sahut perawat itu.
Lalu perawat satunya menyuntikan cairan ke saluran infusan Rendi.
Rendi terus memanggil nama Tania.
"Maaf, siapa Tania? Sebaiknya dipanggilkan saja. Biar pasien merasa tenang," tanya perawat dengan sopan.
"Tania istri anak saya, Suster!"
__ADS_1