HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 284 SALAH TERIMA


__ADS_3

Mila dan rombongan datang ke tempat yang diberitahukan oleh Tania.


Saat Mila datang, Rendi sengaja meminta Tania duduk di sebelahnya. Dan Rendi pun memeluknya dengan erat.


"Mik. Fotoin kita dong," pinta Rendi pada Mike, sebelum rombongan Mila mendekat.


"Ah, lebay lu!" sahut Mike.


"Ye...biarin. Sirik aja sih, elu. Entar kalau laki lu dateng, gantian gue fotoin kalian deh," ucap Rendi.


Rendi merasa posisinya sekarang, pas banget untuk diabadikan.


Lalu Rendi menyerahkan ponselnya pada Mike.


"Nih!" Rendi menyerahkan ponsel yang sudah siap pada mode kamera.


Meskipun ngomel-ngomel, Mike tetap saja mengambil gambar mereka berdua. Lagi pula Rendi dan Tania belum pernah foto berduaan.


"Posenya yang mesra dong. Jangan kaku begitu!" ucap Mike.


"Ini udah mesra!" sahut Rendi. Tangannya sudah melingkar di bahu Tania.


Sebenarnya bukan Rendi yang kurang mesra. Tapi Tania yang terlalu tegang dan malu untuk menunjukan kemesraan di depan kamera.


"Senyum dong, Tania!" seru Mike.


Suara deburan ombak dan angin yang bertiup cukup kencang, membuat siapapun yang bicara harus teriak-teriak. Kecuali memang sangat berdekatan.


Perlahan Tania memberikan senyumannya.


Rendi menoleh perlahan.


"Manis sekali..." gumam Rendi. Dan tanpa sadar tangan Rendi hendak meraih wajah Tania. Juga memajukan sedikit wajahnya.


Mike yang sudah pada posisi siap mengambil gambar, langsung mengabadikan momen itu.


Klik.


Klik.


Klik.


Mike tak mau kehilangan senyuman manis Tania yang memang mahal sekali saat berfoto. Juga sikap mesra Rendi yang sangat natural.


Bahkan saat bibir Rendi hampir menyentuh bibir Tania pun, tak luput dari cekrekan Mike.


Tania tersadar kalau mereka sedang berada di tempat umum. Juga di depan Mike yang akan mengambil gambar mereka.


Tania segera menjauhkan wajahnya dan menepis perlahan wajah Rendi.


"Ada Mike, Ren," ucap Tania perlahan. Posisi bibir Tania yang masih dekat dengan pipi Rendi, membuat aroma nafas dan kehangatan menyeruak.


Rendi menahan nafas sejenak. Dan sejenak juga menikmati harum aroma nafas Tania.


Pikiran Rendi melayang. Ingin rasanya merengkuh dan membawa Tania ke dalam dekapannya.


"Udahan belum?" tanya Mike.


Rendi dan Tania refleks menoleh ke arah Mike.


"Nih!" Mike mengembalikan ponsel Rendi.


"Kok udah? Kan kita belum difoto," ucap Rendi.

__ADS_1


"Liat dulu! Baru komentar!" sahut Mike dengan ketus.


Rendi dan Tania yang merasa belum difoto, mengerutkan keningnya. Lalu bersamaan melihat galery ponsel yang dibuka oleh Rendi.


"Wouw...! Amazing!" ucap Rendi.


Rendi dan Tania terkesima melihat hasil jepretan Mike yang luar biasa.


"Candid nih, critanya?" tanya Rendi pada Mike.


"Bagus, kan?" Mike balik bertanya.


"Bagus banget, Mik. Kamu emang hebat!" puji Rendi.


Tania malah tersipu malu melihatnya. Pose mereka berdua benar-benar natural dan sangat romantis.


"Kamu suka kan, sayang?" tanya Rendi pada Tania.


Wajah Tania semakin merona. Dia merasa malu dengan posenya sendiri. Tapi jujur, sangat menyukainya.


"Siapa dulu dong yang moto?" Mike malah besar kepala.


"Kalian mesra banget, sih? Bikin cemburu aja!" ucap Mila setelah sampai.


"Cemburumu salah tempat, Mil!" sahut Rendi.


"Ish! Biarin sih. Emangnya aku gak boleh cemburu?" Mila pun tak mau disalahkan.


"Ya enggaklah. Kamu kan tau kalau Tania calon istriku!" sahut Rendi.


Rendi kembali mengeratkan pelukannya pada Tania. Seolah ingin meyakinkan Mila kalau dirinya adalah milik Tania seorang.


"Songong, lu!" Sri menoyor kepala Mila.


"Lagian cemburu ama majikan. Ngaca lu!" ucap Sri dengan ketus.


Widya dan Lintang yang ikut dalam rombongan mereka pun ikut tertawa.


Mila jadi tersipu malu. Malu karena ketahuan kalau dia sebenarnya juga mengharapkan Rendi.


"Paman sama bibi mana, Bude?" tanya Tania pada Widya.


"Enggak tau! Mungkin mereka lagi numpang bulan madu!" jawab Widya.


"Kok numpang, Bu?" tanya Lintang.


"Ya iyalah. Orang kagak modal!" jawab Widya.


Semua orang pun tertawa. Tak terkecuali Mila yang tadi sempat bete pada Sri.


Dito dan Tono beserta anal buahnya juga sampai di lokasi.


"Pada ngetawain apaan, sih? Asik bener," tanya Dito.


"Mau tau aja!" sahut Mila.


"Eh, baby sitternya bayi montok yang nyaut!" ucap Dito.


Semua mata langsung menatap Rendi. Mana ada Rendi seperti bayi montok? Yang ada Rendi adalah seorang lelaki dewasa dengan penampilan ganteng maksimal.


"Papa udah selesai kontrolnya?" tanya Rendi pada Tono.


"Udah, sayang. Tinggal nebus obatnya. Tapi itu bisa nanti aja, pulang dari sini," jawab Tono.

__ADS_1


Tania beranjak berdiri. Dia akan memberikan tempat duduknya untuk Tono.


Bangku satu-satunya yang didudukinya bersama Rendi.


"Silakan duduk," ucap Tania pada Tono dengan sopan.


Sebenarnya Tono berharap Tania memanggilnya papa juga seperti Rendi.


Tapi sayangnya Tania masih belum terbiasa dan malu. Dan memang sejak awal, Tania tak pernah memanggil Tono dengan sebutan apapun.


"Duduk sini, Pa." Rendi menepuk bagian sebelahnya yang barusan diduduki Tania.


Tono pun menurut. Dia memang tak lagi kuat berdiri lama-lama. Apalagi setelah berjalan cukup jauh.


"Tania. Gimana kalau siapkan makannya?" pinta Rendi pada Tania.


"Boleh. Biar aku siapkan," sahut Tania.


"Jangan kamu, sayang. Biar yang lain saja yang ngangkutin kesini," ucap Rendi. Dia tak tega membiarkan Tania kecapekan.


"Pak Yadi, tolong bawa kesini yang ada di mobil. Mila sama mba Sri biar membantu," perintah Rendi.


"Siap, Mas Rendi," sahut Yadi dengan hormat.


"Aku juga ambil barang-barang yang ada di mobil," ucap Dito.


"Aku nunggu di sini aja ya, sayang," pinta Mike pada Dito.


"Iya. Kamu nunggu di sini aja sama Tania," sahut Dito. Dia juga tak mau kalau Mike ikutan capek memindahkan barang-barang.


"Diman! Yahya! Wardi! Bantu mereka!" petintah Tono pada anak buahnya.


Tono membawa serta semua anak buahnya. Termasuk Yahya dan Asih.


Tono juga ingin agar kedua anak buahnya itu menikmati suasana pantai. Tidak cuma berdiam diri di dalam rumah terus.


Asih tentu saja senang sekali. Apalagi dia bisa ketemu dengan Tania. Mantan istri Tono yang sebentar lagi juga akan jadi majikannya. Cuma beda suami.


"Gimana kabar Bik Asih?" tanya Tania pada Asih yang berdiri tak jauh darinya.


"Baik, Neng. Neng Tania sendiri juga kabarnya baik, kan?" Asih balik bertanya.


Tania mengangguk senang.


"Seperti yang Bik Asih liat," jawab Tania.


Mereka berdua pun terlibat obrolan santai. Rendi juga ngobrol dengan Tono. Rendi khawatir kalau sampai Sari datang.


"Enggak akan, Ren. Mamamu tak tahu kita pergi ke mana. Kecuali ada yang mengadu," jawab Tono. Matanya menatap ke arah Mila.


"Bapak menuduh saya mengadu pada ibu?" tanya Mila.


"Enggak. Aku tak menuduh siapapun," jawab Tono.


"Tapi kenapa Bapak ngeliatin saya seperti tadi?" tanya Mila lagi.


Rupanya Mila merasa Tono menuduhnya.


"Cuma liatin kan bukan berarti menuduh," tolak Tono.


"Ish. Terus apaan dong? Bapak naksir saya?" tanya Mila dengan sombong.


"Halah! Salah terima lagi deh." Rendi kembali menepuk jidatnya.

__ADS_1


__ADS_2