HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 296 TERBURU NAFSU


__ADS_3

Mila semakin panik karena tak juga menemukan Robi. Bahkan Mila hampir menangis karena hapenya dibawa oleh Robi. Lelaki yang baru saja dikenalnya.


"Apa dia menipuku? Tapi wajahnya bukan tampang penipu," gumam Mila sendirian.


"Ah, sialnya aku. Kenapa aku begitu mudahnya percaya pada orang yang baru saja aku kenal," rutuk Mila.


Mila benar-benar sangat kesal pada dirinya sendiri yang begitu bodoh.


Dan setelah lelah mencari sosok Robi yang menghilang entah kemana, Mila kembali ke rombongannya.


Wajahnya masih terlihat sangat kesal. Bahkan sangat marah. Karena di hapenya itu tersimpan banyak sekali foto-foto dirinya juga orang-orang yang disayanginya.


Banyak foto momen-momen yang tak mungkin untuk diulang. Termasuk nomor hape semua teman juga bu Hani, orang tua angkatnya.


"Kenapa kamu, Mil?" tanya Tania setelah Mila sampai di dekatnya.


"Aku lagi kesal! Marah! Menyebalkan!" sahut Mila dengan ketus.


Semua orang yang sedang berkumpul di atas tikar, keheranan mendengar Mila yang marah-marah.


"Kenapa?" tanya Tania lagi.


Meski lagi sangat kesal, Mila menceritakan juga kejadian yang baru saja dialaminya.


"Lagian kamu juga sih. Baru kenal udah percaya aja!" ucap Sri.


"Aku kan enggak tau kalau dia berniat jahat, Mbak!" sahut Mila.


"Pasti orangnya ganteng!" tebak Sri.


Meski baru mengenal Mila sebulan ini, Sri paham sekali karakter Mila. Mila bakalan klepek-klepek kalau melihat lelaki ganteng.


Mila cuma nyengir saja mendengarnya.


"Dasar kamu tuh, ya. Mata kondisikan, Mil. Jangan main percaya aja!" ucap Mike yang lagi asik makan.


"Sekarang baru tau rasa! Hape digondol. Hahaha." Sri menertawakan Mila.


"Iih. Tolongin kek. Malah pada ngeledek!" Mila menghentakan kakinya dengan kesal.


"Gimana cara nolonginnya? Kita aja enggak tau orangnya kayak apa," sahut Tania.


"Ada apa ini?" Dito yang ternyata ikut mendengarkan, mendekati para wanita yang sedang prihatin dengan kejadian yang baru saja menimpa Mila.


Mila menatap Dito sebentar. Ada perasaan malu juga tidak enak. Tapi semua coba diabaikan Mila demi ponselnya.

__ADS_1


"Hapeku ilang," ucap Mila malu-malu.


"Ilang? Dimana?" tanya Dito sambil memperhatikan Mila.


Mila menelan ludahnya. Mau bicara jujur, tapi takut malah dimarahin oleh Dito. Apalagi Rendi juga ikut mendengarkan dari tempatnya duduk yang tak terlalu jauh.


Mila tak menjawab. Dia malu kalau harus menceritakan lagi apa yang telah dialaminya.


Akhirnya Tania yang menceritakannya pada Dito, sesuai dengan cerita Mila tadi.


"Kamu masih ingat wajah orangnya?" tanya Dito.


Mila memgangguk. Jelas saja Mila mengingatnya. Bahkan senyuman manis Robi, masih diingatnya dengan jelas.


"Coba kamu kasih tau ciri-ciri orangnya," pinta Dito pada Mila.


Rendi ikut mendengarkan. Dalam hatinya ingin sekali menolong Mila. Tapi apa daya kondisinya belum memungkinkan.


Dito mengangguk mengerti. Lalu dia mendekati beberapa centeng papanya Rendi.


Diman, Wardi juga Yahya diberitahukan oleh Dito tentang kejahatan yang dialami Mila.


Meski biasanya Dito acuh terhadap Mila, bahkan sering membully, tapi sekarang Dito merasa bukan saat yang tepat dia menyalahkan atau meledek Mila.


Ketiga orangnya Tono mengangguk mengerti. Mereka siap membantu Dito mencari sosok yang bernama Robi. Entah itu nama asli atau nama samaran, yang pasti mereka sudah sedikit paham ciri-ciri Robi.


"Apa enggak sebaiknya aku ikut nyari?" tanya Mila.


"Jangan. Dianya pasti akan langsung kabur begitu tau kamu nyariin," jawab Dito.


"Jadi lebih baik kamu di sini aja. Pura-pura kamu tak mencarinya. Biar Robi ataupun komplotannya merasa aman. Aku yakin mereka masih berada di sini," lanjut Dito.


Mila mengangguk mengerti. Dalam hati Mila, dia tetap akan mengawasi mereka dari tempatnya sekarang ini.


"Ya udah. Kalau begitu, kita akan mulai nyariin tuh orang." Dito mendekati empat orang centengnya Tono.


Tajab yang ikut mendengarkan, merasa sangat geram. Dalam hatinya ingin menghajar orang yang telah menipu Mila. Tapi sayangnya kondisi Tajab tak jauh beda dengan Rendi.


Malah lebih baikan kondisi Rendi yang sudah bisa berjalan meski harus ditopang tongkat.


Kalau Tajab, dia masih harus duduk di kursi roda karena kondisinya lebih parah.


"Mang Diman jalan ama saya. Mang Wardi, mang Yadi sama mang Yahya satu kelompok. Kita bagi area pencariannya. Saya sama mang Diman ke arah sana. Kalian bertiga ke sana." Dito memberikan perintah pada anak buah Tono.


"Siap Mas Dito. Ayo jalan. Kita mencar," ucap Diman. Dia pun mengikuti Dito yang berjalan duluan ke arah dimana tadi Mila foto-foto.

__ADS_1


"Jangan lupa segera hubungi kami kalau kalian menemukan orang dengan ciri-ciri tadi!" seru Dito pada Wardi, Yadi dan Yahya, sebelum mereka berpisah.


Dito dan Diman berjalan membelah keramaian para pengunjung. Mata mereka melirik ke kanan dan ke kiri.


"Ada-ada aja si Mila ya, Mas Dito," ucap Diman sambil terus berjalan mengikuti Dito.


"Namanya juga lagi apes, Mang. Apalagi cewek seumuran Mila. Lagi seneng-senengnya kalau didekati cowok ganteng. Langsung klepek-klepek," sahut Dito.


Bukannya Dito membenarkan apa yang dilakukan Mila. Tapi dia merasa kejahatan seperti ini tak bisa didiamkan.


"Kalau ketemu orangnya, enaknya kita apain, Mas?" tanya Diman.


Tangannya sudah gatal ingin menghajar orang. Sejak Tono tobat, semua anak buahnya tak boleh lagi melakukan kekerasan pada orang-orang yang bermasalah.


Mereka harus lebih sabar menghadapi. Meskipun kadang tanpa sepengetahuan Tono, tangan mereka ikut bicara juga biar masalahnya cepat kelar.


"Kita minta hapenya Mila," jawab Dito.


"Terus, orangnya kita biarkan bebas?" tanya Diman dengan gemas. Rasanya tak rela membiarkan orang yang berbuat jahat pada Mila, dibiarkan bebas.


"Ya enggak. Kita serahkan pada yang berwajib. Biar mereka yang mengurusnya," jawab Dito dengan bijak.


"Hhmm!" Diman mendengus.


Tapi Diman tak berani membantah Dito. Bagaimana pun Dito adalah teman dari anak majikannya. Dan Diman harus menghormatinya.


Setelah jauh berjalan masuk di antara kerumunan orang, mata Dito menangkap sosok laki-laki yang mirip dengan yang disebutkan Mila tadi.


Dito mendekati Diman.


"Mang. Liat laki-laki itu. Tapi liatnya jangan terlalu kentara. Menurutmu, mirip enggak sama yang dikatakan Mila tadi?" bisik Dito pada Diman.


Diman pun mengamati lelaki itu tanpa mencurigakan. Kalau masalah seperti ini, bagi Diman adalah hal yang biasa.


"Mirip," sahut Diman.


Dito pun merogoh ponselnya. Lalu tanpa disadari oleh target, Dito mengambil fotonya dan segera mengirimkannya pada Mike.


Mike yang sudah stanby dengan ponselnya, langsung membuka foto kiriman dari Dito.


"Mil. Apa ini orangnya?" tanya Mike pada Mila sambil memperlihatkan foto itu.


Mila memperhatikannya baik-baik. Karena gambar di foto itu agak ngeblur. Dito mengambilnya terlalu terburu-buru.


"Iya, benar!" jawab Mila.

__ADS_1


Dan tanpa minta ijin pada siapapun, Mila langsung lari ke arah Dito dan Diman.


Sayang sekali, target melihat Mila. Dan dia langsung kabur lagi entah kemana.


__ADS_2