HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 201 LINTANG DICAP SEBAGAI PELAKOR


__ADS_3

Masih flash back.


Haryo yang juga dalam kondisi setengah mabuk, sudah tak bisa lagi bangun setelah dia menggauli Lintang.


Lintang pun terkapar tak berdaya di tempat tidurnya, di sisi Haryo. Haryo mendekap tubuh Lintang sampai pagi.


Pagi harinya, Lintang terbangun. Dia terkejut mendapati tubuhnya yang polos dan berada dalam dekapan Haryo.


Lintang langsung menjauhkan dirinya. Lalu meraih selimut dan menutupi tubuh polosnya.


"Haryo! Ngapain kamu di sini? Dan...apa yang telah kamu lakukan?" tanya Lintang. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Haryo memicingkan matanya.


"Bukan aku saja yang melakukan, Lintang. Tapi kita," jawab Haryo dengan suara parau.


"Apa maksud kamu?" tanya Lintang.


"Kamu yang menginginkannya. Kamu yang meminta aku mengantar pulang. Dan kamu juga yang meminta aku tidur di sini," jawab Haryo berbohong.


"Enggak! Enggak mungkin, Haryo! Di tempat kosku ini, tidak boleh ada tamu lelaki menginap!" sahut Lintang.


"Tapi nyatanya kamu memintaku tidur di sini!" ucap Haryo.


"Oke. Lalu kenapa kita tak berpakaian begini?" Suara Lintang semakin keras.


Lintang melemparkan bantal ke bagian bawah tubuh Haryo. Karena Lintang melihat, ada benda yang menggeliat di sana.


Haryo tersenyum nakal.


"Bukankah itu juga kamu yang minta?"


Mata Lintang yang sudah berkaca-kaca, terbelalak.


"Tidak....!" teriak Lintang.


Haryo langsung membekap mulut Lintang.


"Jangan berteriak. Atau kamu ingin teman-teman kamu tau apa yang telah kita lakukan?"


Lintang menggeleng dengan keras. Lalu melepaskan tangan Haryo dari mulutnya. Tangisnya langsung pecah.


Lintang sudah tak peduli lagi pada apapun. Lintang menyesali kebodohannya. Lintang menyesal kenapa dia mau saja menerima ajakan Haryo datang ke cafe. Lintang juga menyesal, kenapa dia meminum minuman itu.


Lintang sudah bisa mengingat semuanya.


"Kamu memasukan apa di minumanku, Haryo?" tanya Lintang. Lintang pun ingat rasa pahit dari minumannya semalam.


"Tidak ada," jawab Haryo berbohong.


"Bohong! Kamu pasti memasukan sesuatu ke minumanku!" Lintang melemparkan lagi bantal ke arah Haryo. Tapi kali ini, ke wajah Haryo. Karena dia merasa sangat marah.


Haryo menangkisnya. Lalu dengan santai dia masuk ke kamar mandi.


Lintang hanya bisa kembali menangis.


Ibu kos yang kebetulan lewat, mendengar suara tangisan dari dalam kamar Lintang.


Lalu dia pun mengetuknya.

__ADS_1


"Lintang! Lintang! Kamu ada di dalam?" tanya ibu kos sambil mengetuk pintu kamar Lintang.


Spontan Lintang menghentikan tangisannya.


Gawat!


Itu suara ibu kos. Bagaimana kalau dia sampai tahu kalau ada lelaki yang tidur di kamarku?


Lintang mulai panik.


Sementara tubuhnya masih polos, hanya dia tutupi dengan selimut.


"Lintang! Kamu ada di dalam?" tanya ibu kos lagi.


Lintang berusaha menetralkan suaranya.


"Iya, Bu. Saya di dalam!" jawab Lintang.


"Tapi kenapa kamu menangis?" tanya ibu kos.


"Eng...Enggak apa-apa, Bu. Cuma...lagi sedih aja. Kangen ibu saya di kampung!" jawab Lintang.


"Ooh. Ya sudah. Besok kalau libur, kamu pulanglah ke kampung," sahut ibu kos.


Lalu terdengar suara sandalnya terseret. Dan tak terdengar lagi suara ibu kos itu.


Lintang turun dari tempat tidurnya, lalu mengintip dari kordennya yang tertutup rapat.


Lintang menghela nafas dengan lega. Satu masalah selesai.


Haryo keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan badan hanya dililit handuk milik Lintang. Haryo tersenyum pada Lintang.


Haryo dengan santainya duduk di tepi tempat tidur.


"Kamu enggak mandi? Seger lho kalau mandi," ucap Haryo tanpa rasa bersalah.


"Enggak usah ngatur-ngatur aku! Sekarang kamu keluar dari kamarku!" usir Lintang.


"Iya. Tenang aja. Aku juga mau ke hotel. Tapi aku kan harus pakai baju dulu." Dan dengan tanpa malu, Haryo melepaskan handuknya di depan Lintang.


Lintang memalingkan wajahnya.


Haryo memakai pakaiannya.


"Kamu punya kopi?" tanya Haryo.


"Kamu pikir kamarku ini warung kopi?" Lintang menyahutnya dengan ketus.


"Ya udah. Aku mau cari kopi dulu, sekalian berangkat. Kamu juga ada shift pagi, kan?"


Haryo mendekati Lintang. Dan tiba-tiba menarik tubuh Lintang.


Cup.


Haryo mengecup kening Lintang dengan lembut.


"Aku pergi dulu. Kalau kamu hari ini mau libur, biar aku pamitkan," ucap Haryo dengan suara lembut.


Haryo kembali menjadi sosok yang baik, lembut dan penuh pengertian seperti biasanya.

__ADS_1


Haryo teman baik Lintang. Yang kini telah mengambil kesuciannya.


Setelah Haryo keluar dari kamar, Lintang hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam.


Lintang mengunci lagi pintu kamarnya. Lalu melepaskan selimutnya.


Lintang berdiri di depan cermin besar miliknya. Di beberapa bagian tubuhnya, ada tanda-tanda merah bekas gigitan.


Lintang memandanginya dengan cermat. Ada banyak sekali.


Apa Haryo semalam menggigitiku? Tapi kenapa aku tak merasakannya?


Lintang menyentuh bekas gigitan itu. Tak terasa sakit atau perih, meski warnanya merah darah.


Lalu Lintang berjalan ke kamar mandi. Tanpa selimut lagi. Dan sekilas matanya melihat noda darah di spreinya.


Lintang mendekat dan melihatnya dengan tajam.


Inikah yang disebut darah perawan? Lintang menyentuhnya. Lalu menciumnya. Tak berbau, karena sudah kering.


Haryo sialan, telah menjebakku. Dia telah mengambil keperawananku.


Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Meminta pertanggungjawabannya? Meminta Haryo menikahiku?


Hhh! Enggak mungkin. Haryo sudah punya istri. Meskipun mereka belum punya anak.


Aku juga enggak mau dicap sebagai pelakor. Biarlah ini aku tanggung sendiri. Jangan sampai orang lain tahu.


Lintang melangkah ke kamar mandi. Dia ingin menyegarkan tubuhnya, juga otaknya.


Hari ini Lintang ada shift yang sama dengan Haryo. Dan Lintang ingin semua berjalan normal seperti biasanya.


Lintang pun bisa melalui hari-harinya seperti biasanya. Yang tak biasa hanya Lintang yang selalu menghindari Haryo.


Bahkan tak jarang Lintang mencari shift yang berbeda dengan Haryo. Tak seperti dulu yang sering mencari shift yang sama.


Tapi sebulan kemudian, Lintang tak kedatangan tamu bulanan. Awalnya Lintang tak peduli. Tapi seminggu kemudian, Lintang mulai gelisah.


Akhirnya Lintang membeli test pack dan mencoba mengeceknya sendiri. Dan ternyata hasilnya positif.


Lintang kembali merasa terpukul. Bahkan saking syoknya, sampai membuat Lintang sakit.


Haryo yang mengetahui Lintang sakit dari temannya, mendatangi tempat kos Lintang.


Tadinya Lintang tak mau memgatakannya pada Haryo. Tapi setelah dia pikir-pikir lagi, Lintang akhirnya bicara jujur juga pada Haryo.


Antara senang dan pusing, Haryo mengangguk dan mengecup kening Lintang dengan lembut.


Haryo senang karena akhirnya dia bisa punya anak juga. Meski bukan dari rahim istri sahnya.


Tapi pusing juga, bagaimana caranya dia bisa menikahi Lintang. Sedangkan statusnya kini masih punya istri.


Sejak saat itu, Haryo jadi sering mengunjungi Lintang di kamar kosnya. Dan beberapa hari kemudian, berita tentang kedekatan Lintang dan Haryo menyebar di tempat mereka bekerja.


Hingga sampailah ke telinga istri Haryo. Tentu saja dari Yana, kakak ipar Haryo.


Istri Haryo melabrak Lintang di tempat kosnya. Hingga akhirnya dengan terpaksa, karena malu juga, Lintang keluar dari tempat kos itu.


Satu hal yang paling membuat Lintang terluka adalah dia dicap sebagai pelakor.

__ADS_1


__ADS_2