
Tania masih di kamar mewah milik Tono. Dia masih di sekap di sana.
Tania yang lupa membawa ponselnya, tak bisa minta tolong pada siapa pun.
Seharian dia hanya melamun. Kadang duduk di balkon. Berharap ada yang lewat dan mengenalnya, lalu memberikan pertolongan.
Tania masuk kembali ke dalam kamar. Dia menyalakan televisi besar yang menempel di dinding kamar.
Sesaat ada yang mengetuk pintu kamar. Tania memandang ke arah pintu. Bagaimana dia akan membukakannya kalau dia saja terkunci.
Pintu terbuka. Rupanya dua orang pembantu yang tadi pagi menyambutnya, datang membawakan makanan.
"Ini makan siangnya, Neng. Bapak juragan tadi meminta saya memberikan makan buat si Enengnya."
Perempuan yang bernama Asih meletakan nampan berisi makanan di meja depan sofa.
Sementara Yahya, suaminya berjaga di pintu. Khawatir Tania akan kabur.
"Iya terima kasih, Bik," sahut Tania dengan ramah. Bagaimana pun kedua orang tua ini tidak bersalah. Mereka hanya menjalankan perintah majikannya saja.
"Kalau Neng Tania butuh sesuatu, panggil saya saja. Neng Tania bisa mengetuk pintu dari dalam," ucap Asih sebelum keluar.
"Maaf saya kunci dari luar lagi ya, Neng. Ini perintah dari juragan Tono," tambahnya.
Lalu mereka keluar dan mengunci pintu kamar dari luar.
Tania yang memang sedang lapar dan iseng juga, melihat isi nampan.
Perut Tania langsung berbunyi melihat aneka makanan yang terlihat sangat lezat.
Entah beli di mana makanan-makanan itu. Tania berfikir kalau kedua pembantu itu yang memasaknya, tidak mungkin.
Model pembantu tua paling banter masaknya sayur asem sama ikan asin.
Tania mengabaikan itu. Dia memilih menyantap makanannya.
Tania makan dengan lahap hingga makanan itu habis tak bersisa.
Kemudian dia bersendawa dengan keras. Mumpung tidak ada orang yang mendengar, begitu fikir Tania.
Selesai makan, Tania kembali ke balkon. Menikmati pemandangan dari atas membuatnya merasa seperti putri raja yang hidup di sebuah kastil.
Apa begini ya, rasanya jadi putri-putri raja itu? Sendirian. Dikurung dalam sangkar emas. Tania bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah puas menikmati pemandangan dan terkena angin, Tania menguap.
Tania masuk ke kamar dan tidur. Karena kekenyangan, tak butuh waktu lama buat Tania terlelap.
Sore hari Tania baru terbangun. Dia meregangkan tubuhnya.
Tania mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia masih di tempat yang sama, dan masih sendirian.
Tania turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Tania masih saja mengagumi kamar mandi mewah itu meski tadi sudah memasukinya.
Ini kamar mandi bisa buat tidur. Luas banget. Batin Tania.
Dia jadi ingat omongan budenya tentang kamar mandi di hotel berbintang. Mungkin itu sama.
Tania yang terbiasa pipis dengan berjongkok, tetap melakukannya dengan berjongkok.
Dia sedang berfikir bagaimana nanti dia bisa BAB kalau harus sambil duduk.
Tania keluar tak mau mempedulikan lagi. Nanti kalau kebelet juga bakalan keluar sendiri bagaimana pun posisinya.
Karena iseng, Tania berjalan-jalan di dalam kamar. Dia buka-buka lemari besar yang kebetulan kuncinya tergantung di pintu.
Hanya ada baju-baju lelaki. Pasti pakaian milik Tono.
Tania membuka pintu sebelahnya. Tania tercengang melihat isinya. Baju-baju perempuan.
Tania mengambil satu dan membuka lipatannya. Masih terlihat baru meski sudah tidak terbungkus.
Tania menempelkan baju itu ke tubuhnya. Sepertinya ukuran baju itu pas di tubuhnya. Baju siapa?
Tania membuka laci. Di sana banyak pakaian dalam perempuan yang semuanya terlihat baru.
Tania juga mengambil satu yang mirip baju dalam bibinya. Kata bibinya itu yang dinamakan lingerie.
Tania meletakan kembali baju dan lingerie ke tempatnya semula. Dia mencari tasnya yang tadi dia bawa dari rumah.
Dia baru ingat, kalau tadi tidak menurunkannya dari mobil Tono.
"Ada apa, Neng?" tanyanya membuka sedikit pintu.
"Bibik lihat tas besar saya? Warnanya biru tua. Isinya baju-baju saya, Bik."
Asih menggeleng. Dia memang tidak melihatnya.
"Tidak, Neng. Tapi kalau Neng Tania mau ganti baju, itu di lemari sudah disediakan. Kemarin juragan yang membelinya. Saya yang memasukannya di lemari," sahut Asih.
"Oh, itu baju-baju buat saya Bik?"
Asih mengangguk.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Neng?" tanya Asih.
"Enggak, Bik. Terima kasih." Tania masuk lagi dan membuka lemari yang berisi pakaian untuknya.
Asih kembali keluar dan mengunci pintunya, sambil membawa nampan bekas makan istri majikannya.
Tania mengambil satu stel piyama dan dalaman. Dia akan mandi. Badannya terasa gerah meski di kamarnya ber-AC.
Tania yang merasa sendirian, bebas berada di dalam kamar mandi. Setelah dia mengunci pintunya dari dalam, dia nyalakan semua keran.
Tania pingin tahu, apa fungsi dari keran-keran itu.
__ADS_1
"Auwh!" teriak Tania ketika air panas yang keluar dari sebuah keran.
"Dari mana asal air panas ini?" Tania melihat ke atas dan sekeliling kamar mandi.
Tak ada pemanas atau apapun yang membuat air keran jadi panas.
"Mungkin di luar sana ada sumber air panasnya. Kayak di pegunungan aja." Tania terus saja berbicara sendiri.
Tania yang sudah tak berpakaian sehelai pun, mulai menyalakan air dari shower. Tania berdiri di bawahnya dan merasakan kesegaran air yang membasahi sekujur tubuhnya.
Tania mencari sabun mandi. Dia tak menemukannya. Biasanya di rumah pamannya dia memakai sabun batangan.
Tania terus saja mencari. Sampai dia menemukan tempat sabun cair yang menempel di dinding.
Dia mencari pencetannya. Tak ketemu. Lama Tania menatap tempat sabun cair itu, sampai akhirnya dia menemukan sebuah tombol di bawahnya.
"Nah! Ketemu juga." Tania juga melihat wadah satunya yang bertuliskan shampoo.
"Hhh. Shampo saja mesti di masukin ke sini. Nyusahin!"
Tania memakai shampo dulu sebelum memakai sabun.
Setelah selesai, Tania mau menggosok giginya. Dia kebingungan mencari gayung untuk berkumur.
Di sebuah wastafel, Tania melihat ada kotak kecil berisi sikat gigi dan pasta giginya.
Kaya orang mau wudhu saja pakai keran. Tania bergumam sendiri.
Dengan susah payah, Tania berhasil menggosok giginya.
Tania membuka lemari kecil yang ada di dinding. Ternyata isinya handuk. Tania tersenyum senang.
Tadinya dia pikir akan memakai baju bekasnya untuk mengelap tubuhnya selesai mandi.
Tania mengambil satu dan menutupnya lagi.
Setelah selesai mengelap tubuhnya, Tania memakai piyama dengan bahan satin berwarna merah marun yang tadi menggodanya untuk mengambil.
Hhmm. Pas sekali. Dari mana si tua bangka itu tahu ukurannya? Bahkan ********** juga pas.
Jangan-jangan itu buaya darat sering memegang milik perempuan seusiaku? Tanya Tania dalam hati.
Tania keluar dari kamar mandi dengan badan lebih segar.
Dia duduk di sebuah kursi depan meja rias. Perlahan disisir rambut panjangnya.
Pintu kamar diketuk kembali, dan tak lama terbuka. Asih datang membawakan secangkir teh hangat dan satu piring camilan.
"Ini saya taruh di atas meja ya, Neng?"
Tania hanya mengangguk sambil terus menyisir rambutnya.
Asih kembali keluar dan mengunci pintu kamar dari luar.
__ADS_1
Dengan rambut yang masih basah, Tania membawa cangkirnya ke balkon.