
Rendi dan Tania akhirnya benar-benar pulang ke rumah masing-masing.
Rendi mengantarkan Tania lebih dulu ke rumah pamannya.
"Aku turun di sini saja, Ren," ucap Tania di depan gang rumah pamannya.
"Aku akan mengantarmu sampai ke dalam," sahut Rendi.
Bagaimana pun dia yang telah membawa Tania pergi, dia juga yang akan mengembalikannya.
"Jangan, Ren. Aku tak mau terjadi keributan lagi. Paman dan bibiku pasti sedang sibuk mencariku. Dan mereka akan memarahi kamu, terutama pamanku." Tania tetap ngotot tak mau diantarkan.
"Tidak Tania. Aku yang akan mengantarkanmu ke rumah." Rendi pun tetap kekeh.
Akhirnya Tania mengalah. Rendi ikut turun dari mobilnya dan mengantarkan Tania sampai ke rumah pamannya.
Di halaman rumah milik tetangga paman Tania banyak orang sedang melepas tenda sisa hajatan tadi siang.
Rendi dan Tania berjalan melewati mereka, hingga masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu ada paman, bibi dan bude Tania yang masih kebingungan karena Tania tak kunjung kembali.
"Assalamualaikum...." Rendi mengucapkan salam.
Ketiga orang itu terkejut sekaligus senang sekali melihat kemunculan Tania.
"Tania! Kamu ke mana saja?" seru Eni lalu mendekati keponakannya itu dan memeluknya erat.
Sedangkan Danu menatap tajam ke arah Rendi. Rendi mencoba tetap bersikap ramah.
"Selamat malam, Om." Danu tak menjawab salam Rendi.
"Duduk kamu!" bentak Danu pada Rendi.
Tania segera melepaskan pelukan bibinya. Dia khawatir pamannya akan memukul Rendi.
Rendi duduk diikuti oleh Tania. Baik Eni maupun Widya yang sedang duduk hanya diam.
"Dari mana kalian?" Mata Danu menatap Tania dan Rendi bergantian.
"Pak...!" Belum sempat Eni bicara sudah disambar oleh suaminya.
"Diam kamu, Bu! Jangan membela mereka!" Eni langsung terdiam.
Widya pun tak buka suara. Bukannya dia takut pada Danu, adiknya. Tapi Widya juga tak membenarkan Rendi yang membawa kabur Tania.
"Jawab pertanyaanku! Dari mana kalian, hah?" Danu terlihat sangat emosi.
"Kami dari...."
Tania langsung memotong omongan Rendi.
"Kami dari bulan madu, Paman!" jawab Tania dengan tegas.
"Apa? Kamu sudah gila? Suami kamu itu Tono, bukan anak ingusan ini!" bentak Danu.
Tapi kali ini Tania tidak takut lagi pada pamannya. Dia merasa sudah menyelamatkan pamannya dari jeratan hukum.
__ADS_1
"Sama saja kan, Paman? Rendi anaknya Tono. Bedanya apa kalau Tania bulan madunya sama Rendi?"
"Oh! Kamu sudah berani melawanku, hah?" Tangan Danu sudah hampir melayang ke arah Tania. Tapi langsung ditahan oleh Widya.
Rendi pun melindungi Tania dengan memasang badannya di depan Tania.
"Pak! Jangan gila kamu!" teriak Eni.
"Bukan aku yang gila! Tapi mereka! Bikin malu orang tua saja!" Danu berusaha melepaskan tangan kakaknya.
Tapi Widya terus menahan Danu. Meski Widya seorang perempuan, tapi tenaganya luar biasa.
Bahkan Widya menarik tangan Danu hingga terduduk di kursi.
Giliran Widya yang berdiri di depan Danu.
"Sekarang apa mau kamu, Danu? Menghajar mereka? Apa kamu pikir dengan kekerasan bisa menyelesaikan masalah?" Widya berkacak pinggang sambil jarinya menunjuk ke muka adiknya.
Danu terdiam. Susah kalau mesti melawan Widya yang tenaganya bisa lebih kuat darinya saat marah.
"Rendi sudah mengembalikan Tania. Apa lagi yang kamu inginkan? Kamu pingin mereka kabur lagi?" Widya masih belum puas mengomeli adiknya yang kadang lebih mengutamakan emosinya.
"Rendi. Kamu pulanglah. Selesaikan urusanmu dengan orang tuamu. Terima kasih karena sudah mengembalikan Tania," ucap Widya kepada Rendi.
"Baiklah. Saya akan pulang. Tapi saya janji akan datang lagi untuk melamar Tania," sahut Rendi dengan sopan.
"Melamar gundulmu! Tania sudah menikah! Dengan Tono! Kurang jelas? Dengan papa kamu! Dan sekarang dia adalah ibu tiri kamu. Jadi aku harap kamu bisa menghormatinya!" ucap Danu berapi-api.
"Pulanglah, Rendi. Biarkan kami menyelesaikan masalah ini. Tania sekarang tanggung jawab papa kamu, suaminya." Widya berusaha meminta Rendi pulang secara baik-baik.
"Tidak! Tania kekasihku! Dan papaku akan segera menceraikannya!" seru Rendi yang emosi kalau mendengar omongan tentang pernikahan Tania dengan papanya.
Tapi tangan Widya mendorongnya hingga Danu terduduk kembali.
"Biarkan aku menggampar mulutnya, Mbak! Enak sekali dia bicara!" Danu berusaha menepiskan tangan Widya.
"Kalau kamu tidak bisa diajak bicara baik-baik, mending kamu masuk ke kamar saja. Eni! Bawa suami kamu ini masuk ke kamar!"
Eni gelagapan. Tak tahu siapa yang harus dibelanya.
"Pak..."
Danu malah melotot ke arah istrinya. Eni pun tak berani melanjutkan kata-katanya.
"Baiklah saya akan pulang. Saya titip Tania. Jangan serahkan dia pada papaku. Karena saya pastikan papa akan segera menceraikan Tania." Rendi berhenti sejenak, lalu menggenggam kembali tangan Tania.
"Tania, jangan biarkan papaku menyentuhmu. Aku akan datang lagi untuk menjemputmu." Lalu Rendi mengecup kening Tania.
Tania hanya bisa menangis sesenggukan. Widya dan Eni pun ikut terharu. Hanya Danu yang terdiam.
Bukannya dia tidak sedih dengan kisah cinta mereka. Tapi Danu teringat dengan ancaman Tono.
Rendi bangkit dan berjalan keluar.
"Rendi...!" tangan Tania menggapai-gapai ke arah Rendi sambil terus terisak.
Tania terus memandang kepergian Rendi hingga tak terlihat lagi.
__ADS_1
Tania berlari memeluk bibinya. Eni langsung menyambutnya sambil menangis.
"Tania, kamu bersihkan badanmu dulu. Biar lebih segar," ucap Widya yang melihat keponakannya sangat berantakan.
"En, bawa Tania ke kamar mandi," ucap Widya pada Eni.
Eni melepaskan pelukannya lalu membimbing Tania ke kamar mandi.
"Kamu mandi dulu. Bibi siapkan handuk dan baju ganti."
Tania yang masih sesenggukan masuk ke kamar mandi lalu mengunci pintunya.
Tania membuka seluruh pakaiannya hingga tak bersisa sehelai benang pun.
Dipandangi tubuhnya yang benar-benar polos. Lalu Tania mulai memutar kran air. Mengambil air dengan gayung dan mulai mengguyur badannya.
Tania merasakan tubuhnya lebih segar. Lalu kembali Tania mengambil air dan mengguyurkan lagi ke badannya.
Lagi. Dan lagi. Tania terus saja melakukannya bahkan dengan suara yang keras mengalahkan suara air yang mengucur dari kran.
Suaranya terdengar hingga ke luar. Eni yang sudah kembali ke depan kamar mandi mulai panik karena Tania tak juga menghentikan aktifitasnya.
"Tania...! Tania...!" Eni mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi sambil memanggil-manggil Tania.
Tapi Tania tak juga berhenti. Eni semakin panik dan terus berteriak memanggil Tania sambil mengetuk pintu dengan keras.
Widya dan Danu yang mendengar teriakan Eni, berlari menghampiri.
"Ada apa?" tanya Widya kebingungan.
"Itu...." Eni menunjuk ke dalam kamar mandi.
"Tania...! Tania...! Hentikan, Sayang!" Widya ikut mengetuk pintu kamar mandi.
"Tania! Buka pintunya!" teriak Danu. Namun tak ada jawaban dari Tania.
Danu menggedor pintu kamar mandi dengan keras. Tetap tak menghentikan Tania.
Hingga akhirnya Danu mendobrak pintu kamar mandi.
Terlihat Tania telanjang bulat sambil terus mengguyurkan air dari gayung.
Eni berlari masuk ke dalam kamar mandi dan merebut gayung yang dipegang oleh Tania.
Tania menangis sejadi-jadinya saat gayung sudah terlepas dari tangannya.
Eni langsung menutup tubuh Tania dengan handuk yang dibawanya. Lalu memapahnya ke luar kamar mandi.
Widya mengikuti dari belakang. Mereka menuju ke kamar Tania yang sudah disulap menjadi kamar pengantin.
Lalu Eni dan Widya memakaikan baju pada Tania yang sudah menggigil. Tubuhnya sudah mulai memucat.
Tania diam mematung. Hanya air matanya yang terus turun tanpa henti.
Widya membaringkan tubuh Tania lalu menyelimutinya.
Tak ada yang berani meninggalkan Tania sendirian di kamar. Danu pun berdiri mematung di pintu kamar Tania.
__ADS_1
Mereka khawatir Tania akan melakukan hal yang lebih membahayakan lagi.