
"Gimana, Tania? Kamu mau, kan?" tanya Widya.
Tania menggeleng.
"Kenapa Tania?" tanya Widya lagi.
Eni nampak kecewa. Harapannya bisa healing kayak teman-teman medsosnya sirna.
"Tania mau nunggu Rendi keluar dari rumah sakit, Bude," jawab Tania.
"Tania. Rendi masih lama keluarnya. Pasti dokter nyuruh nunggu sampai kakinya sembuh dulu. Minimal udah bisa digerakan. Nah, sembari menunggu, kita jalan-jalan aja dulu. Gimana?" tanya Widya.
Widya pun sebenarnya tak punya cukup uang untuk mengajak mereka semua jalan-jalan. Tapi demi Tania, dia rela menggunakan dulu uang modal dagangannya.
"Iya, Tania. Kamu kan tetep bisa video call sama Rendi di sana." Eni ikut menyahut.
Widya menatap wajah Eni.
Enak banget ngompor-ngomporin. Giliran suruh keluar uang, bilangnya enggak punya. Batin Widya.
Tapi Widya pun tak akan meninggalkan Eni dan Danu. Dia juga ingin mengajak serta mereka biar ikut refreshing.
"Nanti Tania bilang dulu sama Rendi, Bude. Kasihan Rendi ditinggal Tania jalan-jalan. Sementara dia lagi kesakitan di sana," ucap Tania.
Hebat sekali keponakanku ini. Mau jalan-jalan aja masih mikirin Rendi. Padahal mamanya Rendi sudah bikin dia menangis. Batin Widya lagi.
"Ya udah. Kamu bilang sama Rendi. Enggak akan lama, kok. Paling dua hari. Tiga hari sama di jalannya," ucap Widya.
Tania hanya mengangguk. Dia merasa galau. Kalau menerima ajakan Widya, dia enggak tega sama Rendi. Tapi kalau menolaknya, enggak enak sama Widya. Juga Eni yang malah jadi ngebet banget.
"Kita ke sananya naik apa, Mbak?" tanya Eni. Dia merasa benar-benar bahagia bisa jalan-jalan keluar kota.
Danu hampir tak pernah mengajaknya pergi jauh. Karena keluarganya Danu ya cuma Widya.
Sementara Eni sendiri sudah tak punya keluarga. Kedua orang tuanya di kampung, sudah meninggal dunia.
"Naik kapal selam!" jawab Widya.
Eni langsung cemberut mendengarnya. Sedangkan Tania, hanya menahan senyuman.
"Naik bus, Eni...! Kalau jalan kaki, kapan sampainya?" sahut Widya dengan gemas, melihat adik iparnya cemberut.
"Kirain naik angkotnya mas Danu, Mbak. Kan lebih irit," ucap Eni. Dia sadar tak punya cukup uang untuk membayar ongkos busnya.
"Haduh, capek kalau naik angkot. Kan joknya kayak gitu. Enggak bisa buat tiduran. Kamu enak, duduk di depan," sahut Widya.
__ADS_1
"Ya Mbak Widya aja yang di depan. Nemenin mas Danu nyetir. Aku di belakang sama Tania. Nanti kita juga bisa bawa kasur lipat. Biar bisa rebahan di bawah," ucap Eni.
"Bener juga, ya. Tumben kamu cerdas, En," puji Widya.
Eni malah memonyongkan bibirnya. Omongan Widya seakan menilai Eni tak pernah punya ide briliyan.
"Jangan lupa bawa bantal sama guling, Bi. Pasti lebih nyenyak tidurnya." Tania yang dari tadi diam, ikut menyahut.
"Iya, Sayang. Nanti Bibi bawa kompor portable juga. Biar kalau istirahat bisa bikin mie instan," ucap Eni.
"Emang kamu punya kompor portable, En?" tanya Widya.
Widya merasa kagum dengan otak Eni yang kelihatannya semakin pintar.
"Ada, Mbak. Di salon. Aku kan kadang juga butuh air panas, kalau di salon. Jadi aku beli aja kompor itu. Praktis," jawab Eni.
"Ooh. Hebat kamu, udah modern. Kirain kamu nenteng-nenteng thermos dari rumah," ucap Widya.
"Enggaklah. Malu-maluin aja. Kayak orang mau jaga di rumah sakit," sahut Eni.
Eni masih ingat saat menunggui Tania lahir di rumah sakit. Dia dan Danu ikut menunggui. Dua hari dua malam mereka begadang.
Karena Danu dari dulu hobi minum kopi, jadi Eni bawa thermos sendiri dari rumah. Beserta gelas plastik dan kopi sachetan.
Eh, ternyata malah bayi yang lahir, jadi anaknya. Karena kedua orang tua Tania kabur entah kemana.
"Kita mau diajak mbak Widya jalan-jalan, Pak. Ke kota tempat kerjanya mbak Lintang," jawab Eni.
Eni selalu memanggil Lintang dengan sebutan mbak juga. Tadinya buat mengajari Tania. Tapi malah keterusan sampai sekarang.
"Boleh. Kita naik angkot aja. Biar irit ongkos," ucap Danu.
"Iya, Pak. Aku juga bilang gitu sama mbak Widya. Iya kan, Mbak?" tanya Eni pada Widya.
Widya mengangguk.
Dasar, suami istri idenya selalu saja sama. Naik angkotlah. Biar ngiritlah. Hhmm. Ternyata mereka mikir juga soal ongkosnya. Jadi aku tak perlu memakai uang modal daganganku. Aman. Batin Widya dengan senang.
"Nanti bawa kasur lipat, Bu. Sama selimut, bantal juga guling. Kompor kamu yang di salon juga boleh di bawa, Bu. Biar di jalan aku bisa ngopi. Kalau beli kopi di rest area kan harganya bisa berkali-kali lipat," ucap Danu.
Widya menatap Eni dan Danu bergantian.
Ini lelaki dan perempuan, kenapa pikirannya selalu sama? Apa mereka punya telepati? Atau memang berjodoh? Batin Widya.
"Kamu dari tadi dengerin kita ngomong, ya?" tanya Widya.
__ADS_1
"Enggak, Mbak. Aku kan baru bangun tidur," jawab Danu.
"Memangnya kenapa, Mbak?" tanya Eni.
"Kenapa ide kalian bisa sama gitu?" tanya Widya dengan heran.
"Iya yah. Mas Danu nguping kali, Mbak," sahut Eni.
"Enak aja! Lagian mana kedengeran dari kamar depan. Udah, aku bikinin kopi dulu, En," pinta Danu.
"Iya. Kopi mulu! Entar ususnya item lho," ucap Eni.
Tania terkekeh mendengarnya. Mana ada usus jadi item kalau minum kopi terus, pikir Tania.
"Jangan dengerin omongan bibi kamu. Udah soak itu otaknya," ucap Widya pada Tania.
"Memangnya otakku ini accu, Mbak!" sahut Eni dari dapur.
"Bukan accu tapi mesin dinamo! Makanya sering soak kalau telat dikasih bahan bakar!" ledek Widya.
Tania hanya senyum-senyum saja melihat keakraban keluarganya. Menyenangkan sekali berada di tengah-tengah mereka.
Masalah seakan lewat begitu saja.
"Bude mau tiduran?" tanya Tania. Dia kasihan melihat Widya dari tadi duduk terus.
"Enggak usah. Udah tanggung mau maghrib, sebentar lagi. Kamu juga jangan tiduran. Tidurnya nanti aja abis isya sekalian," ucap Widya.
Lalu Widya keluar dari kamar Tania. Dia mau mandi sebelum sholat maghrib.
Tania mengambil ponselnya.
Yaah...mati. Tania baru sadar kalau dia dari tadi tak membuka lagi ponselnya.
Pasti Rendi gelisah di sana.
Tania buru-buru mengambil chargernya di dalam tas. Untung semuanya kebawa saat dia kabur dari rumah Tono.
Ingat rumah Tono, Tania jadi kangen dengan bik Asih dan mang Yahya. Mereka orang-orang baik yang juga jadi korban ketamakan Tono.
Bagaimana dengan nasib mereka, ya? Apa mereka diusir Tono, setelah tahu kalau dirinya kabur? Tania jadi memikirkan nasib mereka berdua.
"Mikir apa, Tania? Serius banget," tanya Eni yang sudah selesai membuatkan kopi.
"Bik Asih sama mang Yahya, Bi. Bagaimana nasib mereka berdua ya? Tono pasti menghukum mereka karena Tania kabur," jawab Tania.
__ADS_1
Eni mendengarnya jadi berkaca-kaca.
Tania memang anak yang sangat baik. Dalam keadaan seperti ini saja, dia masih memikirkan nasib orang lain. Padahal nasibnya sendiri masih nyungsep.