HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 192 BIANG KEROK DATANG LAGI


__ADS_3

"Monica!" seru Rendi. Rendi langsung menyembunyikan ponsel yang dari tadi dipeganginya.


Monica tersenyum kepada Rendi.


"Rendi...!" Monica mendekat ke arah Rendi.


Rendi menjauhkan wajahnya saat Monica berniat mencium.


"Ren. Aku kangen sama kamu," ucap Monica.


Rendi menatap wajah Monica dengan jengah. Lalu Rendi memalingkan wajahnya.


Aroma nafas Monica sangat terasa berhembus di wajah Rendi. Aroma yang dulu pernah menghipnotisnya, kini terasa sangat memuakan.


"Rendi, Sayang. Aku kangen kamu."


Monica meraih dagu Rendi. Tapi Rendi segera menepisnya.


"Kenapa, Ren? Kamu enggak kangen sama aku?" bisik Monica.


Monica membungkuk di dekat Rendi. Bahkan dia hampir saja menjilat telinga Rendi.


Rendi menepisnya lagi lebih kuat. Hingga Monica hampir terjungkal ke belakang.


"Rendi...!" seru Monica. Dia langsung mencari pegangan.


Sayangnya tangan Monica malah meraih tiang besi penyangga selang infus. Hingga membuat tiang itu terjatuh, bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh terlentang.


"Auwh!" teriak Monica.


Reflek Rendi melongok ke bawah, sambil meringis menahan perih, karena jarum infus tercabut paksa dari tangannya.


Rendi melihat Monica terlentang dengan rok pendeknya tersingkap ke atas. Hingga memperlihatkan ****** ***** dan paha mulusnya.


Rendi terkikik, tapi merasa kasihan juga.


"Maaf. Maaf...!" ucap Rendi.


Rendi tak bisa berbuat apa-apa. Karena kaki dan tangannya belum bisa digerakan dengan bebas.


Monica berusaha berdiri. Dengan terpaksa, Rendi mengulurkan tangan kanannya. Dan Monica menyambutnya. Dia berdiri dengan berpegangan pada tangan Rendi.


Lalu Rendi menekan tombol untuk memanggil perawat. Rendi mau minta tolong memasangkan kembali infusnya.


Tak lama, Mila yang kebetulan masih berjaga, datang ke kamar Rendi.


"Ada apa, Mas Rendi?" tanya Mila.


Mila menatap ke arah Monica. Terlebih beberapa kancing blouse Monica yang super ketat, terlepas.


Monica langsung menangkup dadanya dengan tangan. Lalu membalikan badan, dan membetulkannya.


"Mila, tolong betulkan infusku. Tadi jatuh," pinta Rendi.


Mila langsung membetulkannya.


"Aduh, ini kenapa sampai tercabut sih?" Mila sengaja mengeraskan suaranya, agar Monica mendengar.

__ADS_1


"Tadi ketarik, waktu dia jatuh," jawab Rendi sambil menunjuk Monica dengan wajahnya.


Mila mendengus dengan kesal. Lalu memasang kembali infus ke tangan Rendi.


Setelah membetulkan pakaiannya, Monica mendekati Rendi. Dia menatap Mila yang sedang memasang infus.


Hm...Cantik juga. Siapa dia? Tanya Monica dalam hati.


"Tolong ati-ati ya. Ini bisa bahaya kalau sampai tercabut lagi kayak tadi," ucap Mila menakut-nakuti Monica.


"Iya, Suster. Tadi enggak sengaja," sahut Monica.


"Ya udah. Aku tinggal dulu." Mila berjalan keluar dari kamar Rendi.


Inginnya sih, Mila mengusir Monica. Atau tetap berada di kamar Rendi, biar Monica tak berbuat macam-macam lagi.


Tapi Mila masih berada di jam kerja. Tak mungkin dia meninggalkan tugasnya.


"Siapa dia, Ren?" tanya Monica.


"Dia Mila. Perawat yang nanti akan merawatku di rumah. Kalau aku sudah pulang," jawab Rendi.


"Memangnya kapan kamu mau pulang?" tanya Monica.


"Belum tau. Pinginnya sih cepet-cepet. Tapi kayaknya dokter belum mengijinkan," jawab Rendi berbohong.


Rendi sengaja tak mengatakan pada Monica tentang kepulangannya besok pagi. Biar Monica tak mendatanginya di rumah.


Karena kalau di rumah, Monica akan semakin merasa bebas. Dan bisa enggak pulang-pulang.


"Memangnya enggak ada perawat lain? Yang laki, kek," tanya Monica.


Apalagi sikap Monica yang jutek padanya. Bakal bermusuhan mereka.


"Aku merasa cocok dengannya. Orangnya sabar. Telaten. Cantik juga," jawab Rendi. Sengaja memanas-manasi Monica.


"Memangnya aku kurang cantik? Kurang seksi?" tanya Monica.


"Enggaklah. Kamu cantik dan seksi, Monica. Dan kamu bisa mendapatkan lelaki lain yang lebih dari aku," jawab Rendi.


"Rendi! Kamu ngomong apaan, sih?" Monica merasa tak suka dengan omongan Rendi.


"Mon. Aku bakalan cacat. Memangnya kamu siap punya suami yang cacat? Gimana kalau aku enggak bisa apa-apa sendiri? Kamu mau membantu aku terus?" tanya Rendi menakut-nakuti Monica.


Padahal Rendi juga takut dengan omongannya sendiri. Jangan sampai dia cacat seumur hidup. Rendi tak mau selamanya hidup bergantung pada orang lain.


"Kan ada perawat, Rendi. Nanti perawat yang akan membantumu kalau aku enggak ada," jawab Monica.


"Mila, maksudmu?" tanya Rendi.


"Ya jangan dia juga. Ganti yang laki-laki. Nanti keenakan dia dong. Bisa berduaan dengan kamu terus." Mata Monica menatap Rendi dengan tajam.


Tiba-tiba Rendi jadi ingat dengan Tania. Tania yang tadi sedang mandi dan malah mematikan ponselnya.


Rendi ingin kembali menelpon Tania, tapi ada Monica. Bakal kacau nanti. Tania bisa berpikiran yang tidak-tidak.


"Tapi aku cocoknya sama Mila. Mama juga cocok sama dia. Dan kami sudah membuat kesepakatan," sahut Rendi.

__ADS_1


Sebenarnya Rendi maunya Tania yang merawatnya. Tapi mamanya pasti menolak. Jadi biarlah Mila saja.


Dari reaksi Mila tadi, Rendi bisa menilai kalau Mila tidak suka dengan Monica. Dan itu akan menguntungkannya.


Karena bisa jadi Monica bakalan berantem terus dengan Mila. Jadi Monica jarang datang ke rumahnya.


Monica mendengus dengan kesal.


Monica tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah melibatkan mamanya Rendi. Mending pasrah daripada Sari malah membencinya.


Sekarang yang akan dilakukan Monica, bagaimana caranya agar Sari mau berpihak padanya.


Tak lama, Sari pun datang.


Sari terkejut melihat Monica sudah berada di dalam kamar Rendi.


Ah, si biang kerok datang lagi. Mau apa dia? Tanya Sari dalam hati.


"Tante....Tante dari mana?" tanya Monica.


Seperti biasanya, Sari menatap tak suka pada Monica. Terutama pada pakaian Monica yang kurang bahan.


"Membelikan buah dan makanan buat Rendi!" jawab Sari dengan ketus.


Lalu Sari meletakan bawaannya di atas meja tanpa mempedulikan Monica lagi.


"Kamu mau makan buahnya dulu, apa martabaknya dulu?" tanya Sari pada Rendi.


"Buahnya dulu aja, Ma," jawab Rendi.


Karena sebenarnya Rendi masih kenyang. Kalau makan martabak manis, bakal kekenyangan nanti.


"Ya udah. Mama suapin, ya." Sari mengambil buah potong yang dibelinya.


"Biar saya yang nyuapin Rendi, Tante," ucap Monica.


Monica memulai aksinya mengambil hati Sari.


"Oh, enggak usah. Kamu duduk aja di sana, ya!" tolak Sari.


Sari tak mau melihat Monica nanti malah bermesraan dengan Rendi.


"Iya, Mon. Kamu duduk aja di sofa. Biar mama yang nyuapin aku," ucap Rendi setuju dengan Sari.


Karena Rendi pun malas disuapi oleh Monica. Nanti yang ada, Rendi malah disuguhi pemandangan yang menyesakan dada. Eh salah, dada yang sesak.


Dengan bete, Monica pun menurut. Monica tak berani menentang Sari. Dia akan bersikap seolah menurut apa kata Sari dan Rendi.


Monica duduk di sofa, lalu mulai asik dengan dirinya sendiri. Dia membuka ponselnya dan mulai berpetualang di dunia maya.


"Ngapain dia datang lagi ke sini?" tanya Sari pelan pada Rendi.


Rendi hanya mengedikan bahunya.


"Boleh Mama usir dia?" tanya Sari lagi.


"Gimana caranya?" Rendi balik bertanya.

__ADS_1


Sari diam sejenak. Memikirkan bagaimana caranya mengusir Monica.


__ADS_2