HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 181 SAMA-SAMA KERAS KEPALA


__ADS_3

Tono pulang jalan kaki, lalu nyetop angkot tak jauh dari rumah Danu. Hal yang tak pernah dia lakukan sebelum-sebelumnya.


"Mau kemana, Pak?" tanya seorang wanita setengah baya yang duduk di sebelah Tono.


"Ke rumah sakit," jawab Tono.


"Bapak sakit?" tanyanya lagi.


"Enggak," jawab Tono singkat. Dia lagi malas berbincang dengan orang asing.


Apalagi kalau nanti orangnya bertanya-tanya tentang penyakitnya. Jelas saja Tono tak akan mau menjelaskannya.


Hari ini Tono harus kontrol ke rumah sakit. Karena hari ini jadwal pertama pengobatannya, setelah pulang dari rumah sakit kemarin.


Tono sudah janji akan mematuhi jadwal pengobatan, asal dia tidak harus opname.


Wanita itu akhirnya diam, karena respon dari Tono kurang menyenangkan.


Dan ternyata mereka turun bersamaan. Di rumah sakit tempat Tono akan kontrol sekaligus nengokin Rendi.


Begitu turun dari angkot, wanita itu bergegas masuk ke area rumah sakit.


Tono hanya menatapnya sekilas. Lalu dia juga ikut masuk. Tapi Tono ke tempat pendaftaran dulu.


Setelah selesai dengan proses pendaftarannya, Tono menuju ke kamar Rendi dulu. Karena dia baru akan ketemu dokter satu jam lagi.


Tono mengetuk pintu kamar Rendi, sebelum membukanya.


"Pagi, Rendi. Kamu udah makan?" tanya Tono. Dia melihat ada nampan makanan di atas meja.


"Belum, Pa. Males," jawab Rendi.


"Kok males? Katanya pingin sembuh. Mama kamu kemana?" tanya Tono. Dia tak melihat jejak Sari sama sekali.


"Mama katanya kesininya siangan. Pagi ini ada kiriman barang yang dateng," jawab Rendi.


"Oh, ya udah. Kamu mau makannya Papa suapi?" tanya Tono mengejutkan Rendi. Karena seumur hidup Rendi merasa tak pernah sekalipun disuapi Tono.


"Enggak, Pa. Nanti Rendi makan sendiri aja," tolak Rendi.


"Jangan nanti-nanti. Sekarang aja makannya. Papa tungguin, mumpung Papa masih punya waktu satu jam lagi," ucap Tono sambil melihat jam tangannya.


"Memangnya Papa mau kemana?" tanya Rendi.


"Hari ini Papa mau ketemu dokter. Papa mau memulai pengobatan. Tapi kayaknya dokternya ganti." Tono melihat lagi kertas pendaftarannya.


"Kok ganti, Pa?" tanya Rendi.


"Enggak tau. Papa tadi enggak sempet nanya. Coba nanti Papa tanya." Tono mengantongi kertasnya lagi.


"Siapapun dokternya, yang pasti Papa mau sembuh, Ren. Papa ingin bisa liat kamu bahagia bersama Tania. Kamu juga mau kan, hidup bahagia selamanya bersama Tania?" tanya Tono.

__ADS_1


"Mau dong, Pa. Tapi sayangnya, dari tadi Tania enggak bales chat Rendi," sahut Rendi dengan sedih.


"Mungkin Tania lagi sibuk, nyiapin buat acara jalan-jalannya nanti," sahut Tono.


"Tadi Papa dari rumah mereka," lanjut Tono.


"Hah...! Ngapain, Pa?" tanya Rendi terkejut.


Tono memperhatikan wajah Rendi.


"Papa minjemim mobil buat mereka, Ren. Kasihan kalau mereka mesti naik angkotnya. Pasti enggak nyaman, kan?" jawab Tono.


"Oh iya, Pa. Makasih atas kepedulian Papa pada Tania," ucap Rendi.


"Tapi, apa Tania punya uang ya, Pa?" tanya Rendi pelan.


"Enggak usah khawatir, Ren. Tadi Papa udah kasih uang saku juga. Ya, semoga cukup. Soalnya, dari dulu Tania memang tak pernah minta uang meskipun sebenarnya dia butuh," jawab Tono.


Jelas saja Tania tak pernah minta uang, hidupnya dikurung oleh Tono.


Punya uangpun mau buat apa? Karena enggak bisa pergi kemana-mana.


"Jadi Papa enggak pernah kasih uang ke Tania?" tanya Rendi.


"Udah deh, Ren. Lupakan itu. Papa jadi merasa sangat berdosa," sahut Tono.


Tono menghela nafasnya.


Tono kembali menghela nafasnya yang mulai terasa sesak.


Akhir-akhir ini, Tono memang sering merasakan sesak bernafas.


"Makanya mulai saat ini, Papa akan berusaha menebus semua kesalahan. Apapun yang Tania mau, Papa akan penuhi," lanjut Tono.


"Apa Papa juga melakukannya untuk istri-istri Papa yang lain?" tanya Rendi.


"Enggak, Ren. Hanya untuk Tania," jawab Tono.


Tiba-tiba pintu terbuka. Sari muncul dengan membawa banyak tentengan.


"Ada yang lagi membahas soal koleksi istri?" tanya Sari. Tadi dia sempat mendengar sekilas omongan Rendi.


Rendi dan Tono sama-sama menoleh dan terkejut.


"Kalau kamu kesini cuma buat membicarakan si Tania itu, mending enggak usah kesini lagi aja! Bikin suasana enggak enak, tau!" ucap Sari dengan ketus.


Padahal dari tadi, sebelum Sari datang, suasananya sangat hangat. Tono begitu sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan Rendi.


Tono bangkit dan memilih untuk pergi, daripada berdebat dengan Sari yang tak pernah mau kalah.


Lagipula jadwalnya ketemu dokter, tinggal beberapa menit lagi.

__ADS_1


"Ngomong apa aja, papa kamu?" tanya Sari pada Rendi setelah Tono pergi.


"Enggak ngomong apa-apa, Ma. Papa cuma bilang mau kontrol aja," jawab Rendi berbohong.


"Enggak usah bohong kamu, Rendi. Mama dengar tadi," ucap Sari.


"Lha, kalo udah denger ngapain Mama nanya," sahut Rendi.


Sari mendengus kesal. Lalu mengambil makanan Rendi dan mulai menyuapinya.


"Rendi enggak mau makan, Ma," tolak Rendi.


"Biar cepet sehat, Rendi," sahut Sari.


"Rendi udah sehat kok, Ma. Rendi malah kepingin cepet-cepet pulang," sahut Rendi.


"Kalau mau cepet pulang ya makan yang banyak." Sari tetap berusaha menyuapi Rendi.


"Nanti Rendi makan sendiri, Ma. Rendi bisa, kok." Rendi tetap menolak untuk makan.


"Kamu itu, udah gede masih aja susah makannya." Sari meletakan kembali nampan makanan.


"Kalau mau makanan lainnya, nanti Mama beliin," ucap Sari.


"Enggak, Ma. Rendi lagi enggak mau makan," sahut Rendi kekeh.


"Ya udah. Tapi nanti tetap harus makan. Kamu kan harus minum obatnya."


Sari duduk di sofa sambil membuka ponselnya. Dia harus mengecek barang yang baru datang ke kios.


"Mama katanya mau ngurus barang-barang yang baru datang?" tanya Rendi.


"Kan Mama bisa cek lewat hape. Biar si Putri yang mengurusnya. Dia juga udah pinter," jawab Sari.


Putri adalah salah satu karyawan kesayangan Sari. Dia juga dipercaya untuk menggantikannya kalau Sari lagi berhalangan datang.


"Kalau begitu Mama enggak perlu ke pasar tiap hari, kan?" tanya Rendi.


"Ngaco aja kamu. Kalau dilepas begitu aja, ya enggak bisa lah. Bisa bangkrut usaha Mama," jawab Sari.


"Ya udah, nanti kalau Rendi udah sembuh, biar Rendi yang ngurusi semuanya. Tania pasti mau bantu," ucap Rendi.


"Apa? Tania? Enggak! Mama kan udah bilang berkali-kali sama kamu, jangan pernah berpikir soal Tania! Mama enggak suka!" sahut Sari dengan ketus.


"Kalau begitu, Rendi juga enggak mau bantuin Mama!" Rendi pun menyahut tak kalah ketus.


"Ren, masih banyak wanita lain!" ucap Sari.


"Bagi Rendi, enggak ada wanita lain selain Tania, Ma!"


Sari hanya bisa menatap wajah Rendi dengan geram. Mereka berdua masih sama-sama keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2