
Makan di kedai itu, Eni yang membayarnya, menggunakan uang dari Tono. Tentunya atas perintah Widya.
"Iya, Mbak. Tenang aja. Aku bayar semuanya. Uang dari Tono masih banyak!" jawab Eni dengan lantang.
Lintang terkejut mendengarnya. Lalu menoleh ke arah Eni.
"Tono siapa?" tanya Lintang pada Tania yang masih duduk satu meja dengannya.
"Eng....Enggak tau, Mbak. Mungkin... temannya bibi," jawab Tania terbata-bata.
"Kalau temannya bibi, kenapa katanya ngasih uang banyak? Apa mereka juga berhutang untuk main ke sini?" gumam Lintang.
Tania yang buru-buru pergi meninggalkan Lintang, hanya mendengarnya sekilas.
Tania menghampiri Eni yang sedang berada kasir.
"Bi. Kalau ngomong soal Tono, jangan kenceng-kenceng. Mbak Lintang denger, tuh," bisik Tania.
"Oh iya. Bibi lupa. Maaf...maaf." Eni menangkup mulutnya dengan tangan.
Widya yang juga ikut menghampiri, mendengarnya.
"Kamu itu, mulut enggak ada remnya, En!" sahut Widya.
Eni menoleh ke arah Widya sambil tersenyum kecut. Eni juga menyesal karena tadi dia keceplosan.
"Uangnya cukup, Bi?" tanya Lintang.
Lintang ikut mendekat juga ke kasir. Dia masih penasaran dengan ucapan Eni tadi.
Lintang masih berpikir, kalau Eni berhutang pada orang untuk bisa jalan-jalan ke sini.
"Cukup. Cukup." Eni berusaha mengerem mulutnya biar enggak keceplosan lagi.
"Oh, ya udah. Kalau enggak cukup, Lintang ada uang, kok. Bisa pakai uangnya Lintang aja," ucap Lintang.
"Enggak usah, Lintang. Uang kami cukup kok. Kami kan memang udah mempersiapkannya. Sekali-kali pingin main ke sini." Widya terpaksa berbohong.
"Ya udah, kita jalan lagi, yuk," ajak Lintang.
Danu masih asik merokok. Dia tak mau melupakan ritualnya itu. Terutama setelah selesai makan.
Itu juga kenapa Lintang membawa mereka makan di kedai. Biar Danu bisa bebas merokok di dalam. Kalau di restauran, biasanya tidak boleh merokok sembarangan.
Mereka pun berjalan ke alun-alun kota. Di sana lebih ramai daripada di jalanan tadi. Karena kebetulan juga malam weekend. Orang seperti tumpah ruah di sana.
Tania sangat menikmati suasana itu. Dia banyak membeli makanan kecil khas anak-anak.
Tania jadi ingat sewaktu dia masih kecil. Danu dan Eni sering mengajaknya ke pasar malam. Ramainya hampir sama dengan alun-alun ini. Cuma bedanya, di pasar malam pasti ada komedi putar dan pedagang yang berteriak-teriak menjajakan dagangannya.
"Kayak anak kecil aja kamu, Tania," ucap Lintang yang berjalan di sebelah Tania.
"Justru karena udah gede, Mbak. Enggak pernah lagi beli makanan anak kecil. Jadi kangen," sahut Tania.
Tania ingat, terakhir dia membeli makanan kecil seperti ini, beberapa bulan yang lalu.
Sebelum badai menerpa hidupnya.
__ADS_1
Sebelum Tono datang ke rumah mereka dan memaksanya untuk menikah.
"Emang di kampung enggak ada?" tanya Lintang. Setahunya di kampung mereka, malah kebanyakan orang jualan jajanan anak-anak.
"Ada sih.Tapi udah lama enggak pernah beli," jawab Tania.
"Mbak Lintang mau jajan apa?" tanya Tania.
"Enggak ah, aku udah kenyang," jawab Lintang.
"Tadi Mbak Lintang kan enggak makan? Cuma makan puding aja," sahut Tania.
"Aku jarang makan kalau malam." Lintang beralasan untuk menutupi masalahnya.
"Ooh." Tania mengangguk. Tapi dalam hati heran. Enggak makan malam, tapi makan puding manis, yang pastinya sangat tidak cocok untuk orang diet.
Mereka kembali berjalan, di antara kerumunan orang. Tapi tiba-tiba, Lintang menghentikan langkahnya. Tania menoleh dan memperhatikan wajah Lintang.
Meski di keremangan, tapi Tania bisa melihat wajah Lintang yang pucat.
Lintang memegangi kepalanya.
"Mbak Lintang kenapa?" tanya Tania khawatir.
"Eng...Enggak apa-apa. Cuma...sedikit pusing aja," jawab Lintang.
"Istirahat aja kalau capek, Mbak," ucap Tania.
Lintang mengangguk. Tapi baru saja dia melangkahkan kakinya hendak mencari tempat istirahat, tubuh Lintang oleng.
"Mbak....!" Tania langsung menangkap tubuh Lintang yang oleng ke arahnya.
Lintang sudah tak sadarkan diri di dekapan Tania.
"Tolong...! Bu! Tolong....!" seru Tania minta tolong.
Beberapa orang langsung menolong mereka. Mereka memapah tubuh Lintang menuju ke bangku taman.
Tania duduk duluan dan memangku kepala Lintang.
"Kalian dari mana?" tanya seorang bapak-bapak.
Tania menjawab kalau mereka dari kampung, yang sedang berlibur di kota.
"Keluarga kalian dimana?" tanya bapak-bapak itu lagi.
"Sebentar, saya telpon dulu," jawab Tania.
Tania menelpon Widya. Kalau menelpon Eni, biasanya loadingnya lama. Belum lagi kalau di keramaian seperti ini, Eni suka tak mendengar suara telpon.
"Iya, hallo. Ada apa, Tania?" tanya Widya.
"Bude dimana? Mbak Lintang pingsan, Bude."
"Hah? Kalian di sebelah mana?" tanya Widya dengan panik.
"Kami ada di dekat lampu taman. Di bangku panjang," jawab Tania.
__ADS_1
"Ya udah. Kami ke sana. Jangan matikan telponnya," ucap Widya.
Tania pun menurut. Dia tak mematikan panggilan telponnya. Tania mengaktifkan loudspeakernya. Biar lebih mudah.
"Ada apa, Mbak?" tanya Eni.
"Lintang pingsan. Ayo kita cari mereka!" ajak Widya.
"Hah! Pingsan? Kenapa?" tanya Eni.
"Aku juga enggak tau. Udah, sekarang kita cari mereka!" Widya bergegas berjalan mencari keberadaan Tania dan Lintang.
Danu dan Eni berjalan mengikuti dari belakang, sambil matanya mencari keberadaan Tania dan Lintang.
"Mbak Lintang kecapekan apa ya?" gumam Eni.
"Udah, kita cari dulu mereka. Biar tau penyebabnya," ucap Danu. Dia tak mau Widya yang lagi panik, jadi kesal gara-gara Eni bawel.
Eni pun diam. Dan terus berjalan mengikuti Widya.
Widya jalan di depan dengan tergesa-gesa, sambil terus menelpon Tania. Sampai akhirnya mereka berhasil menemukan Tania yang sedang memangku kepala Lintang.
"Kenapa bisa begini, Tania?" tanya Widya.
Widya meraba sekujur tubuh Lintang.
"Enggak tau, Bude. Mbak Lintang tadi tiba-tiba berhenti sambil memegangi kepala. Lalu pingsan," jawab Tania.
"Bawa ke rumah sakit aja. Di sini rumah sakit terdekat di mana ya?" Widya yang tak mengenal daerah situ juga kebingungan.
Lalu Danu bertanya pada seorang pedagang.
"Jauh, Pak?" tanya Danu.
"Enggak terlalu jauh. Tapi kalau pingsan begitu, ya harus naik mobil," jawab pedagang itu.
Tania ternyata sudah browsing rumah sakit terdekat.
"Ada, Bude. Ini yang terdekat." Tania memperlihatkan hasil browsingnya pada Widya.
"Aduh...enggak bawa mobil, lagi," keluh Widya.
"Tania pesankan taksi online aja, Bude."
Tania segera memesan taksi online. Karena kalau harus mengambil mobil dulu, bakal kelamaan.
"Kalian ke sana duluan deh. Aku sama Eni ambil mobil di haotel. Soalnya, kalau kita semua naik ke taksi online, enggak akan cukup," ucap Danu.
Karena biasanya susah dapat taksi online yang muat lebih dari empat orang. Apalagi yang satunya pingsan.
"Tumben kamu cerdas!" puji Widya.
Danu tersenyum dengan bangga.
"Memangnya Paman tahu rumah sakitnya dimana?" tanya Tania. Karena setahunya, baik Danu maupun Eni, tidak bisa membaca google map.
"Enggak. Hehehe."
__ADS_1
Widya hanya bisa menepok jidatnya. Baru aja dipuji, udah kumat lagi begonya.