HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 106 TONO KECEPLOSAN


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai di rumah Tono. Seperti biasanya, Yahya membukakan pintu gerbang untuk mereka.


Dada Tajab mulai bergemuruh. Jantungnya berdegup sangat cepat.


Tajab takut kalau Linda sampai mengadu pada Tono soal kejadian tadi. Pasti Tania pun akan balik mengadukan kelakuan Linda. Habislah Tajab.


Sampai di halaman, satu persatu turun. Termasuk Linda. Tajab pun ikut turun. Dia tak berani kembali ke markas sebelum diperintah oleh Tono.


Sampai di dalam, Tono lagi ngopi di ruang tengah. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Tajab.


Tono melihat ke arah mereka. Tania dan Asih langsung ke dapur. Mereka akan membereskan belanjaan. Termasuk menyembunyikan sandal Asih yang dibelikan Tania.


Linda langsung duduk di sebelah Tono dan menyandarkan kepalanya.


"Tajab!" panggil Tono.


"I....Iya Juragan," sahut Tajab.


"Bagaimana, beres?" tanya Tono.


"Beres Juragan," jawab Tajab sambil menundukan kepalanya.


"Bagus! Sekarang tugas kamu menjaga dua istriku di rumah ini. Aku sebentar lagi mau keluar. Jaga mereka, jangan sampai keluar lagi!" perintah Tono.


"I...Iya. Baik, Juragan." Tajab masih menyembunyikan wajahnya. Tapi sesekali dia melirik ke arah Linda.


Linda yang tahu kalau Tajab meliriknya, pura-pura tak melihat.


"Sudah puas kamu belanjanya?" tanya Tono sambil menciumi puncak kepala Linda.


"Bagaimana mau puas? Kan uangnya dibawa si Tania," jawab Linda sambil manyun.


"Terus, masalahnya apa?" tanya Tono lagi.


"Aku kan juga pingin belanja. Masa cuma beli keperluan dapur saja," jawab Linda. Dia berharap Tono memberinya uang dan membiarkan dia keluar lagi.


"Kan kamu sendiri yang bilang, maunya belanja keperluan dapur di supermarket. Kurang apa lagi?" Tono tak habis pikir dengan istri mudanya ini. Selalu saja merasa kurang.


"Aku kan juga pingin kalau belanja dibawain uang sendiri. Dibawain ATM juga. Hhh. Belanja tapi berasa kayak anak kecil. Mau ini itu dilarang." Linda mulai mengarang cerita.


Pelan-pelan Tajab beringsut ke dapur.


"Asih, buatkan aku kopi!" pinta Tajab pada Asih yang masih sibuk menata belanjaan di dapur.


"Siap Juragan....!" ledek Asih.


Tajab langsung pasang muka asem. Dia sudah malas mendengar ocehan Asih. Apalagi kalau Tania terus ikut-ikutan meledeknya.

__ADS_1


Asih membuatkan kopi pahit kesukaan Tajab.


"Mainnya sama yang ono, kenapa minta kopinya sama aku?" bisik Asih masih meledek Tajab.


"Udahlah, Asih. Jangan dibahas lagi." Tajab merasa sangat malu juga takut mereka buka suara.


Yahya ikut bergabung. Duduk di kursi depan Tajab.


"Kopiku mana, Bu?" tanya Yahya.


"Memangnya kamu minta kopi?" Asih balik bertanya.


"Ya udah. Sekarang aku minta kopi," sahut Yahya.


Dengan malas, Asih membuatkan kopi buat Yahya. Asih masih belum bisa menghilangkan kekesalannya pada Yahya.


"Nih!" Asih meletakan cangkir kopi di depan Yahya.


"Auwh. Panas," gumam Tajab yang menyeruput kopinya.


"Ya gantian sekarang minum yang panas-panas. Tadi kan udah minum yang dingin-dingin empuk." Asih kembali bersemangat meledek Tajab.


Tajab langsung melotot ke arah Asih. Asih bukannya takut dipelototin Tajab. Dia malah tertawa terpingkal-pingkal.


"Apaan itu dingin-dingin empuk, Bu?" tanya Yahya kepo.


Tajab sangat geram dengan Asih. Bukannya diam, malah semakin semangat meledeknya.


"Apa itu yang dingin-dingin empuk, Jab?" Yahya masih saja kepo.


"Mang Yahya enggak perlu tau. Nanti malah kepingin," sahut Tania sambil berjalan keluar dari dapur. Dia merasa capek. Mau masuk ke kamarnya.


Yahya makin penasaran. Dia mau tanya sama Tajab, orangnya malah keluar dari dapur dan menuju ke depan.


Asih juga malah masuk ke kamarnya sendiri. Yahya mengikutinya.


Blum!


Asih membanting pintu dengan keras.


Ceklek!


Akh! Yahya menepuk jidatnya. Asih malah mengunci pintunya dari dalam.


Yahya berbalik badan dan pergi ke halaman belakang. Dia mau leyeh-leyeh saja sambil menikmati pepohonan dari kebun belakang.


Tania berjalan melewati ruang tengah. Linda masih saja bermanja-manja pada Tono. Bersikap seolah dia istri yang sangat menurut.

__ADS_1


Tania terus saja berjalan. Tak mau terlalu lama melihat mereka.


Tania mau bersiap-siap, siapa tahu Rendi tiba-tiba menjemputnya. Sambil menunggu Rendi, Tania juga mau istirahat.


Tajab yang mau ke teras, melewati ruang tengah. Di sana dia melihat Linda lagi mencumbui Tono dengan buas.


Busyet. Ini wanita enggak ada puasnya amat? Batin Tajab.


Tadi sudah puas bermain di markas yang kebetulan sepi, sampai dua jam lebih.


Sebenarnya bukan kebetulan, tapi Tajab sengaja menyuruh dua anak buahnya mencuci mobil Tono di tempat cucian yang jauh tempatnya.


Alasan Tajab, hasilnya lebih bersih. Padahal itu akal-akalan Tajab biar bisa main dengan Linda tanpa diketahui mereka.


Setelah dua anak buahnya pergi, Tajab langsung mengunci pintu kios yang dijadikan markas oleh Tono. Lalu menerkam Linda yang sudah siap di atas kasur lantai yang sudah buluk.


Tanpa ada yang mengganggu, sesuai prediksi Tajab, mereka main sampai tiga ronde.


Permainan yang seimbang. Mereka sama-sama masih muda dan strong. Tak seperti Tono yang kadang cepat loyo kalau tidak mengkonsumsi obat kuat.


Linda mampu memuaskan Tajab yang memang haus bermain dengan wanita cantik. Selama ini yang sering Tajab pakai, hanya wanita-wanita murahan yang dia temui di tempat-tempat lokalisasi.


Ahk! Tajab mengedikan kepalanya. Lalu melanjutkan langkahnya ke teras. Menunggu perintah Tono selanjutnya.


"Beib...aku mau kamu memberikan aku kredit card. Atau kartu ATM kayak yang dipegang Tania," pinta Linda dengan manja. Sambil tangannya menggerayangi tubuh Tono.


"Buat apa? Kalau butuh sesuatu, kamu tinggal bilang saja. Kan pasti aku kasih," sahut Tono. Dia mulai merem melek menikmati sentuhan tangan Linda.


"Katanya kamu mau bersikap adil pada kami. Jadi kalau ngasih apa-apa harus adil, dong." Linda terus saja merayu Tono agar mau memberinya kartu debit.


"Iya, besok aku buatkan sendiri," sahut Tono.


"Kenapa harus besok? Sekarang kan bisa. Kartu ATM kamu kan banyak di dompet."


Diam-diam Linda sering menggeledah dompet Tono. Termasuk juga tas yang selalu dibawa Tono kemana-mana.


Tapi meskipun uang di tas Tono jumlahnya banyak sekali, Linda tak bisa mengambilnya. Karena selain uang itu sudah dihitung oleh Tono dengan sangat teliti, uang itu juga diikat pakai karet gelang.


"Itu kan ATM buat kerja. Buat keluar masuk uang," jawab Tono.


"Lha itu, kamu bisa ngasih ke Tania?" Linda mulai emosi dan menghentikan aksi gerayangannya.


"Itu ATM pribadi. Isinya uang untuk Rendi, anakku satu-satunya." Tono keceplosan.


"Kalau buat Rendi, kenapa kamu berikan pada Tania?" selidik Linda, meskipun dia sudah sedikit tahu soal Tania dan Rendi. Tapi Linda ingin dengar langsung dari Tono.


"Tania kan....Aduh!" Tono menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2