HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 255 SKAK MAT


__ADS_3

Monica sengaja tak mau menjatuhkan Tania di depan Eni. Biar mereka tetap fokus pada persoalan dirinya saja. Bukan pada Tania.


"Ooh. Kirain kalian udah pacaran lama," ucap Eni.


Sebagai wanita, Eni paling tidak suka ada wanita yang merusak hubungan orang lain. Apalagi dengan Tania. Eni tak mau kalau Tania dicap sebagai pelakor.


"Belum, Tante. Kami pacaran saat Rendi merasa syok karena kehilangan Tania. Waktu itu Tania malah menikah dengan papanya Rendi, kan?" Monica melirik tajam ke arah Tania.


Tania hanya bersikap biasa saja. Dia sudah beberapa kali ketemu Monica dan sikapnya tak pernah bersahabat dengannya.


Eni manggut-manggut. Dia ingat waktu itu Rendi sangat syok atas pernikahan Tania dengan Tono.


"Saat itu kami ketemu di satu tempat, Tante. Kebetulan dulu kami satu sekolah. Rendi adik kelas saya," cerita Monica.


"Ooh. Satu sekolah juga sama Tania dong?" tanya Eni.


Monica kembali melirik Tania. Pastinya iya. Tapi sayangnya Monica tak pernah kenal dengan Tania saat SMA.


Monica termasuk orang yang suka membatasi pergaulan dan memilih-milih teman. Dia hanya mau main dengan anak-anak orang kaya dan populer di sekolahan.


Padahal dirinya sendiri tidak populer.


Tania juga tak pernah kenal dengan Monica. Apalagi Monica adalah kakak kelasnya. Dan kurang ngetop juga.


"Mestinya iya, Tante. Tapi Tania waktu masih sekolah kan tidak populer seperti aku. Jadi mana aku kenal," jawab Monica. Terdengar sangat menyebalkan di telinga Tania.


"Iya. Kami memang melarang Tania untuk neko-neko. Sekolah ya sekolah. Sekolah itu buat belajar. Bukan buat bergaya," sahut Eni.


Skak mat buat Monica.


Meskipun Eni bukan tergolong orang yang berpendidikan, tapi dia juga tidak bodoh-bodoh amat.


Eni mendidik Tania agar pintar. Biar tak seperti dirinya yang hanya bisa mengenyam bangku sekolah sampai SMP.


Eni ingin Tania bisa sekolah yang tinggi. Meski pada kenyataannya, mereka hanya mampu menyekolahkan Tania hingga SMA. Satu tingkat di atas Eni.


"Ya setidaknya tidak kuper kan, Tante," sindir Monica.


Tania semakin gregetan mendengarnya. Tapi dia masih tetap diam. Kalau masalah debat serahkan saja pada Eni. Dia pasti tak bakalan mau kalah.


"Kayaknya Tania enggak kuper. Temennya di rumah aja banyak. Kalau di sekolah sih memang tak punya banyak teman," sahut Eni.


"Iya. Paling temennya tuh siapa yang kumpul kebo sama Dito itu?" Monica melirik ke arah Tania.

__ADS_1


"Mereka sudah menikah. Bukan kumpul kebo!" ucap Tania menjelaskan.


Tania tak rela sahabatnya dijelek-jelekan. Apalagi dituduh kumpul kebo.


"Ooh, udah menikah? Masih kuliah kok udah menikah." Monica yang memang tak suka dengan Mike, kembali berusaha menjatuhkan.


"Baguslah. Jadi enggak terjerumus dosa. Daripada masih kuliah, terus hamil di luar nikah?" Giliran Tania yang punya kesempatan menjatuhkan Monica.


Wajah Monica langsung merah padam.


Sialan! Dia menyerangku. Dan tepat sasaran juga. Awas aja kamu. Tak akan aku kasih kesempatan menemui Rendi. Apalagi memilikinya. Ancam Monica dalam hati.


"Iya tuh bener begitu. Mending menikah dulu aja. Biar enggak bunting duluan." Eni membenarkan omongan Tania.


"Aku juga maunya begitu. Tapi Rendi udah nyosor duluan. Katanya udah cinta mati banget sama aku," sahut Monica.


Monica mencoba memanas-manasi Tania yang dari tadi terlihat adem ayem saja.


Tania menahan tawanya. Mana ada Rendi cinta mati sama Monica.


Tania sangat percaya kalau cintanya Rendi hanya untuknya. Terbukti Rendi rela sampai jatuh dari pintu gerbang rumah Tono demi mendapatkannya.


Dan sekarang, hampir tiap hari Rendi datang menemuinya. Padahal kondisinya masih memprihatinkan. Apa lagi yang membuat Tania ragu pada Rendi?


Lalu Eni ingat kejadian saat ijab qobul Tania dengan Tono. Rendi malah membawa kabur Tania. Dan mereka...melakukan hal itu.


Sejenak Eni tercekat. Apa memang Rendi sukanya nyosor-nyosor begitu, ya? Dulu sama Tania. Sekarang sama Monica.


Hhh! Untung Tania enggak sampai hamil. Kalau masalah udah enggak perawan lagi mah, gampang. Toh, Tania juga udah pernah menikah resmi.


Jadi lelaki yang suatu saat akan menikahi, enggak akan mempermasalahkan.


"Udah, Tante. Tapi Rendinya maksa-maksa terus. Jadi ya akunya pasrah deh. Rendi juga janji bakalan tanggung jawab kalau sampai aku hamil," ucap Monica.


"Ya udah, kalau memang kamu hamilnya sama Rendi, ngapain kamu datengnya kesini? Aku kan bukan emaknya Rendi," tukas Eni.


"Aku cuma mau biar Tania tau. Jadi Tania tak lagi mengharapkan Rendi. Karena Rendi sebentar lagi akan menikahiku. Gitu Tante," ucap Monica dengan percaya diri.


"Ya udah, kamu sekarang ke rumahnya Rendi. Minta dia tanggung jawab. Nanti kalau mau menikah, jangan lupa kirim undangannya ke sini," ucap Tania.


Tania santai saja ngomong begitu, karena sangat yakin pada Rendi. Sedangkan Eni menatap Tania penuh tanda tanya.


"Terus kamu, gimana?" tanya Eni.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, Bi. Kita liat aja, nanti," jawab Tania.


Eni semakin bingung dengan sikap Tania. Bagaimana tidak, hubungan yang sudah sangat membaik dengan Rendi, tiba-tiba harus ambyar gara-gara Monica.


Sebenarnya Tania sudah memberikan kode pada Eni, dengan kedipan mata. Tapi sayangnya Eni tak bisa membaca kode dari Tania.


Eni semakin tenggelam dengan pikirannya sendiri. Yang telah dipengaruhi oleh Monica.


Tania masih berusaha tenang. Toh, nanti setelah Monica pergi, dia bisa menjelaskan semuanya pada Eni.


Monica pun tak kalah herannya. Harapannya Tania bakal syok, down bahkan kalau bisa pingsan.


Lah ini, marah aja enggak. Wajahnya datar-datar aja. Malah kadang menahan senyuman. Waras enggak sih, ini anak? Tanya Monica dalam hati.


"Masih ada yang mau disampaikan?" tanya Tania pada Monica.


Monica terkesiap mendengarnya. Monica merasa Tania seperti menantangnya.


Wajah Monica pun berubah geram.


"Aku mau bilang sama kamu. Mulai sekarang jangan pernah menemui Rendi lagi! Dan ingat!" Monica mencondongkan badannya ke arah Tania.


"Tak lama lagi Rendi akan menikahiku!" lanjut Monica.


"Aku enggak pernah mencari Rendi. Dia yang kesini mencariku," sahut Tania.


Bukannya Tania bermaksud memanas-manasi Monica. Tapi memang kenyataannya begitu.


"Itu karena kamu memanggilnya!" ucap Monica dengan nada keras.


"Aku enggak pernah manggil dia kesini. Dia datang atas kemauannya sendiri," sahut Tania.


"Ya udah, terserah kamu. Yang penting mulai sekarang, jangan pernah menemuinya lagi!" ucap Monica.


Tania menatap wajah Monica dengan tajam.


Apa hak kamu melarang aku menemui Rendi? Kalau soal kehamilanmu, kita buktikan aja nanti. Batin Tania.


"Heh! Jangan melarang-larang Tania menemui siapapun! Apalagi Rendi tamu yang sangat sopan! Kamu aja yang kayak begini, kita temui!" sentak Eni sambil kembali menelisik penampilan Monica.


Skak mat kembali untuk Monica.


Maunya menyudutkan Tania, malah dia sendiri yang kena.

__ADS_1


__ADS_2